Jejak Sejarah Leuwiliang

Bogor Historical Walk Ajak Masyarakat Jelajahi Jejak Sejarah Leuwiliang

Reporter : Yudi Irawan
Komunitas Bogor Historical Walk (BHW) mengajak masyarakat mengenal sejarah. (Foto: Yudi Irawan/Memanggil.co)

Bogor, MEMANGGIL.CO - Sejarah tidak selalu harus dipelajari melalui buku, angka, dan hafalan tanggal. Di Bogor, komunitas Bogor Historical Walk (BHW) mengajak masyarakat mengenal sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan, yakni melalui kegiatan berjalan dan menjelajahi langsung berbagai situs bersejarah.

Komunitas yang bersifat cair ini kini telah memiliki lebih dari 2.000 anggota. Berbagai kegiatan pun rutin digelar dengan mengangkat beragam tema sejarah, budaya, hingga konservasi.

Founder Bogor Historical Walk, Ramadhian, mengatakan BHW memiliki sekitar 35 tema kegiatan. Mulai dari sejarah Kota Bogor, bangunan kolonial, sejarah perkeretaapian, Kebun Raya Bogor, kuliner legendaris, hingga urban trekking yang menggabungkan aktivitas berjalan kaki dengan pengenalan sejarah.

"Kami mencoba mengenalkan sejarah dengan cara yang menyenangkan. Karena sejarah itu bukan hanya soal tahun dan tanggal yang harus dihafalkan, tetapi bagaimana kita bisa belajar dari masa lalu," ujar Ramadhian.

Selain sejarah, BHW juga memiliki program pengenalan konservasi. Salah satunya melalui kegiatan di Suaka Elang. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengetahui ancaman perburuan terhadap elang, sekaligus memahami proses rehabilitasi hingga upaya pelepasliaran satwa.

Menyusuri Jejak Sejarah Leuwiliang

Kali ini, BHW mengajak peserta menjelajahi kawasan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Ada dua lokasi yang menjadi tujuan, yakni Museum Pasir Angin dan Mausoleum von Mottmann.

Di Museum Pasir Angin, peserta tidak hanya melihat berbagai peninggalan arkeologi, tetapi juga mendapatkan cerita mengenai berbagai peristiwa yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

Salah satu yang menarik perhatian adalah kisah The Battle of Leuwiliang atau Pertempuran Leuwiliang yang berlangsung pada 2 hingga 4 Maret 1942.

Pertempuran tersebut melibatkan pasukan dari Australia, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda yang tergabung dalam pasukan Sekutu untuk menghambat pergerakan pasukan Jepang.

Pasukan Sekutu berupaya menahan laju tentara Jepang yang datang dari arah Banten menuju Buitenzorg atau Bogor. Tujuannya agar warga sipil dan pasukan militer dari Batavia memiliki kesempatan untuk mundur ke arah Bandung.

Menurut Ramadhian, peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah Perang Dunia Kedua yang terjadi di kawasan Bogor.

"Kalau orang Bogor sekarang mungkin melihat Leuwiliang sebagai daerah yang macet dan panas. Tetapi sebenarnya Leuwiliang memiliki sejarah yang sangat penting," katanya.

Selain jejak Perang Dunia Kedua, Museum Pasir Angin juga menyimpan peninggalan arkeologi yang memperlihatkan perjalanan kebudayaan masyarakat dari masa ke masa.

PESERTA TEMUKAN SISI LAIN SEJARAH

Kegiatan BHW mendapat respons positif dari para peserta. Devina, salah seorang peserta, mengaku tertarik mengikuti kegiatan karena ingin mengetahui lebih jauh sejarah Bogor dan Jawa Barat.

Menurutnya, kegiatan BHW memberikan pengalaman berbeda karena peserta dapat melihat secara langsung situs dan peninggalan sejarah yang sebelumnya hanya diketahui melalui cerita atau buku.

"Menurut saya keren banget. Kita bisa tahu sejarah dari mulai kerajaan, pemberontakan, penjajahan Belanda, sampai peristiwa di Leuwiliang," ujar Devina.

Devina mengaku telah mengikuti kegiatan BHW lebih dari 10 kali. Ia berharap kegiatan serupa terus dikembangkan dengan mengunjungi lebih banyak situs dan museum.

Sementara itu, peserta lainnya, Sandi Wisnu Aji, mengaku kegiatan di Museum Pasir Angin merupakan pengalaman keduanya bersama BHW. Sebelumnya, ia mengikuti kegiatan ke Situs Ciaruteun yang berkaitan dengan peninggalan Kerajaan Tarumanegara.

Sandi menilai belajar sejarah bersama praktisi, arkeolog, dan pegiat sejarah memberikan perspektif berbeda terhadap sebuah peristiwa.

"Ketika kita belajar bersama praktisi, arkeolog, dan teman-teman sejarah lainnya, ada sisi-sisi lain yang bisa diceritakan dan diketahui dari sejarah itu sendiri," kata Sandi.

Menurut Sandi, salah satu hal menarik dalam perjalanan kali ini adalah mengetahui bahwa Leuwiliang pernah menjadi lokasi pertempuran besar pada masa Perang Dunia Kedua.

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap museum, situs sejarah, dan berbagai peninggalan masa lalu.

"Jangan hanya cerita dari tutur, tetapi juga dari bukti dan peninggalan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan begitu, pengetahuan kita tentang jati diri bangsa akan semakin kuat," ujarnya.

SEJARAH SEBAGAI GURU KEHIDUPAN

Bagi BHW, mengenalkan sejarah kepada generasi muda menjadi salah satu tujuan utama komunitas. Sejarah yang selama ini dianggap membosankan karena identik dengan hafalan tanggal dan nama tokoh, coba dikemas menjadi pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan berjalan kaki, mengunjungi museum, menyusuri situs, hingga mengenal bangunan bersejarah, masyarakat diajak melihat bahwa sejarah sebenarnya berada di sekitar mereka.

Ramadhian berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik mempelajari sejarah dengan cara yang menyenangkan.

Sebab, menurutnya, sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Sejarah juga menjadi guru kehidupan yang dapat membantu masyarakat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Dengan semangat tersebut, Bogor Historical Walk terus mengembangkan berbagai program agar sejarah Bogor dan Jawa Barat tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga dikenal, dikunjungi, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru