Paluta, MEMANGGIL.CO - Petani di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) mendapat peluang baru untuk memperkuat modal usaha. Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara bersama Bank Sumut memperkenalkan skema pembiayaan pertanian yang menawarkan Kredit YARNEN atau “Bayar Saat Panen” dengan bunga 0 persen hingga Desember 2026.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengatasi persoalan modal petani. Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara juga mendorong agar hasil produksi pertanian nantinya dapat masuk dalam rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga petani tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga memiliki peluang pasar yang lebih jelas.
Baca juga: Cara Cek Desil DTSEN Lewat HP, Cukup Siapkan NIK dan Ikuti Langkah Berikut
Wakil Bupati Padang Lawas Utara, H. Basri Harahap, membuka langsung sosialisasi pemberian kredit sektor pertanian kepada kelompok tani di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Lantai I, Kamis (20/8/2026). Forum tersebut menjadi titik temu antara pemerintah daerah, perbankan, penyuluh pertanian, aparat kewilayahan, dan kelompok tani untuk membahas penguatan usaha pertanian dari sisi permodalan hingga pemasaran.
Basri menilai persoalan modal masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani ketika hendak meningkatkan produksi. Kebutuhan biaya muncul sejak awal proses budidaya, sementara pemasukan dari usaha tani umumnya baru diterima ketika hasil panen telah diperoleh.
Karena itu, ia menilai skema kredit yang menyesuaikan siklus pertanian memiliki arti penting bagi petani. Pola pembayaran saat panen dinilai lebih sesuai dengan karakter usaha tani dibandingkan kewajiban pembayaran yang tidak memperhitungkan siklus produksi.
“Melalui sosialisasi ini, kami berharap para kelompok tani dapat memanfaatkan program pembiayaan secara optimal untuk mengembangkan usaha pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan,” ujar Basri Harahap.
Basri juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Sumut atas dukungannya terhadap pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Padang Lawas Utara. Menurutnya, keberadaan akses pembiayaan yang mudah, cepat, dan terjangkau dapat menjadi salah satu pengungkit bagi petani untuk meningkatkan kapasitas usahanya.
Namun, pemerintah daerah tidak ingin pembiayaan berhenti sebatas persoalan mendapatkan modal. Kredit yang diterima petani harus mampu mendorong kegiatan produktif sehingga berdampak terhadap peningkatan hasil pertanian dan pendapatan keluarga petani.
Karena itu, pemanfaatan kredit harus dilakukan secara terukur sesuai kebutuhan usaha. Kelompok tani diharapkan mampu menghitung kebutuhan modal, mengelola pembiayaan secara disiplin, dan memastikan dana yang diperoleh benar-benar digunakan untuk meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, Pemkab Padang Lawas Utara mulai membidik program MBG sebagai salah satu peluang penyerapan hasil pertanian lokal. Basri berharap produksi petani di daerah tersebut nantinya dapat menjadi bagian dari kebutuhan pangan dalam pelaksanaan program tersebut.
Menurut Basri, apabila hasil pertanian lokal mampu terserap dalam program MBG, petani akan memiliki peluang memperoleh pasar yang lebih pasti. Kondisi tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap pendapatan sekaligus mendorong petani meningkatkan produksi.
Gagasan tersebut membuat program pembiayaan pertanian tidak berdiri sendiri. Modal dari perbankan diharapkan mendorong peningkatan produksi, sedangkan kebutuhan pangan MBG diharapkan menjadi salah satu jalur penyerapan hasil panen.
Dengan pola tersebut, pemerintah daerah berupaya membangun rantai ekonomi pertanian yang lebih terhubung. Petani mendapatkan modal untuk berproduksi, hasil pertanian memperoleh peluang pasar, sementara kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi dari produksi lokal.
Dalam sosialisasi tersebut, Bank Sumut memaparkan sejumlah skema pembiayaan pertanian beserta persyaratan dan mekanisme pengajuannya. Penjelasan juga mencakup manfaat fasilitas kredit bagi pelaku usaha tani serta pola pembayaran yang disesuaikan dengan karakter usaha pertanian.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Kredit YARNEN atau Bayar Saat Panen. Sesuai namanya, skema tersebut memberikan pola pembayaran yang dilakukan ketika petani memasuki masa panen atau sesuai waktu jatuh tempo pembiayaan.
Baca juga: Profil Rektor Unsoed Akhmad Sodiq yang Terjaring OTT KPK, Karier Akademik hingga Harta Kekayaan
Program Kredit YARNEN tersebut menawarkan bunga 0 persen hingga Desember 2026. Bagi petani yang membutuhkan tambahan modal pada awal masa tanam, skema tersebut dapat menjadi alternatif untuk menjaga arus kas usaha hingga hasil pertanian diperoleh.
Skema tersebut sekaligus menjawab salah satu persoalan yang kerap dihadapi petani, yakni ketidaksesuaian antara waktu pengeluaran dan waktu penerimaan. Petani membutuhkan biaya ketika proses produksi baru dimulai, sedangkan pendapatan baru tersedia setelah komoditas memasuki masa panen.
Meski demikian, kemudahan kredit tetap harus diimbangi dengan pengelolaan usaha yang sehat. Pembiayaan bukan sekadar dana tambahan, tetapi merupakan kewajiban yang harus dikelola secara bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi beban bagi petani.
Basri juga menekankan pentingnya peningkatan produktivitas pertanian sebagai tujuan utama program tersebut. Menurutnya, semakin produktif usaha tani, semakin besar pula peluang peningkatan pendapatan masyarakat dan penguatan ketahanan pangan daerah.
Dalam konteks itu, peran penyuluh pertanian menjadi penting untuk memastikan petani tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga memiliki pengetahuan dan pendampingan dalam mengelola usaha. Sinergi antara pemerintah, perbankan, penyuluh, dan kelompok tani menjadi faktor penting agar program pembiayaan memberikan hasil nyata.
Penguatan sektor pertanian juga dinilai tidak cukup jika hanya berbicara mengenai produksi. Persoalan setelah panen, terutama distribusi dan pemasaran, harus ikut dipikirkan sejak awal agar peningkatan produksi benar-benar memberikan nilai ekonomi bagi petani.
Rencana menghubungkan hasil pertanian lokal dengan kebutuhan MBG menjadi salah satu upaya untuk menjawab persoalan tersebut. Jika dapat berjalan secara konsisten, program tersebut berpotensi membuka pasar bagi komoditas lokal sekaligus menciptakan perputaran ekonomi di daerah.
Dengan demikian, petani tidak hanya didorong untuk menanam dan menghasilkan komoditas. Mereka juga diarahkan menjadi bagian dari ekosistem pangan daerah yang memiliki hubungan antara pembiayaan, produksi, distribusi, dan konsumsi.
Baca juga: Kecanduan Slot Higgs Games Island, Warga Surabaya Divonis 1 Tahun Penjara
Pemkab Padang Lawas Utara berharap kelompok tani memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik. Pemerintah daerah ingin akses kredit benar-benar digunakan untuk memperbesar kapasitas usaha, meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki kesejahteraan petani.
Sosialisasi tersebut turut dihadiri Pimpinan Bank Sumut KCP Gunungtua, Asisten II, staf ahli, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas PUPR, Babinsa, Koordinator Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian, para camat, serta perwakilan kelompok tani dari berbagai kecamatan di Kabupaten Padang Lawas Utara.
Kehadiran lintas sektor tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pertanian membutuhkan kolaborasi yang lebih luas. Perbankan berperan membuka akses modal, pemerintah menyiapkan dukungan kebijakan, penyuluh memberikan pendampingan, sedangkan petani menjadi pelaku utama dalam meningkatkan produksi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan program yang diperkenalkan tidak berhenti pada sosialisasi. Pemerintah daerah perlu memastikan akses pembiayaan benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan dan digunakan untuk kegiatan produktif.
Di saat yang sama, peluang penyerapan hasil pertanian melalui MBG juga membutuhkan mekanisme yang jelas agar petani memperoleh manfaat secara nyata. Kepastian pasar harus berjalan beriringan dengan peningkatan produksi sehingga petani tidak kembali menghadapi persoalan ketika masa panen tiba.
Jika pembiayaan dan pasar dapat berjalan dalam satu ekosistem, sektor pertanian Paluta memiliki peluang untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah. Modal yang lebih ringan dapat mendorong produksi, sementara pasar yang lebih terarah dapat memberikan kepastian bagi petani.
Pada akhirnya, program ini menempatkan petani bukan hanya sebagai penerima fasilitas kredit, tetapi sebagai pelaku utama dalam penguatan ketahanan pangan daerah. Pemkab Paluta berharap sinergi dengan Bank Sumut dapat menjadi langkah awal untuk membangun pertanian yang lebih produktif, memiliki akses modal, dan terhubung dengan kebutuhan pangan masyarakat.
Editor : Redaksi