Gus Rozin: Setelah Muktamar, Semua Harus Kembali Bersama untuk NU

Reporter : Redaksi
KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin. (Istimewa)

Jombang, MEMANGGIL.CO - Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin mengingatkan seluruh peserta Muktamar ke-35 NU agar tidak menjadikan proses kontestasi kepemimpinan sebagai alasan untuk merenggangkan persaudaraan.

Menurut Gus Rozin, perbedaan pilihan dalam Muktamar merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut harus ditempatkan sebagai bagian dari dinamika organisasi, bukan sebagai dasar untuk membangun sekat di antara sesama nahdliyin.

Baca juga: Dari Tambakberas, Merawat Khidmat, Menjaga Ukhuwah di Muktamar ke-35 NU

Ketua PWNU Jawa Tengah itu justru mengajak seluruh muktamirin menikmati Muktamar sebagai momentum besar untuk bertemu dengan sesama warga NU dari berbagai daerah.

“Muktamar ini harus menjadi bagian dari silaturahmi nahdliyin. Kita datang dengan riang gembira, bertemu saudara-saudara dari berbagai daerah, dan bersama-sama menjaga ukhuwah nahdliyah,” kata Gus Rozin menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, Rabu (26/8/2026). 

Ia berharap semangat tersebut dapat terasa dalam seluruh rangkaian kegiatan Muktamar. Mulai dari kedatangan peserta, pertemuan antarpengurus, persidangan, pembahasan agenda organisasi, hingga proses pemilihan kepemimpinan.

Menurutnya, Muktamar merupakan kesempatan penting bagi warga NU untuk kembali berkumpul setelah menjalankan aktivitas masing-masing di daerah. Karena itu, momentum tersebut seharusnya tidak habis hanya untuk membicarakan kontestasi.

Gus Rozin menilai pertemuan para nahdliyin dari berbagai wilayah memiliki nilai strategis bagi masa depan organisasi. Muktamar dapat menjadi ruang untuk saling mendengar, menyampaikan aspirasi, dan menyatukan kembali langkah organisasi.

Ia juga meminta para peserta menjaga sikap selama proses berlangsung. Perbedaan pendapat tidak perlu dihindari, tetapi harus dikelola melalui musyawarah dan penghormatan terhadap sesama.

“Boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai berbeda dalam persaudaraan,” ujarnya.

Gus Rozin mengatakan, NU memiliki tradisi panjang dalam menyelesaikan berbagai persoalan melalui musyawarah. Tradisi tersebut harus tetap dijaga dalam Muktamar ke-35.

Ia tidak ingin suasana kontestasi membuat muktamirin kehilangan kegembiraan sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.

“Jangan sampai Muktamar membuat kita kehilangan kegembiraan sebagai nahdliyin. Kita datang untuk bermusyawarah, bersilaturahmi, dan menentukan masa depan NU bersama-sama,” kata Gus Rozin.

Bagi Gus Rozin, tahapan pemilihan kepemimpinan hanya merupakan salah satu bagian dari Muktamar. Setelah keputusan diambil, seluruh peserta akan menghadapi tugas yang sama, yakni memastikan NU tetap hadir dan memberikan manfaat bagi jamaah dan masyarakat.

Karena itu, ia berharap siapa pun yang memperoleh amanah memimpin PBNU nantinya dapat merangkul seluruh elemen organisasi. Pihak yang tidak terpilih pun diharapkan tidak menjauh dari proses khidmah.

Baca juga: Gus Fahim Blora Respons Hasil Muktamar ke-35 NU, Titip Pesan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU Terpilih

“Siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah sebagai Ketua PBNU, saya berharap seluruh elemen NU tetap dapat bersama-sama menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah, dan melanjutkan khidmah kepada umat,” ujar Gus Rozin.

Ia menilai semangat kembali bersama setelah Muktamar menjadi hal yang sangat penting. Sebab, tantangan yang dihadapi NU tidak berhenti setelah proses pemilihan selesai.

NU masih memiliki pekerjaan besar untuk memperkuat pesantren, meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan organisasi hingga tingkat bawah, memperkuat pelayanan jamaah, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Menurut Gus Rozin, seluruh agenda tersebut membutuhkan energi kolektif. Karena itu, energi organisasi tidak boleh terus terserap dalam perdebatan mengenai hasil kontestasi.

Semangat persatuan tersebut, kata dia, juga menjadi bagian dari gagasan ishlah yang ditawarkan dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Gus Rozin memandang ishlah sebagai upaya untuk memperbaiki hubungan, menguatkan kembali kebersamaan, dan memastikan seluruh elemen NU dapat berjalan dalam satu semangat khidmah.

Muktamar, menurutnya, harus menjadi momentum untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang sekaligus meneruskan berbagai hal baik yang telah dilakukan NU.

Baca juga: Prabowo Resmi Terima KTA NU di Jombang, Janji Saat Buka Muktamar Akhirnya Ditunaikan

Ia berharap tidak muncul pandangan bahwa setelah Muktamar akan terdapat kelompok yang sepenuhnya menang dan kelompok yang sepenuhnya kalah. Sebab, dalam konteks organisasi, kepentingan NU jauh lebih besar dibandingkan kepentingan kelompok atau individu.

Gus Rozin menegaskan bahwa seluruh peserta memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga NU tetap solid setelah Muktamar.

“Yang kita cari bukan sekadar siapa yang menang, tetapi bagaimana setelah Muktamar NU semakin kuat, semakin rukun, dan semakin bermanfaat bagi umat, bangsa, negara dan masyarakat global,” katanya.

Ajakan tersebut sekaligus menjadi pesan agar Muktamar ke-35 tidak meninggalkan persoalan baru di internal NU. Sebaliknya, forum tersebut diharapkan mampu memperkuat kembali rasa memiliki terhadap organisasi.

Gus Rozin berharap seluruh peserta dapat menerima hasil Muktamar dengan sikap dewasa dan tetap menjaga hubungan baik. Sebab, persaudaraan nahdliyah tidak semestinya berhenti ketika palu sidang diketukkan dan seluruh agenda Muktamar dinyatakan selesai.

Menurutnya, NU membutuhkan kebersamaan seluruh elemen untuk menghadapi tantangan ke depan. Dengan persaudaraan yang tetap terjaga, hasil Muktamar diharapkan menjadi pijakan baru untuk memperkuat organisasi.

Muktamar ke-35 pun diharapkan menjadi momentum yang tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga memperkuat tradisi silaturahmi, musyawarah, dan khidmah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Nahdlatul Ulama.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru