MEMANGGIL.CO - Farid Aang Mualifi yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Bogorejo, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, ternyata memiliki sisi lain yang tak banyak diketahui publik.
Selain aktif menjalankan tugasnya sebagai pemimpin desa, Aang sapaan akrabnya, merupakan seorang seniman dan pendiri grup dangdut legendaris Putra Ligna yang telah berdiri selama lebih dari dua dekade.
Baca juga: Sikap Presiden Prabowo dan PMII Jateng Soal Rantis Brimob Lindas Ojol hingga Tewas
Aang mengungkapkan bahwa ia mendirikan Ligna Management pada tahun 2005 sebagai wadah untuk mengembangkan seni dangdut dan musik Jawa.
Ia menuturkan, Ligna Management tidak hanya berfokus pada musik dangdut, namun juga berkolaborasi dengan berbagai jenis seni, termasuk peralatan pentas dan musik tradisional.
"Tujuan saya mendirikan Ligna Management adalah untuk menciptakan sebuah komunitas seniman yang bisa berkarya dan berkembang bersama. Kami juga ingin memperkenalkan seni dangdut Jawa yang lebih kaya dan beragam," ujarnya dalam wawancara eksklusif kepada tim Memanggil.co, ditulis Sabtu (12/4/2025).
Diketahui, Ligna Management yang dikenal dengan Putra Ligna, grup dangdut yang sudah terkenal di Blora, terus berkiprah hingga kini. Dengan usia 20 tahun, Putra Ligna tetap mempertahankan eksistensinya, bahkan terus berkembang untuk menarik minat generasi muda, termasuk mereka yang berasal dari luar desa.
"Saya ingin menggali potensi seniman muda di Bogorejo, meskipun beberapa personel kami berasal dari luar desa. Namun, mereka semua masih satu wilayah di Kecamatan Bogorejo," lanjutnya.
Berawal dari keinginan untuk menampung para seniman, Aang mengaku bahwa ia juga merupakan bagian dari komunitas seni Bogorejo yang ingin menyalurkan bakat dan hobinya melalui Ligna Management.
"Dengan Ligna Management, saya berharap bisa membantu seniman-seniman muda untuk berkembang dan menyalurkan bakat mereka dengan cara yang positif," ujarnya.
Baca juga: Viral Video Rantis Brimob Lindas Ojol, Kapolri Minta Maaf
Ke depan, Aang berencana untuk mengembangkan Putra Ligna dengan menggabungkan musik dangdut dengan elemen tradisional Jawa, seperti gending Jawa dan gamelan.
"Kami ingin berkolaborasi antara gamelan Jawa dan musik modern, menciptakan sesuatu yang unik dan kaya akan budaya," jelasnya.
Meski telah berkiprah lama, Aang menegaskan bahwa tarif penampilan Putra Ligna bervariasi dan disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran klien.
"Kami tidak terikat dengan patokan harga tertentu. Yang penting adalah kualitas dan kepercayaan dari orang yang menggunakan jasa kami," ujarnya.
Baca juga: Polisi Tetapkan 3 Tersangka Buntut Kebakaran Hebat Sumur Minyak Ilegal di Blora
Sebagai informasi, selain sering tampil di Blora, Putra Ligna juga sudah menjelajah berbagai daerah, seperti Semarang, Purwodadi, Bojonegoro, Tuban, Pati, dan Rembang. Namun, Blora tetap menjadi pasar utama mereka, tempat di mana grup dangdut ini pertama kali dikenal dan dicintai masyarakat.
PMD Apresiasi Latar Belakang Seni Aang Mualifi untuk Kemajuan Desa
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Blora, Yayuk Windrati, memberikan pandangan positif terkait latar belakang Farid Aang Mualifi sebagai seorang seniman dan pendiri grup dangdut legendaris Putra Ligna."Ya bagus, Kepala Desa yang memiliki latar belakang seni seperti Kades Aang," ujar Yayuk.
Ia melanjutkan bahwa Aang memiliki potensi besar untuk memanfaatkan keahliannya dalam seni untuk memberdayakan masyarakat, terutama dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif dan budaya lokal.
Yayuk berharap bahwa semangat Aang dalam mengembangkan seni dangdut dan budaya Jawa bisa mendorong perkembangan komunitas seni di Bogorejo, serta memberikan kontribusi lebih bagi kemajuan desa.
Editor : Redaksi