Lesung Jumengglung Bergema di Karnaval HUT ke-81 RI, Desa Prantaan Kenalkan Potensi dan Budaya Lokal

Reporter : Nur Laili Khoirunnisa
KKN STAIM BLORA. (Ist)

Blora, MEMANGGIL.CO – Dentuman lesung terdengar di tengah riuhnya karnaval peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Senin (24/8/2026).

Bukan sekadar suara dari alat tradisional untuk menumbuk padi, irama Lesung Jumengglung yang dimainkan warga Desa Prantaan seolah membawa kembali ingatan pada kehidupan masyarakat masa lalu.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi itu kembali hadir dan menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan.

Belasan peserta dari berbagai desa se-Kecamatan Bogorejo ambil bagian dalam karnaval dengan menampilkan kreativitas, potensi desa, serta kekayaan budaya lokal.

Desa Prantaan memilih membawa hasil bumi sekaligus kesenian tradisional Lesung Jumengglung sebagai identitas yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat.

Di balik penampilan tersebut, ada semangat gotong royong yang menyatukan warga, pemuda, pemerintah desa, hingga mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAI Muhammadiyah Blora yang tengah mengabdi di Desa Prantaan.

Mahasiswa KKN Membaur Bersama Warga

Mahasiswa KKN tidak sekadar hadir sebagai peserta karnaval. Mereka turut membaur bersama masyarakat dan Karang Taruna Desa Prantaan sejak tahap persiapan.

Sebelum rombongan berangkat mengikuti karnaval, mahasiswa bersama pemuda dan warga bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan.

Mulai dari membuat gunungan hasil bumi, menata perlengkapan, hingga memastikan seluruh persiapan berjalan dengan baik.

Tidak ada sekat antara mahasiswa dan masyarakat. Semua bekerja dalam satu tujuan, yakni menyukseskan perayaan kemerdekaan sekaligus membawa nama Desa Prantaan dalam karnaval tingkat Kecamatan Bogorejo.

Bagi mahasiswa KKN, suasana tersebut memberikan pengalaman tersendiri.

Mereka menemukan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi juga tentang hadir, membantu, dan menjadi bagian dari kehidupan warga.

Ketika Lesung Kembali Bertabuh

Tahun ini, Desa Prantaan mengangkat potensi hasil bumi dan kesenian tradisional Lesung Jumengglung.

Lesung yang dahulu digunakan masyarakat untuk menumbuk padi kembali dimainkan. Tabuhan khasnya menjadi simbol bahwa tradisi yang lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Dentuman lesung berpadu dengan suasana karnaval. Irama tradisional itu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang memadati sepanjang rute.

Bagi masyarakat Desa Prantaan, Lesung Jumengglung bukan hanya pertunjukan untuk memeriahkan karnaval.

Di balik suara yang dihasilkan, tersimpan identitas dan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Desa Prantaan, Nyono, mengatakan penampilan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian masyarakat untuk menjaga budaya lokal agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Ini adalah bentuk kepedulian kami untuk melestarikan budaya yang ada di Desa Prantaan. Jangan sampai budaya yang menjadi identitas desa ini hilang. Harapannya, generasi muda tetap mengenal, mencintai, dan mau meneruskannya,” ujarnya.

Belajar dari Tradisi dan Gotong Royong

Keterlibatan mahasiswa KKN dalam karnaval tersebut menjadi pengalaman yang tidak diperoleh hanya dari bangku kuliah.

Mereka belajar langsung bagaimana masyarakat menjaga tradisi sekaligus membangun kebersamaan.

Gotong royong yang dilakukan sejak persiapan hingga pelaksanaan menjadi pelajaran tentang bagaimana sebuah kegiatan dapat berjalan ketika setiap orang bersedia mengambil peran.

Koordinator KKN STAI Muhammadiyah Blora, Awaludin Syarif H, berharap pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh mahasiswa yang mengikuti program pengabdian.

“Kami senang bisa ikut terlibat bersama masyarakat. Dari kegiatan ini kami belajar bahwa budaya bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi juga harus dijaga. Semoga pengalaman di Desa Prantaan ini menambah pengetahuan teman-teman KKN tentang pentingnya melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa,” katanya.

Merawat Identitas di Tengah Perubahan Zaman

Karnaval HUT ke-81 RI di Kecamatan Bogorejo akhirnya bukan hanya menjadi ajang memeriahkan hari kemerdekaan.

Bagi Desa Prantaan, karnaval menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi desa sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya masih hidup dan mendapat tempat di tengah masyarakat.

Gunungan hasil bumi menjadi gambaran potensi dan hasil kerja masyarakat desa. Sementara dentuman Lesung Jumengglung menjadi suara yang membawa pesan tentang pentingnya merawat identitas.

Di tengah arus modernisasi, tradisi mungkin tidak lagi menjadi bagian dari keseharian seperti dahulu.

Namun, ketika masyarakat kembali memainkannya dan generasi muda ikut terlibat, tradisi itu menemukan ruang untuk terus hidup.

Kebersamaan masyarakat, Karang Taruna, pemerintah desa, dan mahasiswa KKN pun menjadi kekuatan tersendiri.

Dari Desa Prantaan, semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui kemeriahan karnaval. Ia juga diwujudkan dengan menjaga apa yang diwariskan para leluhur.

Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang memastikan identitas dan budaya bangsa tetap hidup untuk generasi yang akan datang. (Privita Enggar M.)

Editor : Abdul Rohman

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru