Jombang, MEMANGGIL.CO - Detik-detik menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, diwarnai keputusan mengejutkan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo.
Rais Syuriyah PWNU Gorontalo dr. KH. Burhanudin Umar menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan itu dituangkan dalam surat pengunduran diri yang dibuat di Gorontalo pada 26 Agustus 2026 dan ditujukan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta.
Baca juga: Dari Tambakberas, Merawat Khidmat, Menjaga Ukhuwah di Muktamar ke-35 NU
Pengunduran diri tersebut disampaikan tepat ketika perhatian struktur NU dari berbagai daerah tertuju ke Tambakberas, lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.
Dalam suratnya, Burhanudin menegaskan keputusan mundur bukan diambil secara tiba-tiba. Ia menyebut telah melalui perenungan dan pertimbangan yang mendalam.
“Setelah melalui perenungan dan pertimbangan yang mendalam, dengan memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT, saya dengan ini menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Rais Syuriyah PWNU Gorontalo,” tulis Burhanudin, dikutip Rabu (26/8/2026).
Ada dua alasan utama yang disampaikan Burhanudin. Pertama adalah kondisi kesehatan. Ia menyebut kondisi kesehatannya dalam beberapa waktu terakhir mengharuskannya mengurangi aktivitas dan tanggung jawab yang membutuhkan tenaga serta perhatian besar.
Menurutnya, jabatan Rais Syuriyah merupakan amanah berat yang harus dijalankan secara maksimal.
“Saya memandang amanah sebagai Rais Syuriyah merupakan tanggung jawab yang berat dan harus ditunaikan secara maksimal,” tulisnya.
Karena kondisi kesehatan dinilai tidak lagi memungkinkan dirinya menjalankan amanah tersebut sebagaimana mestinya, Burhanudin memilih mundur.
“Ketika kondisi kesehatan tidak lagi memungkinkan saya menjalankan amanah tersebut sebagaimana mestinya, maka mengundurkan diri adalah pilihan yang menurut saya lebih bertanggung jawab,” tulisnya.
Namun, surat tersebut tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Menjelang Muktamar NU, Burhanudin juga menyampaikan kegelisahan terhadap dinamika yang berkembang di internal organisasi.
Ia mengaku mengikuti dan mengamati perkembangan menjelang Muktamar dengan keprihatinan. Menurutnya, dinamika tersebut semakin kuat diwarnai kepentingan politik, pragmatisme dan praktik-praktik yang mengarah pada politik uang.
“Dalam pengamatan saya, proses tersebut semakin kuat diwarnai oleh kepentingan politik, pragmatisme, dan praktik-praktik yang mengarah pada politik uang,” tulisnya.
Pernyataan itu kemudian diikuti dengan ungkapan kegelisahan Burhanudin sebagai bagian dari jam'iyah NU. Ia mengingatkan bahwa NU sejak awal dibangun di atas nilai keulamaan, keikhlasan, amanah dan khidmah.
“Keadaan ini menimbulkan kegelisahan mendalam dalam diri saya sebagai bagian dari jam’iyah yang sejak awal dibangun di atas nilai keulamaan, keikhlasan, amanah, dan khidmah,” tulisnya.
Burhanudin juga menyoroti persoalan moral dan akhlak dalam organisasi. Ia mengaku prihatin ketika pertimbangan moral dan akhlak dinilai tidak lagi mendapatkan tempat yang semestinya dalam sikap dan tindakan sebagian pengurus.
“Yang lebih memprihatinkan bagi saya adalah ketika pertimbangan moral dan akhlak tidak lagi memperoleh tempat yang semestinya dalam sikap dan tindakan sebagian pengurus,” tulisnya.
Baca juga: Gus Fahim Blora Respons Hasil Muktamar ke-35 NU, Titip Pesan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU Terpilih
Menurut dia, kekuatan NU tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya organisasi, banyaknya jamaah maupun kedekatan dengan kekuasaan. Ia justru menempatkan wibawa moral ulama, keteladanan pengurus dan kepercayaan umat sebagai kekuatan utama jam'iyah.
“Padahal kekuatan utama Nahdlatul Ulama bukan semata-mata terletak pada besarnya organisasi, banyaknya jamaah, ataupun kedekatannya dengan kekuasaan, melainkan pada wibawa moral para ulama, keteladanan para pengurus, serta kepercayaan umat,” tulisnya.
Sorotan paling tegas Burhanudin berkaitan dengan jabatan dalam organisasi. Ia mengingatkan bahwa jabatan di NU semestinya tidak menjadi sesuatu yang diperebutkan dengan mengorbankan nilai-nilai yang diwariskan para masyayikh dan muassis NU.
“Saya meyakini bahwa jabatan dalam Nahdlatul Ulama bukanlah sesuatu yang harus diperebutkan, apalagi dengan mengorbankan nilai-nilai yang selama ini diajarkan oleh para masyayikh dan muassis NU,” tulisnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa jabatan adalah amanah untuk berkhidmah. Burhanudin juga mengingatkan konsekuensi ketika amanah organisasi mulai didekati dengan logika transaksi dan kepentingan.
“Ketika sebuah amanah mulai didekati dengan logika transaksi dan kepentingan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga marwah jam’iyah dan kepercayaan umat kepada para ulama dan pengurusnya,” tulisnya.
Meski menyampaikan kritik cukup tajam, Burhanudin tidak menyebut nama individu maupun kelompok tertentu dalam surat tersebut. Ia justru berharap dinamika yang berlangsung menjelang Muktamar menjadi bahan evaluasi bersama.
“Saya berharap dinamika yang terjadi saat ini dapat menjadi bahan muhasabah bersama,” tulisnya.
Baca juga: Prabowo Resmi Terima KTA NU di Jombang, Janji Saat Buka Muktamar Akhirnya Ditunaikan
Ia berharap NU kembali meneguhkan diri sebagai jam'iyah diniyyah ijtima'iyyah yang menjunjung tinggi keikhlasan, amanah, akhlak, independensi ulama dan kemaslahatan umat.
Di bagian akhir surat, Burhanudin juga menyampaikan doa agar NU dijaga dari kepentingan kekuasaan dan kepentingan sesaat.
“Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Nahdlatul Ulama, membimbing para pemimpinnya, menjauhkan jam’iyah ini dari fitnah kekuasaan dan kepentingan sesaat, serta mengembalikannya kepada jalan khidmah sebagaimana diwariskan oleh para muassis dan masyayikh kita,” tulisnya.
Surat pengunduran diri itu kemudian ditutup dengan penegasan bahwa keputusan tersebut diambil secara sadar dan bertanggung jawab.
“Demikian surat pengunduran diri ini saya sampaikan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,” tulis Burhanudin.
Surat tersebut ditandatangani dr. KH. Burhanudin Umar selaku Rais Syuriyah PWNU Gorontalo di Gorontalo pada 26 Agustus 2026.
Keputusan Burhanudin mundur menjelang Muktamar ke-35 NU menjadi perhatian karena muncul pada momentum yang sangat menentukan bagi organisasi. Selain alasan kesehatan, ia secara terbuka menyampaikan kegelisahan mengenai dinamika politik, pragmatisme, praktik yang mengarah pada politik uang, serta persoalan moral dan akhlak dalam organisasi.
Di tengah persiapan Muktamar, surat tersebut sekaligus menjadi pesan Burhanudin agar NU tetap menjaga marwah jam'iyah dan tidak kehilangan pijakan pada nilai keulamaan, keikhlasan, amanah, akhlak, independensi ulama dan khidmah kepada umat.
Editor : Redaksi