Rembang, MEMANGGIL.CO - Warisan para masyayikh Lasem dinilai tidak cukup hanya dikenang melalui nama besar maupun hubungan nasab. Generasi muda justru didorong mengambil peran lebih jauh dengan meneruskan ilmu, khidmah, dan perjuangan yang telah ditanamkan para ulama terdahulu.
Pesan itu disampaikan Gus Arwani Thomafi saat menghadiri Haul KH Abdullah bin Umar di Lasem, Kabupaten Rembang, Jumat (11/9/2026) siang. Ia menilai momentum haul seharusnya tidak berhenti pada kegiatan mengenang tokoh, tetapi menjadi ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan para masyayikh.
Menurut Gus Arwani, ukuran keberlanjutan warisan ulama bukan semata-mata siapa yang memiliki hubungan keluarga dengan seorang kiai. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang pernah dipelajari dan diamalkan para masyayikh dapat diteruskan oleh generasi setelahnya.
“Yang penting itu bagaimana ilmu yang sudah diamalkan dan diwariskan oleh para masyayikh bisa kita teruskan,” ujar Gus Arwani.
Ia menilai tradisi keilmuan yang berkembang di Lasem memiliki akar sejarah panjang. Dari kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat pesantren dan tradisi Islam di pesisir utara Jawa itu, lahir serta berkembang tokoh-tokoh ulama yang memiliki pengaruh luas di tengah masyarakat.
Gus Arwani mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan sejarah ulama hanya sebagai cerita masa lalu. Jejak perjuangan para masyayikh, menurut dia, harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata sesuai kebutuhan zaman.
Ilmu yang diwariskan para ulama, lanjutnya, memiliki makna ketika diamalkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Begitu pula khidmah dan perjuangan tidak seharusnya berhenti sebagai kisah yang diceritakan dalam forum-forum haul.
“Jadi saya berharap para generasi muda, mereka semua eksis itu karena ilmu, karena khidmah, karena perjuangan,” katanya.
Gus Arwani menegaskan tentang pentingnya menjaga kesinambungan perjuangan tersebut. Menurutnya, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanggengkan sekaligus menyebarluaskan kembali semangat pengabdian para masyayikh.
“Oleh karena itu kewajiban bagi kita untuk melanggengkan, untuk mensyiarkan lagi khidmah dan perjuangan beliau-beliau ini,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam Haul KH Abdullah bin Umar. Peringatan haul tidak hanya menjadi kesempatan untuk mendoakan dan mengenang ulama, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keberadaan generasi penerus sangat menentukan apakah warisan keilmuan itu tetap hidup atau perlahan berhenti.
Lebih lanjut, Gus Arwani berharap generasi muda Lasem dan sekitarnya mampu melihat para masyayikh bukan hanya dari sisi ketokohan dan nasab. Keteladanan mereka, kata dia, harus diterjemahkan melalui semangat belajar, mengabdi, serta berjuang untuk kepentingan masyarakat.
Dengan cara itu, tradisi keilmuan Lasem tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah. Nilai-nilai yang dibangun para ulama terdahulu tetap dapat hidup, berkembang, dan menemukan bentuk baru di tengah generasi muda.
Haul KH Abdullah bin Umar pun menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa warisan seorang ulama tidak hanya terletak pada nama yang terus disebut. Warisan itu akan benar-benar hidup ketika ilmu, khidmah, dan perjuangannya diteruskan oleh generasi berikutnya.
Editor : Redaksi