Blora, MEMANGGIL.CO - Goa Terawang Blora bersiap menjadi panggung kolaborasi ribuan penari dalam Blora Culture Festival (BCF) 2026. Sebanyak 1.000 penari Tayub ditargetkan tampil bersama dalam festival budaya yang akan digelar Sabtu, 10 Oktober 2026.
Gelaran tersebut memasuki tahun ketiga pelaksanaan. Namun, BCF 2026 memiliki cakupan yang lebih luas karena membuka ruang partisipasi bagi pelaku seni dari luar Kabupaten Blora.
Respons terhadap open call yang dibuka panitia datang dari sejumlah daerah. Seniman dari Banjarnegara, Tuban, hingga Rembang tercatat telah mendaftarkan diri untuk ikut ambil bagian dalam pertunjukan di kawasan Goa Terawang.
Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Blora, Yeti Romdonah mengatakan, bahwa pendaftaran peserta dari luar daerah menunjukkan tingginya minat terhadap agenda budaya tersebut.
"Sudah ada yang mendaftar untuk berpartisipasi, mulai dari Banjarnegara, Tuban, hingga Rembang," ujar Yeti, Selasa (29/9/2026).
Konsep utama BCF tahun ini adalah menyatukan 1.000 penari Tayub dalam satu pertunjukan. Pesertanya tidak hanya berasal dari kalangan seniman, tetapi juga melibatkan pelajar, organisasi wanita, masyarakat umum, hingga unsur TNI dan Polri.
Mereka akan membawakan tema "Gatra Cacana Jaya Kerta Bhumi" dalam pertunjukan kolaboratif yang menempatkan Tayub sebagai bagian utama pertunjukan.
Selain Tayub, sejumlah kesenian tradisional Blora juga akan ditampilkan. Barongan, Jedoran, serta Tari Prajurit Suro ing Jipang akan dipadukan dalam satu rangkaian pertunjukan.
Format tersebut membuat BCF 2026 tidak hanya menjadi panggung satu jenis kesenian. Festival dirancang untuk mempertemukan berbagai komunitas seni sekaligus membuka ruang interaksi antara pelaku budaya dari Blora dan daerah lain.
Digelar Bersamaan Forum Desa Wisata
Rangkaian BCF 2026 tidak hanya berlangsung pada hari puncak. Sehari sebelumnya, Jumat (9/10/2026), Blora akan menjadi lokasi Pertemuan Forum Komunikasi (FK) Desa Wisata ke-35 se-Jawa Tengah.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinporabudpar Blora Galih Indra mengatakan sekitar 150 hingga 200 pengelola desa wisata serta perwakilan dinas pariwisata dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah dijadwalkan berkumpul di Desa Tinapan.
Para peserta akan menginap di Desa Tinapan sebelum mengikuti rangkaian kegiatan berikutnya di Goa Terawang.
Pada Sabtu (10/10/2026), peserta forum desa wisata tersebut akan diarahkan menuju lokasi BCF 2026. Kehadiran mereka sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan sektor pariwisata dengan seni dan budaya.
Goa Terawang Jadi Panggung Kolaborasi
Pemilihan Goa Terawang sebagai lokasi festival memberikan ruang bagi seni tradisional untuk tampil dalam kawasan wisata alam. Ribuan penari nantinya akan menjadi bagian utama dari pertunjukan yang dipadukan dengan berbagai kesenian khas Blora.
Keterlibatan seniman dari sejumlah daerah juga memperluas cakupan BCF 2026. Festival tidak hanya menjadi agenda budaya lokal, tetapi menjadi ruang pertemuan pelaku seni lintas wilayah.
Bagi Pemkab Blora, pola kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antarkomunitas sekaligus memberikan dampak terhadap pengembangan pariwisata daerah.
BCF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 10 Oktober mendatang, dengan rangkaian kegiatan yang telah dimulai sehari sebelumnya melalui pertemuan pengelola desa wisata se-Jawa Tengah.