Lasem dan Jejak Panjang Para Ulama, Gus Arwani Sebut Nama Masyayikh hingga Pendiri NU

Reporter : Redaksi
Halaqoh Nahdliyyah dalam rangka Haul KH Abdullah bin Umar di Graha Avicena Lasem, Rembang, Jumat (11/9/2026) siang. (Istimewa)

Rembang, MEMANGGIL.CO - Lasem tidak hanya dikenal sebagai kawasan dengan tradisi pesantren yang kuat, tetapi juga memiliki jejak panjang dalam perkembangan keilmuan Islam dan perjalanan Nahdlatul Ulama (NU). Sejumlah nama ulama besar disebut memiliki keterkaitan dengan kawasan Lasem dan tradisi keilmuan yang tumbuh di wilayah tersebut.

Hal itu disampaikan Gus Arwani Thomafi dalam Haul KH Abdullah bin Umar di Lasem, Rembang, Jumat (11/9/2026) siang. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, kembali melihat Lasem sebagai bagian penting dari mata rantai sejarah keilmuan Islam di Jawa.

Dalam pandangannya, sejarah Lasem tidak dapat dilepaskan dari peran para masyayikh yang membangun tradisi pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengaruh mereka kemudian berkembang jauh melampaui lingkungan pesantren dan daerah asalnya.

Gus Arwani menyebut sejumlah nama yang memiliki keterkaitan dengan Lasem. Di antaranya KH Maksum, KH Hasyim Asy’ari, KH Ali Maksum, KH Ahmad Siddiq, hingga KH Mahfudz Siddiq.

“Lasem ini sampai para pendiri Nahdlatul Ulama, Mbah Maksum, Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Ali Maksum, Mbah Ahmad Siddiq, Mbah Mahfudz Siddiq, banyak dari Lasem,” kata Gus Arwani.

Halaqoh Nahdliyyah dalam rangka Haul KH Abdullah bin Umar di Graha Avicena Lasem, Rembang, Jumat (11/9/2026) siang. (Istimewa)

Menurutnya, deretan nama tersebut menunjukkan bahwa Lasem memiliki posisi penting dalam perjalanan tradisi keilmuan dan perjuangan umat. Jejak para ulama tersebut juga memperlihatkan bagaimana jaringan pesantren dan keilmuan pada masa lalu mampu melahirkan tokoh yang kemudian memiliki pengaruh luas.

Namun, Gus Arwani mengingatkan agar sejarah tersebut tidak hanya berhenti pada kegiatan mengenang tokoh. Generasi penerus harus mampu mengambil nilai yang lebih substantif dari perjalanan para masyayikh.

Sebab, menurut dia, kekuatan utama para ulama bukan hanya terletak pada nama besar atau hubungan nasab. Ilmu yang diamalkan, khidmah kepada masyarakat, serta perjuangan yang dilakukan untuk umat merupakan warisan yang jauh lebih penting untuk diteruskan.

“Yang penting itu bagaimana ilmu yang sudah diamalkan dan diwariskan oleh para masyayikh bisa kita teruskan,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi generasi muda Lasem. Mereka diharapkan tidak hanya bangga terhadap sejarah daerah dan para tokoh yang pernah hidup di dalamnya, tetapi juga mampu melanjutkan tradisi belajar dan pengabdian dalam konteks kehidupan saat ini.

Gus Arwani menilai keberadaan generasi muda sangat penting untuk menjaga agar mata rantai keilmuan tersebut tidak terputus. Semangat para masyayikh harus terus disyiarkan sehingga tetap relevan bagi masyarakat di tengah perubahan zaman.

“Jadi saya berharap para generasi muda, mereka semua eksis itu karena ilmu, karena khidmah, karena perjuangan,” tuturnya.

Ia kemudian mengajak generasi penerus untuk melanggengkan sekaligus mensyiarkan kembali khidmah dan perjuangan para ulama terdahulu. Menurutnya, tugas tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab generasi sekarang terhadap warisan keilmuan yang telah dibangun para masyayikh.

“Oleh karena itu kewajiban bagi kita untuk melanggengkan, untuk mensyiarkan lagi khidmah dan perjuangan beliau-beliau ini,” kata Gus Arwani.

Dengan demikian, sejarah Lasem tidak sekadar menjadi catatan tentang masa lalu. Jejak para masyayikh dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi sekarang untuk membangun tradisi keilmuan, memperkuat pengabdian, dan menjaga keberlanjutan perjuangan umat.

Haul KH Abdullah bin Umar menjadi salah satu momentum untuk membuka kembali ingatan terhadap warisan tersebut. Dari Lasem, pesan tentang pentingnya ilmu, khidmah, dan perjuangan kembali ditegaskan agar tidak berhenti sebagai cerita, tetapi terus hidup melalui generasi penerus.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru