Blora, MEMANGGIL.CO - Pengakuan demi pengakuan mulai terungkap dari Asyik Nurdiansyah, pemain keyboard orgen tunggal yang menjadi korban pengeroyokan di sebuah hajatan di Dukuh Sukorame, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora.
Jika sebelumnya korban menyebut insiden bermula dari keyboard yang tersenggol penonton diduga dalam kondisi mabuk, kini ia menduga kesalahpahaman menjadi pemicu situasi semakin tak terkendali.
Baca juga: Korban Snapboost Mengadu ke DPRD, Polisi Dalami Jaringan Perekrut di Blora
Menurut korban, setelah alat musiknya nyaris terjatuh akibat tersenggol, fokus utamanya saat itu hanya memastikan kondisi keyboard masih bisa digunakan untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Mungkin dari pihak yang punya rumah berpikiran mau saya berhentikan. Cuman kan saya cuma ngecek keyboard saya itu. Saya cek dulu, kalau bisa kan saya benerin dulu," tuturnya kepada Memanggil.co, Sabtu (13/6/2026).
Namun, niat untuk memeriksa alat musik tersebut diduga ditafsirkan berbeda oleh pihak lain yang berada di lokasi hajatan.
"Terus itu langsung emosi gitu. Mungkin dikira mau selesai atau gimana," lanjutnya.
Kesalahpahaman itu diduga menjadi titik balik berubahnya suasana hiburan menjadi aksi kekerasan. Dalam hitungan menit, panggung yang semestinya menjadi tempat mencari nafkah bagi para seniman berubah menjadi arena pengeroyokan.
Baca juga: Perusahaan, Koperasi hingga BUMD Akan Dikumpulkan DPRD Blora Bahas Kontribusi Daerah
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sejumlah orang naik ke atas panggung dalam kondisi berdesakan. Di tengah kerumunan tersebut, korban tampak menjadi sasaran pukulan.
Akibat kejadian itu, Asyik mengalami sejumlah luka di tubuhnya.
"Saya mengalami luka memar-memar," ungkapnya.
Baca juga: Ketua Komisi C DPRD Blora Pertanyakan Posisi BPE di Tengah Ramainya Bisnis Sumur Rakyat
Meski luka yang dialaminya tidak mengancam nyawa, pengalaman tersebut meninggalkan trauma tersendiri. Sebab, sebagai musisi yang terbiasa berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya, ia tak pernah membayangkan pekerjaannya berujung pada aksi main hakim sendiri.
Hingga kini, polisi masih didesak untuk mengusut tuntas peristiwa yang telah viral tersebut. Publik menanti kepastian, apakah para pelaku telah teridentifikasi dan apakah akan ada proses hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Editor : Redaksi