Surabaya, MEMANGGIL.CO - Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Sri Fatmawati, S.Si., M.Sc., Ph.D., mencatat prestasi di tingkat internasional. Peneliti Departemen Kimia ITS tersebut menjadi ilmuwan Indonesia pertama yang terpilih sebagai International Science Council (ISC) Fellow 2026.
Pengakuan ini menyoroti kontribusi ilmuwan dalam memperkuat hubungan antara sains dan masyarakat. Bagi Fatma, pencapaian tersebut sekaligus membuka peluang lebih luas untuk membawa potensi biodiversitas Indonesia ke dalam kolaborasi dan pengembangan riset global.
Fatma, yang akrab disapa Fatma, menyebut pencapaian itu merupakan hasil perjalanan panjang yang melibatkan penelitian fundamental, kolaborasi, inovasi, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Kita tidak harus meninggalkan akar lokal untuk menjadi relevan secara global,” tegasnya, Minggu (25/10/2026).
Teliti Bahan Alam Indonesia hingga Diakui Internasional
Selama berkarier sebagai peneliti, Fatma menekuni bidang bahan alam, senyawa bioaktif, pengobatan tradisional, dan kimia medisinal. Risetnya menghasilkan publikasi ilmiah internasional serta berbagai kekayaan intelektual.
Ia berupaya mengembangkan potensi keanekaragaman hayati Indonesia menjadi pengetahuan ilmiah yang dapat diuji, dikembangkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Fatma, keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari jumlah publikasi atau pengakuan akademik. Hasil riset juga perlu memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Keberhasilan riset tidak cuma diukur lewat publikasi, tetapi pada manfaatnya bagi masyarakat,” ungkap perempuan kelahiran 1980 tersebut.
Prinsip itu menjadi salah satu landasan dalam mengembangkan penelitian yang menghubungkan kekayaan hayati dan pengetahuan tradisional dengan pembuktian ilmiah serta inovasi.
Bidik Kolaborasi Riset Biodiversitas dan Produk Herbal
Sebagai Direktur Indonesian Herbal and Horticultural Science Technology Park (TSTH2), Fatma melihat pencapaian sebagai ISC Fellow 2026 sebagai kesempatan memperluas jejaring kerja sama penelitian.
Sejumlah bidang yang berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi tersebut meliputi biodiversitas, genomik, metabolomik, serta pengembangan produk herbal dan hortikultura.
Penguatan kerja sama di bidang tersebut diharapkan membantu mendorong pemanfaatan potensi hayati Indonesia sekaligus memperbesar kesempatan bagi peneliti muda untuk terlibat dalam riset kolaboratif.
Bagi ITS, pencapaian Fatma juga diharapkan memperluas peluang kemitraan internasional, mulai dari kolaborasi penelitian hingga pertukaran peneliti dan mahasiswa serta proyek lintas negara.
“Saya berharap semakin banyak ilmuwan kita hadir untuk memberikan perspektif dan andil dalam sains global,” ujar alumnus program doktoral Kyushu University, Jepang, tersebut.
Apa Itu ISC Fellow?
International Science Council atau Dewan Sains Internasional merupakan organisasi sains global yang menghimpun sekitar 250 organisasi ilmiah dari berbagai negara.
Program ISC Fellowship memberikan pengakuan kepada ilmuwan dan insinyur atas kontribusi luar biasa dalam menghubungkan sains dengan masyarakat.
Terpilihnya Sri Fatmawati sebagai ISC Fellow 2026 menjadi bagian dari kiprah akademisi Indonesia di lingkungan sains internasional. Latar belakang penelitiannya juga menyoroti pentingnya pengembangan biodiversitas lokal sebagai sumber pengetahuan dan inovasi.
Perempuan asal Madura tersebut berpegang pada prinsip “Science is a way of humanity”, yang menempatkan sains bukan hanya sebagai sarana kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai jalan untuk memperluas manfaat dan kolaborasi kemanusiaan.
Semangat tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan tujuan ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.