Hidup Sebatang Kara di Rumah 2×3 Meter, Kisah Mbah Sumi Menggerakkan Kepedulian Warga hingga Pemkab Blora

Reporter : Teguh
Wakil Bupati Blora Sri Setyorini saat berkunjung di kediaman Mbah Sumi Warga Desa Jurangjero Kecamatan Bogorejo. (TGH)

Blora, MEMANGGIL.CODi sebuah sudut Desa Jurangjero, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kehidupan berjalan begitu sederhana. Namun, di balik kesunyian itu, ada kisah seorang lansia yang selama bertahun-tahun menjalani hidup nyaris tanpa siapa-siapa.

Namanya Mbah Sumi, perempuan berusia sekitar 70 tahun yang hidup sebatang kara.

Hari-harinya dilalui dengan mengandalkan uluran tangan orang-orang di sekitarnya. Sedikit rezeki yang diberikan kepadanya menjadi penopang kehidupan.

Bagi Mbah Sumi, pemberian itu bukan sekadar bantuan, melainkan rezeki Tuhan yang datang melalui tangan sesama.

Ia tinggal di sebuah bangunan kecil yang jauh dari kata layak untuk disebut rumah.

Bangunan berukuran sekitar 2×3 meter itu hanya beralaskan tanah. Dindingnya terbuat dari kayu yang telah lapuk, dengan celah-celah yang membuat angin mudah masuk.

Penerangan di dalam rumah pun sangat minim, membuat ruangan tersebut selalu tampak remang-remang.

Di salah satu sudut, tempat tidur Mbah Sumi bercampur dengan tumpukan kayu bakar. Barang-barang sederhana miliknya berada dalam ruang yang serba terbatas.

Pakaian yang dikenakan pun tampak lusuh. Kondisi fisiknya yang sudah lanjut usia membuat Mbah Sumi tidak lagi mudah melakukan berbagai aktivitas seorang diri, termasuk merawat dirinya.

Kisah pilu tersebut perlahan terungkap ketika warga sekitar mengetahui adanya kegiatan sosial yang digelar Media Peduli.

Seorang tetangga yang mengetahui kondisi Mbah Sumi kemudian berinisiatif menghubungi salah satu anggota rombongan. Ia memohon agar Mbah Sumi juga mendapatkan bantuan sembako.

"Teguh kei sembako 1 paket a. Desa Jurangjero 01/03 Bogorejo Blora, sangat memprihatinkan hidup sebatang kara fisiknya yo gak sempurna," tulis Nina melalui pesan WhatsApp setelah mengetahui unggahan anggota Media Peduli, Kamis (27/8/2026).

Bukan hanya meminta bantuan, Nina juga mengirimkan video kondisi Mbah Sumi.

Dalam video tersebut, terlihat bagaimana Mbah Sumi menjalani kesehariannya dengan segala keterbatasan. Bahkan, diceritakan bahwa Mbah Sumi pernah merendam butiran beras sebelum kemudian memakannya.

Cerita itu membuat siapa pun yang mendengarnya sulit menahan rasa iba.

Video tersebut kemudian diteruskan oleh tim Media Peduli kepada salah satu petinggi Polres Blora dan ketua tim Media Peduli. Dari sanalah kepedulian semakin meluas.

Setelah mendapatkan informasi mengenai kondisi Mbah Sumi, salah satu petinggi kepolisian di Blora kemudian menitipkan rezeki untuk disalurkan kepada lansia tersebut.

Tim Media Peduli Bergerak.

Pada Jumat (28/8/2026), mereka mendatangi kediaman Mbah Sumi dengan membawa sejumlah sembako untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Namun, kedatangan itu bukan sekadar membawa bantuan.

Di rumah kecil tersebut, sejumlah anggota tim yang melihat langsung kondisi Mbah Sumi bahkan tak kuasa menahan air mata.

Di tengah keterbatasan dan kesendirian, Mbah Sumi ternyata masih berusaha bertahan menjalani kehidupan.

Saat tim berada di lokasi, seseorang yang mengaku sebagai keponakan Mbah Sumi turut memberikan penjelasan.

Menurutnya, sebelum tinggal di bangunan kecil tersebut, Mbah Sumi sempat tinggal serumah bersama keponakannya.

Namun, Mbah Sumi disebut memilih tinggal sendiri di bagian belakang rumah.

Pertemuan tersebut kemudian menjadi awal dari langkah yang lebih panjang.

Tim Media Peduli tidak ingin kisah Mbah Sumi berhenti hanya pada pemberian sembako. Setelah kunjungan itu, mereka bermusyawarah dan sepakat untuk menindaklanjuti kondisi Mbah Sumi kepada pemerintah daerah.

Sejumlah pihak kemudian dihubungi, mulai dari Wakil Bupati Blora Sri Setyorini, Dinas Sosial, Baznas Blora, Dindukcapil, PMI Kabupaten Blora, hingga pemerintah desa.

Gayung Bersambut.

Senin (31/8/2026), Wakil Bupati Blora Sri Setyorini turun langsung ke kediaman Mbah Sumi. Ia datang bersama Dinsos Blora, Baznas Blora, PMI, Dindukcapil, pihak Kecamatan Bogorejo, Puskesmas Bogorejo, serta perangkat desa.

Kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap warga rentan tidak cukup berhenti pada bantuan sesaat. Ada kebutuhan yang lebih mendasar yang harus dipastikan negara hadir untuk memenuhinya.

Sri Setyorini mengatakan, pemerintah daerah akan memastikan hak-hak dasar masyarakat rentan tetap terpenuhi, terutama terkait administrasi kependudukan dan akses layanan kesehatan.

“Kami ucapkan terima kasih atas kepedulian media terhadap warga Blora yang belum terjangkau. Hari ini kami langsung turun memberikan bantuan dan memastikan administrasi kependudukan serta layanan kesehatan mereka terpenuhi,” ujar Sri Setyorini yang akrab disapa Budhe Rini.

Kisah Mbah Sumi menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan, masih ada warga yang hidup dalam sunyi dan luput dari perhatian.

Rumah berukuran 2×3 meter itu mungkin kecil bagi sebagian orang. Namun, di sanalah Mbah Sumi menggantungkan hidupnya.

Dan dari rumah kecil itu pula, kepedulian tumbuh.

Berawal dari cerita seorang tetangga, diteruskan melalui tangan Media Peduli, hingga akhirnya mengetuk pintu pemerintah daerah.

Sebab, membantu bukan hanya tentang seberapa besar yang diberikan. Terkadang, kepedulian bermula dari satu hal sederhana yakni mau melihat, mau mendengar, dan tidak membiarkan mereka yang lemah menghadapi hidup seorang diri.

Editor : Abdul Rohman

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru