Viral Video Kekerasan Brutal terhadap Kucing Gegerkan Publik, Aparat di Blora Didesak Jangan Tumpul

Reporter : Redaksi
Ada kucing di belakang ketika Agus Ariyanto diwawancarai. (Memanggil.co/Ist)

Blora, MEMANGGIL.CO - Beredarnya video viral yang memperlihatkan penendangan seekor kucing di Lapangan Kridosono, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, hingga meregang nyawa memicu kemarahan dan keprihatinan luas di tengah masyarakat. 

Rekaman kekerasan tersebut menyebar cepat di media sosial dan memantik desakan agar aparat penegak hukum tidak bersikap lamban, apalagi kompromistis, dalam menangani kasus yang dinilai keji dan tidak berperikemanusiaan itu.

Baca juga: Mengapa Pelaku Pembunuhan Kucing di Kridosono Blora Belum Ditahan?

Dalam video yang viral, seekor kucing tampak diperlakukan secara kasar dan diduga ditendang dengan sengaja hingga mengalami luka fatal.

Tayangan tersebut memunculkan gelombang kecaman dari warganet, komunitas pecinta hewan, hingga aktivis sosial yang menilai peristiwa itu sebagai bentuk kekerasan telanjang di ruang publik.

Masyarakat menilai, tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan perbuatan yang mencerminkan hilangnya empati dan rasa kemanusiaan. Tekanan publik pun menguat agar kasus ini diproses secara serius, terbuka, dan tidak berhenti pada klarifikasi semata.

Aktivis Sosial dan Lingkungan, Agus Ariyanto, menegaskan bahwa kekerasan terhadap hewan tidak boleh diperlakukan sebagai perkara sepele.

Menurutnya, sikap aparat dalam menangani kasus semacam ini akan menjadi tolok ukur keberpihakan hukum terhadap nilai keadilan dan nurani publik.

“Video itu sudah bicara dengan sendirinya. Kekerasan terjadi terang-terangan. Publik berhak menuntut penanganan yang objektif dan tegas, bukan pembiaran atau penundaan tanpa kejelasan,” ujar Agus kepada Memanggil.co, Selasa (3/2/2026).

Baca juga: Program PTSL Desa Plosorejo Berjalan Panjang, 136 Bidang Tanah Warga dan Bengkok Kini Bersertifikat

Ia menilai, ketidaktegasan dalam kasus seperti ini justru berpotensi melahirkan preseden buruk dan memperkuat anggapan bahwa hukum hanya keras ke bawah namun lunak ke atas.

Agus juga mengingatkan pesan tajam sastrawan besar asal Blora, Pramoedya Ananta Toer, yang relevansinya dinilai masih sangat kuat hingga hari ini.

“Jika ahli hukum tidak tersinggung atas pelanggaran hukum, lebih baik ia jadi tukang sapu jalanan saja,” demikian kutipan Pramoedya yang kembali digaungkan.

Menurut Agus, pernyataan tersebut merupakan tamparan moral bagi siapa pun yang memiliki kewenangan hukum namun kehilangan kepekaan terhadap ketidakadilan, termasuk dalam kasus dugaan kekerasan terhadap hewan.

Baca juga: Nyali Polisi Sedang Diuji, Berani Tidak Bekuk Oknum Advokat Pembunuh Kucing di Kridosono Blora?

Kasus ini kini menjadi sorotan bukan hanya karena kekejaman perbuatannya, tetapi juga karena menjadi ujian nyata bagi aparat penegak hukum. Publik menunggu apakah hukum akan benar-benar ditegakkan secara adil dan berani, atau justru kembali tumpul ketika berhadapan dengan pelanggaran yang dianggap remeh.

Lebih dari sekadar soal seekor kucing yang mati, peristiwa ini dipandang sebagai cermin wajah penegakan hukum dan komitmen negara dalam melindungi makhluk hidup dari kekerasan.

Penanganan yang tegas dan transparan dinilai menjadi satu-satunya jalan untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus menegaskan bahwa kekejaman, sekecil apa pun korbannya, tidak boleh dibiarkan.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru