Lebih dari 1 Juta Sarjana Menganggur, Akademisi Umsura: Jangan Semua Dibebankan pada Lulusan

Reporter : Saputra
Akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan. (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Tingginya jumlah sarjana yang belum terserap dunia kerja menjadi persoalan yang tidak bisa dilihat hanya dari sisi kemampuan individu. Persaingan mendapatkan pekerjaan, terbatasnya lapangan kerja berkualitas, serta ketimpangan akses terhadap jaringan dan kesempatan dinilai ikut menentukan nasib lulusan perguruan tinggi.

Akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, mengatakan fenomena lebih dari 1 juta sarjana menganggur menunjukkan adanya persoalan yang lebih luas di balik angka tersebut. Menurutnya, gelar akademik memang penting, tetapi tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Radius menjelaskan persoalan tersebut melalui konsep modal yang dikemukakan sosiolog Pierre Bourdieu. Ijazah, menurutnya, merupakan bentuk modal budaya yang memberikan pengakuan atas pendidikan seseorang, tetapi nilainya di pasar kerja sangat dipengaruhi oleh modal lain yang dimiliki individu.

“Ijazah itu modal budaya. Tetapi modal budaya tidak otomatis berubah menjadi modal ekonomi. Untuk mendapatkan pekerjaan, seseorang juga membutuhkan modal sosial,” ujar Radius, Minggu (16/8/2026).

Modal sosial tersebut dapat berupa jaringan pertemanan, relasi profesional, pengalaman kerja, akses informasi, hingga lingkungan yang memberikan dukungan kepada seseorang ketika memasuki pasar kerja. Karena akses terhadap modal sosial tidak dimiliki semua orang dalam kadar yang sama, lulusan dengan ijazah dan kompetensi serupa dapat menghadapi peluang kerja yang berbeda.

Dalam kondisi tertentu, seorang lulusan yang memiliki jaringan lebih luas bisa mendapatkan informasi dan akses terhadap kesempatan kerja lebih cepat. Sebaliknya, mereka yang hanya memiliki ijazah tanpa pengalaman, relasi, atau dukungan ekonomi dapat menghadapi hambatan lebih besar meskipun memiliki latar belakang pendidikan yang sama.

Persoalan tersebut kemudian bertemu dengan kondisi struktur ekonomi nasional yang juga menghadapi tantangan. Radius menilai perubahan struktur ekonomi dan kecenderungan deindustrialisasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika membahas sulitnya lulusan perguruan tinggi memperoleh pekerjaan.

Menurutnya, pertumbuhan investasi tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan lapangan kerja. Investasi pada sektor-sektor yang membutuhkan modal besar dapat menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi, tetapi belum tentu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Ketika pekerjaan berkualitas tidak tumbuh sebanding dengan jumlah tenaga kerja terdidik, modal pendidikan semakin sulit dikonversikan menjadi modal ekonomi,” jelasnya.

Situasi tersebut membuat lulusan perguruan tinggi harus menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif. Di satu sisi, jumlah orang yang memiliki pendidikan tinggi terus bertambah, sementara di sisi lain ketersediaan pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan kompetensi mereka tidak selalu tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang sama sekali belum mendapatkan pekerjaan. Sebagian lulusan juga berpotensi masuk ke pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang pendidikan, berada pada posisi dengan tingkat keterampilan di bawah kualifikasinya, atau bekerja dengan kondisi yang belum memberikan kepastian ekonomi.

Karena itu, Radius menilai penyelesaian persoalan pengangguran sarjana membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Peningkatan kualitas pendidikan dan kompetensi lulusan tetap diperlukan, tetapi harus berjalan bersama dengan kebijakan penciptaan lapangan kerja dan penguatan sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja terdidik.

Ia juga meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa tingginya angka pengangguran sarjana merupakan bukti kegagalan lulusan dalam mempersiapkan diri. Penilaian semacam itu dinilai dapat mengabaikan persoalan ketimpangan kesempatan dan kondisi pasar kerja yang dihadapi oleh para lulusan.

“Jangan melihat sarjana menganggur semata sebagai kegagalan individu. Ini juga persoalan struktur sosial,” pungkas Radius.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru