Situbondo, MEMANGGIL.CO - Rumah Batik Inklusi (RUBI) di Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, Situbondo, mendapat suntikan teknologi dan pendampingan usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi. Program kolaborasi dosen Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) dan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya itu menargetkan produksi batik naik dari 125 menjadi 400 lembar per bulan.

Pendampingan tersebut menyasar kelompok usaha yang beranggotakan 30 orang, sebagian besar merupakan penyandang disabilitas. Selama ini, RUBI menghadapi sejumlah kendala, mulai dari kapasitas produksi terbatas, warna batik mudah pudar, pilihan motif minim, hingga pemasaran yang masih mengandalkan cara konvensional.

Melalui Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat Berdampak (Kosabangsa) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), tim memperkenalkan mesin pelorot malam yang dirancang lebih efektif, aman, dan ergonomis bagi pekerja difabel.

Program yang diketuai Dr. Ikhwanul Qiram, S.T., M.T. dari UNIBA itu juga mencakup pelatihan teknik pewarnaan agar batik lebih tahan luntur, pengembangan 10 motif baru batik ciprat khas lokal, serta perluasan pemasaran melalui Instagram, TikTok, dan marketplace.

"Tujuan Kosabangsa ini bukan hanya mengenalkan alat, tetapi membantu mitra mengembangkan usaha secara lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan," kata Ikhwanul, Rabu (28/10/2026).

Tak hanya menyasar perajin batik, program ini juga menyentuh kelompok PKK Desa Kedungdowo yang dipimpin Purwatiningsih. Sebanyak 23 anggota kelompok mendapat pendampingan pengoperasian mesin jahit digital untuk mengembangkan produk fesyen berbahan batik.

Mereka juga dibekali keterampilan pembukuan usaha sederhana dan pemasaran digital agar produk yang dihasilkan memiliki peluang pasar lebih luas.

Tim dosen turut memperkenalkan pengolahan daun kelor menjadi empat produk pangan, yakni bakso, mi, teh, dan tepung. Inovasi tersebut diarahkan sebagai sarana edukasi pangan bergizi untuk mendukung pencegahan stunting.

"Kami berharap pendampingan ini memberi keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan dan membuat kegiatan ekonomi kelompok semakin berkelanjutan," ujar Purwatiningsih.

Pemberdayaan masyarakat Kedungdowo juga mencakup aspek keselamatan. Tim mendampingi penyusunan sistem mitigasi bencana puting beliung, mulai dari pembuatan SOP tanggap darurat, pemetaan jalur evakuasi, hingga simulasi penanganan bencana.

Kepala Desa Kedungdowo Moh. Hafit mengapresiasi program tersebut. Pemerintah desa turut mendukung pelaksanaannya melalui kontribusi pendanaan sebesar Rp40 juta.

"Kami berharap manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang dan membantu masyarakat menjadi lebih mandiri," kata Hafit.

Tim UNIBA diperkuat Hasyim As'ari dari bidang Biologi dan Adi Mulyadi dari Teknik Elektro, serta tujuh mahasiswa. Sementara tim Unitomo dipimpin Prof. Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon bersama Prof. Nur Sayidah dan Prof. Fadjar Kurnia Hartati, yang berfokus pada pendampingan manajemen usaha dan pengembangan pangan fungsional.

Program ini menyasar Desa Kedungdowo yang memiliki sekitar 3.296 penduduk, dengan mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani.

Melalui penguatan usaha batik inklusif, pengembangan produk pangan, dan peningkatan kesiapsiagaan bencana, desa tersebut diharapkan mampu membangun ekonomi masyarakat yang lebih mandiri.