Pameran "Feel the Emotion" Mahasiswa VCD Ciputra, Eksplorasi Synesthesia untuk Edukasi Kesehatan Mental Gen Z

Reporter : Saputra
Pameran yang digelar mahasiswa program studi Visual Communication Design Universitas Ciputra Surabaya. (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO – Mahasiswa semester 2 Program Studi Visual Communication Design (VCD) Universitas Ciputra (UC) Surabaya, menggelar pameran "Feel the Emotion: Of the Sound, Image, & Synesthesia".

Pameran yang dilaksanakan di Copreneur Universitas Ciputra ini menampilkan puluhan karya visual yang diterjemahkan dari empat lagu orisinal ciptaan mahasiswa sebagai bentuk eksplorasi emosi dan kesehatan mental Generasi Z.

Setiap karya berangkat dari proses kreatif dua tahap. Mahasiswa terlebih dahulu menulis lirik dan menciptakan musik, kemudian menerjemahkan makna serta atmosfer lagu ke dalam media visual berupa album cover, poster, fotografi, ilustrasi, hingga identitas visual terpadu.

Ketua pameran Benaya Christofer F menjelaskan, konsep pameran terinspirasi dari synesthesia, fenomena persepsi ketika satu indera dirangsang sehingga memicu pengalaman indera lain, seperti melihat warna saat mendengar suara.

"Biasanya musik hanya didengar. Dalam pameran ini kami mencoba menerjemahkan musik menjadi pengalaman visual yang bisa dilihat dan dirasakan. Setiap karya memiliki cerita, suasana, dan emosi yang berbeda sesuai pengalaman kreatornya," jelas Benaya saat ditemui, Kamis (11/06/2026).

Benaya menambahkan, tema karya yang diangkat dekat dengan isu keseharian Gen Z, mulai dari pencarian jati diri, dinamika hubungan keluarga dan pertemanan, kehilangan, harapan, hingga refleksi pengalaman personal.

Dosen VCD UC Pandu R. Utomo menyebut proyek ini dirancang untuk memperluas pemahaman mahasiswa bahwa desain tidak terbatas pada aspek visual. 

Menurut Pandu, Desain dapat menjangkau panca indra lain dan membangun pengalaman emosional.

"Desain yang baik tidak hanya dinikmati oleh mata. Desain mampu menjangkau pancaindra lain, berinteraksi dengan bunyi, sentuhan, rasa manusia, menciptakan kesan, menggelitik pikiran, sekaligus mengolah emosi," ungkapnya.

"Melalui proyek ini mahasiswa belajar bagaimana sebuah pengalaman dapat diterjemahkan menjadi komunikasi visual yang bermakna," terang Pandu.

Menurutnya, pendekatan multisensori tersebut relevan dengan perkembangan industri kreatif global yang bergerak ke arah pengalaman imersif. 

Desainer saat ini tidak hanya dituntut menghasilkan karya estetis, tetapi juga membangun keterhubungan emosional dengan audiens.

Pandu berharap pameran ini menjadi ruang apresiasi sekaligus bukti pergeseran desain komunikasi visual ke arah human-centered design. 

"Karya desain tidak lagi berfungsi sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjadi medium untuk membangun pengalaman, memantik refleksi, dan menghadirkan koneksi emosional yang lebih mendalam," katanya. 

Pameran "Feel the Emotion" dibuka untuk umum dan menjadi salah satu respons mahasiswa terhadap meningkatnya kesadaran Gen Z akan pentingnya kesehatan mental dan ekspresi diri.

Editor : Abdul Rohman

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru