Jombang, MEMANGGIL.CO - Menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) bagi KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin tidak berhenti pada persoalan mengisi struktur kepengurusan. Khidmah di jam'iyah NU, menurut Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah itu, merupakan bagian dari proses memperbaiki diri sekaligus memberikan manfaat kepada jamaah dan masyarakat.
Pandangan tersebut menjadi salah satu cara Gus Rozin memaknai perjalanan panjangnya di lingkungan NU. Ia melihat NU bukan hanya sebagai organisasi dengan struktur, program, dan kepengurusan berjenjang, tetapi juga sebagai ruang untuk menumbuhkan kebaikan melalui pengabdian.
Baca juga: Dari Tambakberas, Merawat Khidmat, Menjaga Ukhuwah di Muktamar ke-35 NU
"NU ini adalah organisasi yang baik. Justru kitalah yang ingin menjadi baik dengan melalui NU," kata Gus Rozin, ditulis Jumat (28/8/2026).
Pernyataan itu menggambarkan cara pandang bahwa keberadaan seseorang di tengah NU seharusnya membawa proses perubahan pada dirinya. Lingkungan pesantren, para kiai, tradisi keilmuan, serta aktivitas organisasi menjadi bagian dari proses tersebut.
Dalam kultur pesantren, pengabdian atau khidmah memiliki makna yang luas. Seseorang tidak sekadar menjalankan tugas karena mendapatkan posisi, tetapi berusaha memberikan waktu, tenaga dan pikiran untuk kepentingan yang lebih besar.
Bagi Gus Rozin, proses tersebut kemudian tidak berhenti pada upaya menjadi pribadi yang lebih baik. Kebaikan yang tumbuh dari individu diharapkan berlanjut kepada jamaah dan kemudian memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Cara pandang itu menjadi relevan ketika pembicaraan mengenai kepemimpinan NU mengemuka menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.
Sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU, Gus Rozin membawa pengalaman panjang dalam berbagai tingkatan organisasi. Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan banyak bidang kehidupan NU, mulai dari kaderisasi, kepemudaan, pesantren, pendidikan, pengurus cabang hingga struktur wilayah dan pusat.
Gus Rozin pernah menjadi Pengurus Pusat IPNU periode 1998–2001. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Pengurus Pusat GP Ansor periode 2000–2004.
Pengalamannya berlanjut di bidang pendidikan melalui posisi Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010–2013. Ia kemudian dipercaya memimpin RMI NU Jawa Tengah pada 2013–2015 dan menjadi Ketua RMI PBNU periode 2015–2021.
Di tingkat cabang, Gus Rozin pernah menjadi Mustasyar PCNU Kabupaten Pati periode 2019–2024. Ia juga tercatat sebagai Katib Syuriah PBNU periode 2021–2023.
Sejak 2024, Gus Rozin dipercaya sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah untuk masa khidmah 2024–2029.
Lintasan panjang tersebut menjadi modal pengalaman dalam melihat NU dari berbagai sisi. Ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan organisasi di tingkat struktural, tetapi juga bersentuhan dengan pesantren, lembaga pendidikan, kader muda dan jamaah di berbagai daerah.
Dari pengalaman tersebut, gagasan mengenai hubungan antara jamaah dan jam'iyah menjadi penting. NU sebagai jam'iyah tidak dapat dilepaskan dari keberadaan jutaan jamaah yang menjadi bagian dari kehidupan organisasi.
Karena itu, penguatan organisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pembenahan struktur di tingkat pusat. Penguatan juga harus menyentuh orang-orang yang menjalankan kehidupan NU di tingkat akar rumput.
Semakin kuat jamaah, semakin besar pula modal sosial yang dimiliki jam'iyah. Sebaliknya, organisasi akan menghadapi tantangan ketika struktur yang kuat tidak diikuti dengan kualitas dan keterlibatan jamaah.
Baca juga: Gus Fahim Blora Respons Hasil Muktamar ke-35 NU, Titip Pesan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU Terpilih
Dalam kerangka tersebut, khidmah bukan dipahami sebagai aktivitas yang hanya dilakukan ketika seseorang menduduki jabatan tertentu. Khidmah justru menjadi bentuk keterlibatan untuk menjaga keberlangsungan organisasi sekaligus memastikan keberadaannya memberikan manfaat.
Pertanyaan mengenai alasan seseorang bersedia mengurus NU pun akhirnya tidak semata-mata dapat dijawab dengan ukuran jabatan atau keuntungan material.
Mengurus organisasi sebesar NU membutuhkan kesediaan memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan menghadapi berbagai persoalan yang muncul di tengah jamaah.
Di situlah gagasan menjadi baik bersama NU menemukan relevansinya. Seseorang berada dalam lingkungan NU untuk belajar, memperbaiki diri dan kemudian membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.
Proses tersebut dapat bergerak dari lingkup paling kecil. Individu yang tumbuh dalam lingkungan yang baik diharapkan mampu membangun keluarga dan komunitas yang baik. Dari sana terbentuk jamaah yang kuat, kemudian menjadi fondasi bagi jam'iyah yang semakin kokoh.
Dalam perspektif itu, pembangunan NU tidak hanya berbicara mengenai program kerja dan struktur organisasi. Ada dimensi manusia yang menjadi bagian penting dari keberlangsungan jam'iyah.
Gus Rozin menempatkan pengalaman organisasi yang telah dijalaninya sebagai bagian dari proses panjang tersebut. Berbagai jenjang yang pernah dilalui memberinya kesempatan untuk memahami karakter dan kebutuhan NU dari perspektif yang berbeda.
Pengalaman di organisasi kader muda, lembaga pendidikan, Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI), struktur cabang, hingga PWNU dan PBNU menjadi perjalanan yang membentuk pemahamannya mengenai pengabdian.
Baca juga: Prabowo Resmi Terima KTA NU di Jombang, Janji Saat Buka Muktamar Akhirnya Ditunaikan
Menjelang Muktamar ke-35 NU yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, gagasan mengenai khidmah tersebut kembali mendapat perhatian.
Kontestasi kepemimpinan di tubuh NU tidak hanya menyangkut siapa yang akan menempati posisi tertentu. Di balik itu terdapat pembicaraan mengenai arah organisasi, penguatan jamaah, kaderisasi, pesantren, pendidikan, serta kemampuan NU menjawab perubahan zaman.
Dalam kerangka Gus Rozin, kepemimpinan idealnya tidak dipisahkan dari proses pengabdian. Jabatan organisasi menjadi sarana untuk bekerja, bukan tujuan akhir.
"Justru kitalah yang ingin menjadi baik dengan melalui NU," tegas Gus Rozin.
Pandangan tersebut sekaligus menempatkan kepemimpinan sebagai proses dua arah. Ketika seseorang berusaha memperbaiki dirinya melalui lingkungan NU, pada saat yang sama ia dituntut memberikan kontribusi agar jamaah dan jam'iyah juga bergerak menuju kondisi yang lebih baik.
Dari individu kemudian tumbuh jamaah. Dari jamaah terbentuk kekuatan jam'iyah. Selanjutnya, kekuatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Bagi Gus Rozin, khidmah dengan demikian bukan sekadar aktivitas mengurus organisasi. Ia merupakan perjalanan untuk terus belajar, memperbaiki diri dan menghadirkan kebaikan melalui NU.
Editor : Redaksi