Edisi Muktamar ke-35 NU

Gus Rozin Dorong NU Diperkuat dari Jamaah hingga Jam’iyah

Reporter : Redaksi
Gus Rozin ketika berbincang bersama Gus Ipul. (Istimewa)

Jombang, MEMANGGIL.CO - Perjalanan panjang KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin di berbagai tingkatan Nahdlatul Ulama (NU) membawa satu gagasan yang terus berkelindan yakni memperkuat jam'iyah harus berjalan seiring dengan upaya memperbaiki jamaah.

Gagasan tersebut menjadi relevan menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026.

Baca juga: Dari Tambakberas, Merawat Khidmat, Menjaga Ukhuwah di Muktamar ke-35 NU

Bagi Gus Rozin, NU tidak hanya terdiri atas struktur organisasi di tingkat pusat maupun wilayah. Di balik struktur tersebut terdapat jutaan jamaah yang menjadi kekuatan utama jam'iyah.

Karena itu, membangun NU tidak cukup hanya dengan menyusun program organisasi. Penguatan jamaah, kaderisasi, pendidikan, pesantren, serta kerja-kerja sosial juga menjadi bagian penting dari upaya memperkokoh NU.

Cara pandang tersebut berangkat dari pemahaman bahwa organisasi yang kuat membutuhkan orang-orang yang kuat pula.

Jika jamaah memiliki kapasitas, kepedulian, dan semangat pengabdian yang semakin baik, maka jam'iyah memiliki modal yang lebih besar untuk berkembang.

Di titik ini, konsep khidmah mendapatkan makna yang lebih luas.

Seseorang yang menjadi pengurus NU tidak hanya bertanggung jawab kepada struktur organisasi, tetapi juga kepada jamaah yang dilayaninya.

Pengurus dituntut hadir, mendengar persoalan di bawah, menggerakkan kader, serta menciptakan ruang agar potensi warga NU dapat berkembang.

Gagasan tersebut sekaligus memperlihatkan cara Gus Rozin melihat hubungan antara individu, jamaah, dan jam'iyah.

“NU ini adalah organisasi yang baik. Justru kitalah yang ingin menjadi baik dengan melalui NU,” kata Gus Rozin, ditulis Jumat (28/8/2026). 

Pernyataan itu menempatkan proses pembentukan manusia sebagai bagian dari pembangunan organisasi.

Ketika seseorang menjadi lebih baik melalui lingkungan NU, kebaikan tersebut diharapkan tidak berhenti pada dirinya. Nilai yang diperoleh kemudian dibawa kepada keluarga, jamaah, organisasi, dan masyarakat.

Dari individu lahir jamaah. Dari jamaah terbentuk kekuatan jam'iyah. Sedangkan jam'iyah yang kuat diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas.

Kerangka tersebut menjadi salah satu perspektif dalam melihat kepemimpinan NU ke depan.

Pengalaman Gus Rozin selama berada di berbagai jenjang organisasi membuatnya bersentuhan dengan persoalan kaderisasi, pesantren, pendidikan, struktur NU, hingga kehidupan jamaah di daerah.

Ia pernah berada di jajaran Pengurus Pusat IPNU, GP Ansor, LP Ma'arif PBNU, RMI NU Jawa Tengah, RMI PBNU, PCNU Kabupaten Pati, PBNU, hingga kini memimpin PWNU Jawa Tengah.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman organisasi dibangun melalui proses panjang dan lintas bidang.

Baca juga: Gus Fahim Blora Respons Hasil Muktamar ke-35 NU, Titip Pesan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU Terpilih

Dalam konteks Muktamar ke-35, pengalaman itu kemudian menjadi salah satu modal untuk menawarkan perspektif mengenai kepemimpinan NU.

Kepemimpinan tidak semata-mata dipahami sebagai kemampuan mengelola struktur. Ada tanggung jawab moral untuk menjaga tradisi, memperkuat kader, merawat hubungan dengan pesantren dan kiai, sekaligus memastikan NU tetap dekat dengan jamaah.

Dengan pendekatan tersebut, kepemimpinan NU diharapkan tidak berhenti pada pusat organisasi. Kekuatan NU justru perlu terasa sampai ke tingkat bawah, tempat jamaah menjalani kehidupan sehari-hari.

Agenda organisasi pada akhirnya harus mempunyai hubungan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Penguatan pendidikan, pesantren, kaderisasi, ekonomi umat, pelayanan sosial, hingga pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari ruang pengabdian yang dapat dikerjakan melalui jam'iyah.

Karena itu, semangat menjadi baik bersama NU tidak hanya berkaitan dengan pembentukan pribadi pengurus. Gagasan tersebut berkembang menjadi cara melihat bagaimana seluruh unsur NU dapat bergerak menuju kondisi yang lebih baik.

Muktamar ke-35 kemudian menjadi momentum untuk menentukan bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan dalam kepemimpinan organisasi.

Bagi Gus Rozin, pengalaman panjang dalam menjalani berbagai amanah NU menjadi bagian dari proses belajar yang belum selesai.

Khidmah tidak dipandang sebagai tujuan untuk mendapatkan posisi, melainkan kesediaan untuk terus bekerja dan memberikan manfaat.

Baca juga: Prabowo Resmi Terima KTA NU di Jombang, Janji Saat Buka Muktamar Akhirnya Ditunaikan

Dalam perspektif itu, jabatan dalam struktur justru membawa konsekuensi tanggung jawab yang lebih besar.

Semakin tinggi amanah yang diterima, semakin luas pula ruang pengabdian yang harus dijalankan.

Karena itu, pembicaraan tentang calon pemimpin NU tidak hanya dapat dilihat dari siapa yang menduduki posisi tertentu. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kemampuan memahami jamaah dan menggerakkan jam'iyah.

Menjelang Muktamar ke-35 pada 27–31 Agustus 2026, gagasan Gus Rozin tentang khidmah, jamaah, dan jam'iyah menjadi salah satu perspektif yang ikut mewarnai pembicaraan mengenai masa depan NU.

Pada akhirnya, membangun NU bukan sekadar pekerjaan memperbaiki struktur organisasi.

Ada pekerjaan yang lebih mendasar, yakni membangun manusia yang berada di dalamnya.

Ketika pengurus berusaha menjadi lebih baik, jamaah diharapkan ikut memperoleh manfaat. Ketika jamaah semakin kuat, jam'iyah memiliki fondasi yang semakin kokoh.

Dari sanalah pengabdian menemukan maknanya: menjadi baik melalui NU, kemudian bersama-sama membuat NU semakin baik dan semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru