Blora, MEMANGGIL.CO - KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin mulai memperluas silaturahmi dengan jajaran Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai daerah menjelang Muktamar ke-35 NU.
Langkah tersebut dilakukan setelah Gus Rozin menyatakan kesiapannya maju dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam sejumlah kunjungan, ia tidak hanya menyampaikan pencalonannya, tetapi juga membuka dialog mengenai persoalan yang dihadapi NU di tingkat daerah.
Baca juga: Kiai Sepuh Serukan Muktamar NU Digelar Tanpa Transaksi Politik
Sejumlah wilayah telah dikunjungi Gus Rozin, antara lain Bengkulu, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Pertemuan dengan PWNU maupun PCNU tersebut menjadi ruang untuk menyerap aspirasi sekaligus menguji gagasan mengenai arah NU memasuki abad kedua.
Bagi Gus Rozin, kontestasi kepemimpinan tidak seharusnya berhenti pada persoalan siapa yang akan mendapatkan posisi Ketua Umum PBNU.
Ia melihat Muktamar sebagai momentum untuk membicarakan masa depan organisasi secara lebih luas.
Menurutnya, persoalan NU harus dibaca dari pengalaman pengurus dan jamaah di berbagai daerah. Sebab, kebutuhan organisasi di setiap wilayah tidak selalu sama.
Dari rangkaian dialog tersebut, Gus Rozin menawarkan tiga gagasan besar, yakni membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Gagasan pertama berkaitan dengan upaya meredakan polarisasi internal melalui konsep poros tengah.
Gus Rozin menilai perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tidak boleh berkembang menjadi ketegangan berkepanjangan yang justru mengganggu persatuan jam’iyyah.
“Poros tengah bukan poros untuk berhadapan dengan siapa pun,” kata Gus Rozin, ditulis Jumat (21/8/2026).
Ia menjelaskan, gagasan tersebut bukan dimaksudkan untuk membentuk kelompok baru dalam tubuh NU.
“Poros tengah adalah jalan untuk mempertemukan berbagai pihak,” ujarnya.
Menurut Gus Rozin, jalan tersebut diperlukan untuk meredakan ketegangan sekaligus mengembalikan perhatian seluruh pihak kepada kepentingan organisasi.
“Meredakan ketegangan,” katanya.
Ia menegaskan tujuan akhirnya adalah menjaga persaudaraan dan keberlanjutan pengabdian NU.
“Ukhuwah Nahdliyah dan keberlanjutan khidmah jam’iyyah,” tuturnya.
Konsep tersebut kemudian ditempatkan Gus Rozin sebagai salah satu jalan untuk menghadapi dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU.
Ia tidak ingin kontestasi kepemimpinan dibangun dengan pola menang dan kalah.
Sebaliknya, berbagai gagasan dan kepentingan yang muncul di tubuh NU perlu dipertemukan melalui musyawarah.
Selain persoalan persatuan, Gus Rozin juga menempatkan kemandirian organisasi sebagai agenda penting.
Menurutnya, NU perlu memiliki kemampuan mengelola organisasi, aset, dan sumber daya secara profesional dan amanah.
Kemandirian tersebut juga harus menyentuh kehidupan ekonomi jamaah, pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, hingga penguatan berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Arah kedua yang ditawarkan adalah NU yang bermartabat.
Menurut Gus Rozin, martabat organisasi tidak dapat dilepaskan dari penghormatan terhadap ulama, pesantren, tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, serta integritas kepemimpinan.
Hubungan NU dengan negara juga perlu dibangun secara sehat. NU tetap memiliki posisi sebagai kekuatan masyarakat sipil keagamaan yang mampu memberikan masukan ketika terdapat kebijakan publik yang perlu dikritisi.
Sementara itu, gagasan ketiga adalah menjadikan NU semakin bermanfaat.
Ukuran keberhasilan organisasi, menurut Gus Rozin, tidak cukup hanya dilihat dari keberadaan struktur kepengurusan.
Manfaat NU harus benar-benar dirasakan jamaah melalui pendidikan, pesantren, ekonomi, kesehatan, layanan sosial, pertanian, perikanan, lingkungan hidup, pengembangan teknologi hingga advokasi masyarakat.
Pandangan tersebut juga berkaitan dengan pentingnya memperkuat pesantren.
Gus Rozin menilai pesantren merupakan salah satu fondasi utama NU dalam menjaga tradisi keilmuan sekaligus membentuk kader.
“Menguatkan NU itu menguatkan pesantren,” tegasnya.
Menurut dia, pengembangan pesantren tidak bisa hanya dibebankan kepada satu lembaga atau kelompok.
“Pengembangan pesantren adalah tanggung jawab semua elemen di Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Perhatian terhadap pesantren tersebut juga berkaitan dengan upaya memperkuat NU di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam kunjungannya ke sejumlah daerah, Gus Rozin melihat kebutuhan NU di luar Jawa memiliki karakter yang beragam.
Baca juga: Pemkab Jombang Siapkan Layanan Kesehatan Gratis untuk Peserta Muktamar NU
Ada wilayah yang membutuhkan penguatan struktur organisasi, sementara daerah lainnya menghadapi persoalan kaderisasi, pendidikan, pesantren, ekonomi jamaah, hingga sumber daya manusia.
Karena itu, ia mendorong agar kebijakan PBNU ke depan tidak terlalu berpusat pada kebutuhan organisasi di tingkat pusat maupun wilayah yang sudah kuat.
Perhatian terhadap daerah pedalaman dan pelosok perlu diperbesar.
“Saya juga mengusulkan agar ke depan Ketua PBNU memberikan perhatian yang lebih besar kepada NU di daerah-daerah,” kata Gus Rozin.
Ia secara khusus menyebut wilayah yang selama ini belum memperoleh perhatian secara maksimal.
“Khususnya wilayah pedalaman, pelosok,” ujarnya.
Bagi Gus Rozin, penguatan NU harus dimulai dari bawah.
“Penguatan NU harus berjalan dari bawah,” katanya.
Daerah, lanjut dia, perlu diberikan ruang lebih besar untuk berkembang sesuai karakter dan kebutuhan masing-masing.
“Memberikan ruang yang lebih besar bagi daerah untuk berkembang,” ujarnya.
Cara pandang tersebut berangkat dari keyakinan bahwa kekuatan NU sesungguhnya berada pada jamaah.
Gus Rozin menilai struktur organisasi harus hadir untuk memperkuat kehidupan jamaah, bukan berjalan sendiri terpisah dari persoalan masyarakat.
Dalam salah satu dialog dengan pengurus NU di daerah, ia menyampaikan satu prinsip yang menjadi pijakan pemikirannya.
“NU itu jamaah ada duluan, baru jam’iyyahnya,” ujar Gus Rozin.
Karena itu, berbagai program organisasi harus berangkat dari kebutuhan jamaah.
Masukan dari bawah, menurutnya, menjadi bahan penting dalam menyusun visi, misi, dan agenda strategis PBNU.
Pandangan tersebut juga membuat Gus Rozin memilih melakukan perjalanan ke berbagai daerah sebelum Muktamar.
Ia ingin gagasan mengenai masa depan NU tidak hanya lahir dari ruang elite organisasi.
Baca juga: Ribuan Nahdliyin Gelar Istighosah di Tambakberas Jombang, Muktamar ke-35 NU Didoakan Berjalan Guyub
Sebaliknya, pengalaman para kiai, pengurus daerah, kader, serta jamaah perlu menjadi bagian dari pembahasan mengenai arah NU ke depan.
Dalam konteks Muktamar ke-35 NU, Gus Rozin berharap forum tersebut tidak hanya menjadi momentum memilih kepemimpinan baru.
Muktamar harus menjadi ruang untuk menentukan arah perjalanan organisasi memasuki abad kedua.
“Semoga Muktamar menjadi momentum untuk kembali memperkuat NU,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar berbagai hal yang sudah baik tetap dilanjutkan, sementara persoalan yang masih menjadi kelemahan diperbaiki.
“Memperbaiki apa yang perlu diperbaiki,” katanya.
Pada saat bersamaan, NU diharapkan semakin mandiri dan kuat.
“Membangun masa depan NU yang lebih mandiri, kuat, serta bermanfaat,” ujar Gus Rozin.
Dengan demikian, perjalanan Gus Rozin menemui pengurus NU di berbagai daerah bukan sekadar agenda memperkenalkan pencalonan.
Silaturahmi tersebut menjadi bagian dari proses menghimpun gagasan sebelum Muktamar ke-35 NU.
Dari berbagai pertemuan itu, persoalan NU terlihat memiliki wajah yang berbeda-beda di setiap daerah. Namun, terdapat kebutuhan yang sama, yakni organisasi yang mampu hadir lebih dekat dengan jamaah dan memberikan manfaat nyata.
Gus Rozin kemudian membawa gagasan agar NU memasuki abad kedua dengan tiga orientasi utama: berdaulat dalam mengelola organisasi dan sumber daya, bermartabat dalam menjaga nilai dan tradisi keulamaan, serta bermanfaat bagi jamaah dan masyarakat.
Di tengah dinamika menuju Muktamar, gagasan tersebut menjadi tawaran arah kepemimpinan sekaligus ajakan agar kontestasi tidak kehilangan tujuan utamanya.
Sebab, bagi Gus Rozin, persoalan terpenting bukan sekadar siapa yang nantinya memimpin PBNU.
Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana NU menjaga persatuan, memperkuat kemandirian, memberi ruang lebih besar kepada daerah, dan memastikan khidmah organisasi benar-benar dirasakan jamaah.
Muktamar ke-35 NU pun akhirnya ditempatkan bukan hanya sebagai agenda pergantian kepemimpinan.
Forum tersebut menjadi momentum untuk menentukan bagaimana NU memasuki abad keduanya dengan tetap berpijak pada tradisi, tetapi mampu menjawab kebutuhan zaman.
Editor : Ahmad Adirin