Kiai Sepuh Lirboyo Ingatkan Kedaulatan Muktamirin dan Larangan Intervensi dalam Muktamar ke-35 NU

Reporter : Redaksi
Kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU). (Istimewa)

Jombang, MEMANGGIL.CO - Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan pesan khusus kepada seluruh pihak yang akan terlibat dalam Muktamar ke-35 NU. Pesan tersebut disampaikan setelah para kiai berkumpul di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, menjelang pelaksanaan Muktamar NU di Jombang.

Pertemuan para kiai sepuh tersebut membahas berbagai dinamika yang berkembang menjelang forum tertinggi organisasi NU. Dari pertemuan itu lahir tujuh poin tausiyah yang ditujukan kepada muktamirin, pemerintah, hingga Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga: Dari Tambakberas, Merawat Khidmat, Menjaga Ukhuwah di Muktamar ke-35 NU

Tausiyah tersebut disampaikan KH Muhibbul Aman Aly. Salah satu penekanan utama para kiai adalah agar seluruh proses Muktamar tetap berjalan dalam koridor adab, akhlakul karimah, musyawarah dan khittah Nahdlatul Ulama.

Para kiai mengingatkan bahwa NU merupakan jam'iyyah diniyyah ijtima'iyah yang memiliki tradisi keulamaan dan nilai-nilai organisasi yang harus dijaga. Karena itu, seluruh rangkaian Muktamar diharapkan tidak diwarnai tindakan yang dapat merusak kehormatan organisasi.

Pesan berikutnya menyangkut proses pemilihan kepemimpinan NU. Para muktamirin diminta menggunakan haknya secara bertanggung jawab dengan mengutamakan kepentingan jam'iyah, menjaga persatuan dan menghindari pertikaian.

Dalam forum tersebut, para kiai juga memberikan perhatian khusus terhadap proses penentuan Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA). Mekanisme yang berkaitan dengan posisi dan peran ulama tersebut diminta dijalankan secara terhormat tanpa tekanan maupun praktik yang dapat mencederai martabat keulamaan.

“Jangan nodai proses penentuan AHWA dengan transaksi, tekanan, rekayasa atau cara-cara yang tidak terpuji,” kata KH Muhibbul Aman Aly, ditulis Kamis (27/8/2026). 

Menurut para kiai, Muktamar merupakan forum yang memberikan ruang kepada peserta untuk menjalankan haknya dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi. Karena itu, kebebasan muktamirin dalam menyampaikan pendapat maupun menentukan pilihan dinilai harus dijamin.

Pengondisian, tekanan, manipulasi dan berbagai bentuk rekayasa yang dapat memengaruhi kebebasan peserta menjadi hal yang secara tegas diingatkan agar tidak terjadi dalam pelaksanaan Muktamar.

Baca juga: Gus Fahim Blora Respons Hasil Muktamar ke-35 NU, Titip Pesan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU Terpilih

Para kiai sepuh juga menyerukan agar pemerintah, kekuatan politik serta pihak-pihak yang berada di luar struktur NU menghormati kemandirian organisasi. Mereka meminta seluruh pihak tidak melakukan tindakan yang dapat dipandang sebagai bentuk intervensi terhadap proses Muktamar.

Pesan tersebut kemudian diarahkan secara khusus kepada Presiden Prabowo Subianto. Para kiai menyatakan kepercayaan kepada Presiden untuk memastikan pemerintah tetap menghormati kemandirian NU serta kedaulatan peserta Muktamar.

Para kiai juga meminta Presiden mengambil langkah tegas apabila ditemukan pejabat, termasuk menteri, yang melakukan tindakan yang dinilai tidak patut atau mengarah pada intervensi terhadap proses Muktamar.

“Para kiai siap menghadap Presiden untuk menyampaikan secara langsung informasi dan hal-hal yang menjadi keprihatinan kami,” ujar KH Muhibbul Aman Aly.

Menurutnya, langkah tersebut ditempuh sebagai bagian dari upaya menjaga kehormatan pemerintah sekaligus memastikan kemandirian Nahdlatul Ulama dan kedaulatan Muktamar tetap terjaga.

Baca juga: Prabowo Resmi Terima KTA NU di Jombang, Janji Saat Buka Muktamar Akhirnya Ditunaikan

Poin terakhir tausiyah ditujukan kepada pihak-pihak yang dinilai berpotensi mengganggu atau mengacaukan jalannya Muktamar. Para kiai meminta tindakan tersebut dihentikan dan mengingatkan setiap pihak agar menyadari kesalahan serta tidak meneruskan perbuatan yang dianggap tidak terpuji.

Tujuh pesan tersebut pada akhirnya bermuara pada harapan agar Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung dengan suasana damai, jujur dan bermartabat.

Para kiai sepuh berharap para muktamirin dapat menjalankan mandatnya dengan bebas dan bertanggung jawab sehingga forum tersebut mampu menghasilkan kepemimpinan NU yang mengutamakan kemaslahatan jam'iyah.

“Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menjaga, melindungi dan membimbing Nahdlatul Ulama,” pungkas KH Muhibbul Aman Aly.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru