Blora, MEMANGGIL.CO - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blora kembali jadi perhatian. Setelah ratusan siswa dan penerima manfaat mengalami tumbang usai menyantap makanan MBG dari SPPG Sukorejo 2, kini muncul pamflet digital yang menyerukan agar pemberian MBG kepada pelajar dihentikan saja.
Pamflet tersebut beredar di tengah polemik kasus siswa yang tumbang setelah menyantap makanan MBG. Isinya secara terang-terangan mengajak murid SD, SMP, SMA dan sederajat untuk menolak pemberian makanan MBG.
Tulisan berukuran besar “TOLAK PEMBERIAN MBG” menjadi seruan pesan utama dalam pamflet tersebut. Di bawahnya terdapat kalimat bernada peringatan, “Sewaktu-waktu bisa meracuni kalian.”
Tak hanya menyasar siswa, pamflet itu juga mengirim pesan keras kepada orang tua. Mereka diminta tidak membiarkan anak-anak menjadi korban berikutnya dan mengutamakan keselamatan serta kesehatan.
“Sayangi anak Anda dengan masakan Anda sendiri,” demikian tertulis dalam kalimat yang tercantum dalam pamflet tersebut.
Munculnya pamflet ini dipakai story WhatsApp banyak orang dan tentunya menambah panjang daftar persoalan yang mengikuti kasus MBG di Blora. Sebelumnya, ratusan penerima manfaat dari SPPG Sukorejo 2 dilaporkan tumbang setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam program tersebut.
Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian serius karena menyangkut makanan yang dikonsumsi anak-anak sekolah. Persoalan keamanan pangan pun menjadi sorotan, termasuk bagaimana makanan diproduksi, disimpan, dikemas dan didistribusikan sebelum diterima siswa.
Mahasiswa Untag Semarang Bawa Kasus MBG di Blora ke Polisi
Polemik tersebut juga telah dibawa ke ranah hukum oleh Rival Alfian Esa Saputra, mahasiswa Magister Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang.
Rival melaporkan pengelola SPPG Sukorejo 2 ke Polres Blora setelah muncul kasus ratusan penerima manfaat yang mengalami keluhan kesehatan. Ia meminta persoalan tersebut tidak berhenti pada sanksi administratif apabila dalam proses penyelidikan ditemukan adanya unsur pidana.
“Jangan hanya ditutup. Kalau memang ada perbuatan melawan hukum yang terbukti menyebabkan anak-anak sakit, harus ada pertanggungjawaban pidana," ujar Rival, diberitakan Memanggil.co sebelumnya.
Menurutnya, pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh. Bukan hanya terhadap dapur penyedia makanan, tetapi juga seluruh proses yang berkaitan dengan penyediaan hingga makanan tersebut dikonsumsi penerima manfaat.
“Sanksi administratif saja tidak cukup untuk memberikan efek jera,” tegas Rival.
Rival juga meminta aparat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh bukti diperiksa. Menurutnya, proses hukum harus berjalan berdasarkan hasil penyelidikan, pemeriksaan saksi, bukti medis maupun sampel makanan.
Ia menegaskan laporan tersebut bukan bentuk vonis kepada pihak tertentu. Namun, apabila nantinya ditemukan adanya pelanggaran yang menyebabkan siswa sakit, pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum.
Kasus ini sekaligus menjadi ujian bagi penyelenggaraan MBG di Blora. Program yang ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah tersebut membutuhkan jaminan bahwa makanan yang dibagikan bukan hanya bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi.
Beredarnya pamflet "Tolak MBG" menunjukkan bahwa kasus siswa tumbang telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Narasi dalam pamflet tersebut memang tidak bisa dijadikan bukti bahwa seluruh makanan MBG berbahaya, tetapi kemunculannya menjadi gambaran kuat mengenai kekhawatiran orang tua dan masyarakat.
Oleh karena itu, penyelesaian kasus tidak cukup hanya dengan meredam polemik. Pemeriksaan menyeluruh terhadap dugaan penyebab siswa tumbang serta transparansi hasil evaluasi menjadi penting untuk menjawab keresahan publik.
Terlebih, makanan tersebut dikonsumsi anak-anak dalam jumlah besar. Setiap persoalan pada satu rantai penyediaan makanan berpotensi berdampak luas apabila tidak segera ditemukan dan diperbaiki.
Publik menunggu bagaimana proses penanganan kasus SPPG Sukorejo 2 berjalan. Di tengah pamflet penolakan yang mulai beredar dan laporan Rival ke kepolisian, pertanyaan besarnya adalah siapa yang harus bertanggung jawab jika terbukti ada kelalaian yang menyebabkan siswa tumbang setelah menyantap MBG?
Editor : Redaksi