Jakarta, MEMANGGIL.CO - Modernisasi KRI Sriwijaya memasuki tahap baru setelah PT PAL Indonesia (Persero) menggandeng Fincantieri S.p.A., galangan kapal asal Italia yang merupakan pembangun asli kapal tersebut saat masih bernama ITS Giuseppe Garibaldi.

Kerja sama kedua perusahaan ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) kerangka kerja refurbishment dan modernisasi KRI Sriwijaya di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Kesepakatan ini menjadi pijakan awal bagi PT PAL dan Fincantieri untuk menentukan pembagian tanggung jawab sekaligus lingkup pekerjaan dalam proyek modernisasi kapal perang yang kini memperkuat jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Laut.

Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan modernisasi kapal tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti sejumlah perangkat. Kondisi aktual platform dan sistem yang masih terpasang harus dipetakan terlebih dahulu sebelum menentukan desain modernisasi.

"Modernisasi kapal menuntut pemahaman utuh terhadap kondisi aktual platform, sistem terpasang, serta kebutuhan operasional pengguna. Karena itu, prosesnya akan dimulai dari assessment yang komprehensif," kata Kaharuddin dalam keterangan resminya, Selasa (29/9/2026).

Tahap awal proyek akan dilakukan melalui inspection and condition assessment. Pemeriksaan tersebut mencakup kondisi fisik kapal, sistem yang terpasang, hingga identifikasi komponen yang berpotensi mengalami obsolescence atau penurunan keandalan akibat usia.

Hasil pemeriksaan nantinya menjadi dasar untuk menentukan tahapan pekerjaan berikutnya. PT PAL dan Fincantieri akan menggunakannya sebagai acuan dalam proses engineering, refurbishment, modernisasi sistem, hingga testing and commissioning.

"Hasil pemetaan tersebut akan menjadi landasan utama untuk tahap engineering, refurbishment, modernisasi sistem, hingga testing and commissioning," ujar Kaharuddin.

Fincantieri Bawa Pengalaman sebagai Pembuat Asli

Dalam proyek tersebut, Fincantieri memiliki posisi khusus karena perusahaan Italia itu merupakan original builder ITS Giuseppe Garibaldi sebelum kapal tersebut menjadi bagian dari alutsista TNI AL dan berganti nama menjadi KRI Sriwijaya.

CEO dan Managing Director Fincantieri Pierroberto Folgiero menyebut kerja sama dengan PT PAL menjadi bagian dari penguatan hubungan Indonesia dan Italia, khususnya dalam sektor pertahanan dan industri maritim.

"Giuseppe Garibaldi merupakan kapal yang berperan penting dalam sejarah Angkatan Laut Italia. Kesepakatan hari ini menjadi simbol nyata kepercayaan dan ambisi bersama yang mempersatukan kedua negara. Bersama PT PAL, kami siap mendukung Angkatan Laut Indonesia dan menciptakan nilai jangka panjang," ungkap Folgiero.

Pengalaman Fincantieri sebagai pembangun awal kapal akan dipadukan dengan kemampuan PT PAL dalam pembangunan dan perbaikan kapal serta kegiatan maintenance, repair, and overhaul (MRO).

PT PAL juga memiliki pengalaman dalam integrasi berbagai sistem kapal, termasuk navigasi, sensor, propulsi, dan kelistrikan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyesuaikan platform dengan kebutuhan operasional TNI AL.

Modernisasi KRI Sriwijaya diharapkan membuat kapal mampu menjalankan berbagai tugas sesuai kebutuhan pertahanan dan operasi TNI AL. Selain mendukung misi menjaga kedaulatan maritim, kapal juga diproyeksikan dapat menunjang operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Modernisasi Dibawa ke Ekosistem Industri Pertahanan

Proyek tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan satu unit kapal. PT PAL melihat kerja sama dengan Fincantieri sebagai bagian dari penguatan kapasitas industri pertahanan dan maritim nasional.

Transfer pengetahuan dan teknologi yang muncul selama proses refurbishment dan modernisasi diharapkan dapat memperkuat kemampuan teknis sumber daya manusia Indonesia.

Selain itu, proyek ini berpotensi membuka ruang peningkatan kompetensi tenaga kerja serta memperluas penguasaan teknologi dalam pengerjaan kapal perang berteknologi kompleks.

Bagi PT PAL, keterlibatan industri dalam negeri menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan MRO sekaligus integrasi sistem pertahanan secara lebih mandiri.

Kaharuddin menilai penguasaan teknologi pertahanan memiliki keterkaitan langsung dengan kemampuan Indonesia menjaga kepentingan dan kedaulatan maritim.

"Semakin kuat penguasaan teknologi pertahanan, semakin besar kemampuan kita untuk menjaga kedaulatan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi pertahanan di kawasan," pungkas Kaharuddin.