Edisi Muktamar ke-35 NU

Dari IPNU, Ansor hingga PWNU Jateng, Perjalanan Panjang Gus Rozin dalam Khidmah di NU

Reporter : Redaksi
Gus Rozin ketika berbincang bersama Gus Ipul. (Istimewa)

Jombang, MEMANGGIL.CO -Bagi KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, pembicaraan mengenai khidmah di Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar gagasan yang muncul menjelang Muktamar ke-35. Nilai pengabdian itu berjalan beriringan dengan perjalanan panjangnya di berbagai tingkatan organisasi.

Pengalaman tersebut mempertemukan Gus Rozin dengan beragam wajah NU. Mulai dari kader muda, organisasi kepemudaan, pesantren, lembaga pendidikan, pengurus cabang, pengurus wilayah, hingga struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Baca juga: Dari Tambakberas, Merawat Khidmat, Menjaga Ukhuwah di Muktamar ke-35 NU

Lintasan panjang itu menjadi penting karena pengalaman organisasi tidak hanya memberikan pemahaman mengenai tata kelola jam'iyah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana NU hidup di tengah jamaah.

Gus Rozin tercatat pernah menjadi Pengurus Pusat IPNU periode 1998–2001. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Pengurus Pusat GP Ansor periode 2000–2004.

Perjalanan tersebut menempatkannya dalam lingkungan kaderisasi NU sekaligus mempertemukannya dengan dinamika generasi muda Nahdliyin.

Pengalamannya kemudian berlanjut di bidang pendidikan dan pesantren. Gus Rozin pernah menjadi Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010–2013.

Setelah itu, ia dipercaya memimpin Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Tengah pada 2013–2015, sebelum kemudian menjadi Ketua RMI PBNU periode 2015–2021.

Keterlibatan dalam RMI memperluas pengalaman Gus Rozin dalam berhubungan dengan pesantren sebagai salah satu basis penting kehidupan NU.

Pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang pembentukan kader, pengembangan tradisi keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pengalaman itu kemudian berlanjut ke struktur organisasi NU lainnya.

Pada periode 2019–2024, Gus Rozin dipercaya sebagai Mustasyar PCNU Kabupaten Pati. Selanjutnya, ia menjadi Katib Syuriah PBNU periode 2021–2023.

Sejak 2024, Gus Rozin dipercaya memimpin PWNU Jawa Tengah untuk masa khidmah 2024–2029.

Rentang pengalaman tersebut menunjukkan perjalanan yang berlangsung selama puluhan tahun. Setiap jenjang membawa persoalan dan tanggung jawab yang berbeda.

Di organisasi kader, persoalan yang dihadapi berkaitan dengan pengembangan generasi muda. Di lingkungan pesantren, perhatian diarahkan pada penguatan lembaga dan tradisi keilmuan. Sementara di struktur NU, cakupan tanggung jawab semakin luas karena menyangkut jamaah dan organisasi pada berbagai tingkatan.

Dari perjalanan tersebut, konsep khidmah kemudian tidak dapat dilepaskan dari pengalaman konkret mengelola organisasi.

Bagi Gus Rozin, berada dalam NU berarti terus belajar sekaligus mengambil bagian dalam kerja-kerja yang memberikan manfaat.

Hal tersebut sejalan dengan pandangannya bahwa NU merupakan organisasi yang baik dan menjadi lingkungan bagi seseorang untuk berproses menjadi lebih baik.

Baca juga: Gus Fahim Blora Respons Hasil Muktamar ke-35 NU, Titip Pesan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU Terpilih

“Justru kitalah yang ingin menjadi baik dengan melalui NU,” ujar Gus Rozin, ditulis Sabtu (29/8/2026). 

Pernyataan itu menjadi penting jika dikaitkan dengan perjalanan organisasinya. Sebab, pengalaman panjang di berbagai lembaga dan struktur NU membuat gagasan mengenai kebaikan tidak berhenti pada tataran personal.

Ada dimensi jamaah dan jam'iyah yang ikut menjadi perhatian.

Seorang pengurus, dalam kerangka tersebut, tidak cukup hanya menyelesaikan pekerjaan administrasi organisasi.

Ia juga mempunyai tanggung jawab untuk menggerakkan kader, mengembangkan potensi jamaah, serta memastikan organisasi mampu menghadirkan manfaat.

Karena itu, pengalaman panjang dalam berbagai jenjang NU dapat menjadi modal untuk memahami persoalan organisasi secara lebih menyeluruh.

Perjalanan dari IPNU dan GP Ansor, kemudian masuk ke wilayah pendidikan melalui LP Ma'arif, bersentuhan dengan pesantren melalui RMI, hingga menjalankan amanah dalam struktur PBNU dan PWNU Jawa Tengah, memberikan ruang bagi Gus Rozin untuk melihat NU dari berbagai perspektif.

Perspektif tersebut kemudian menjadi relevan ketika Muktamar ke-35 NU semakin dekat.

Baca juga: Prabowo Resmi Terima KTA NU di Jombang, Janji Saat Buka Muktamar Akhirnya Ditunaikan

Muktamar bukan hanya momentum pergantian kepemimpinan. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk membicarakan arah perjalanan jam'iyah dalam menghadapi tantangan ke depan.

Dalam konteks itu, pengalaman seseorang di berbagai tingkatan organisasi menjadi salah satu aspek yang ikut diperhatikan ketika membicarakan calon pemimpin.

Namun, bagi Gus Rozin, kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari semangat pengabdian.

Memimpin NU berarti bersedia masuk lebih jauh ke dalam persoalan jamaah, memperkuat kader, serta memastikan struktur organisasi memiliki hubungan yang kuat dengan kebutuhan masyarakat.

Dari sinilah pengalaman panjang Gus Rozin kemudian bertemu dengan gagasan tentang masa depan NU.

Khidmah yang dimulai dari proses menjadi baik secara pribadi diharapkan berkembang menjadi upaya membuat jamaah lebih baik dan pada akhirnya memperkuat jam'iyah.

Rangkaian pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk melihat bagaimana Gus Rozin menempatkan jamaah dan jam'iyah dalam gagasan kepemimpinannya menjelang Muktamar ke-35.

Pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar bagaimana seseorang menjalani khidmah, melainkan bagaimana nilai pengabdian itu diterjemahkan menjadi agenda untuk membawa NU menjadi lebih kuat dan semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru