Mocits, Alat Panjat Kelapa Ciptaan ITS Bantu Petani Panen Lebih Aman dan Cepat

Reporter : Saputra
Proses demo uji coba alat panjat kelapa Mocits di Sentra Kelapa Lumajang. (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Risiko tinggi saat memanjat pohon kelapa selama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi petani. Menjawab persoalan itu, Ir Achmad Syaifudin ST MEng PhD IPM AEng, dosen Departemen Teknologi Kedokteran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, melahirkan inovasi alat panjat kelapa bernama Moto Climber ITS atau Mocits.

Alat ini dikembangkan atas permintaan langsung Kementerian Pertanian (Kementan) RI dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan keselamatan kerja petani kelapa di Indonesia.

"Kami merancang alat ini berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan agar produktivitas panen kelapa di Indonesia bisa meningkat," ujar dosen dari Laboratorium Mekanika Benda Padat ITS tersebut, Minggu (28/06/2026).

Perjalanan Mocits tidak instan. Tim ITS telah membuat tiga versi prototipe. Versi pertama masih memiliki keterbatasan pada komponen dan ukuran roda yang terlalu besar. 

Prototipe kedua atau versi Beta sudah mampu memanjat pohon, meski kecepatannya masih lambat dan bobotnya berat. 

Versi inilah yang pertama kali dipamerkan di hadapan Menteri Pertanian. Setelah mendapat masukan langsung dari petani, lahirlah versi terbaru yakni Alpha. 

"Ini versi optimasi setelah wawancara dengan petani. Sudah diuji coba di Sentra Kelapa Lumajang dan hasilnya jauh lebih optimal," jelas Syaifudin.

Pada versi Alpha, Mocits dibekali sistem pengereman ganda double brake. Rem akan otomatis mengunci ke batang pohon. 

Untuk naik, operator cukup menekan rem dan menarik gas. Saat turun, tinggal melepas gas dan rem secara perlahan.

Selain itu terdapat sabuk pengaman harness untuk operator dan sistem lashing yang mengikat mesin ke pohon. 

"Jadi meski rem tidak dioperasikan, alat dan pengemudi tetap aman tertahan di atas," terang alumnus Teknik Mesin ITS itu.

Mocits juga dirancang adjustable untuk diameter pohon 25 hingga 40 cm. Ke depan tim berencana menambahkan sistem rack and pinion agar cengkeraman lengan penyeimbang bisa lebih presisi.

Agar mudah dirawat warga desa, Syaifudin memilih rantai sebagai penggerak utama karena mekanismenya sudah familiar.

Uji coba di Lumajang mendapat respons positif. Muhammad Basiran, petani lokal, menyebut alat ini lebih efektif dan mudah dipelajari dibanding cara manual.

Apresiasi juga datang dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur. 

"Tujuannya memudahkan petani. Jadi harus lebih efisien, aman, dan mudah diaplikasikan," kata Dr Ismatul Hidayah SP MP.

Produksi Mocits digandengkan dengan PT Smarttech Reborn 2007, perusahaan manufaktur milik alumni Teknik Mesin ITS. 

Pemasarannya akan dilakukan melalui ITS Science Techno Park dan masuk e-katalog Kementan.

Inovasi ini sekaligus menjadi kontribusi ITS dalam mendukung SDGs poin 9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur, serta poin 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru