Edisi Muktamar ke-35 NU

Detik-detik Mencekam Muktamar ke-35 NU di Jombang, Massa Geruduk Ruang Pleno hingga AC Rusak

Reporter : Redaksi
Suasana mencekam saat massa mendatangi arena Sidang Pleno IV Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. (Istimewa)

Jombang, MEMANGGIL.CO - Suasana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mendadak berubah tegang, Minggu (30/8/2026) siang. Rangkaian persidangan yang tengah memasuki pembahasan penting diwarnai aksi massa yang mendatangi arena pleno.

Massa bergerak menuju Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, lokasi berlangsungnya sidang. Kehadiran mereka membuat situasi di sekitar arena muktamar memanas hingga petugas keamanan harus memperketat penjagaan.

Baca juga: Korban Keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh Jombang Jadi 259 Orang, 3 Masih Dirawat

Ketegangan terjadi saat Sidang Pleno IV membahas tata tertib yang berkaitan dengan proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Aksi massa tersebut disebut berkaitan dengan keberatan terhadap sejumlah ketentuan pencalonan, termasuk aturan mengenai masa jeda bagi seseorang yang sebelumnya memiliki jabatan politik.

Situasi semakin mencekam ketika massa berupaya mendekati area ruang sidang. Barikade pengamanan dibentuk untuk menghalangi massa agar tidak masuk ke ruang pleno.

Dorong-dorongan antara massa dan petugas keamanan sempat terjadi. Suara teriakan dan desakan terdengar di sekitar gedung ketika massa meminta agar pimpinan sidang diganti.

Kericuhan bahkan berdampak pada fasilitas di sekitar ruang pleno. Sejumlah bagian fasilitas pendingin ruangan atau AC dilaporkan mengalami kerusakan dalam situasi yang berlangsung tegang tersebut.

Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU Bidang Media dan Publikasi, Muhammad Izzul Islam, sebelumnya membenarkan adanya kericuhan.

Menurutnya, situasi tersebut terjadi ketika pimpinan sidang bersama para masyayikh tengah menetapkan tata tertib pemilihan Ketua Umum PBNU.

“Sekitar jam 12 terdapat kericuhan dari oknum-oknum bukan peserta muktamar,” ujar Izzul.

Massa yang berada di sekitar arena disebut membawa aspirasi terkait pencalonan Ketua Umum PBNU. Mereka mempersoalkan penerapan ketentuan organisasi yang dianggap berpengaruh terhadap peluang sejumlah kandidat.

Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf. Pendukungnya menilai Gus Yusuf memiliki kapasitas untuk ikut dalam kontestasi pemilihan Ketua Umum PBNU.

Namun, ketentuan mengenai pengalaman kepengurusan dan masa jeda politik menjadi persoalan yang kemudian memicu protes.

Dalam situasi tersebut, massa terus menyampaikan tuntutan agar proses persidangan dievaluasi. Mereka juga meminta para kiai sepuh turun tangan menyelesaikan persoalan yang berkembang.

Baca juga: Polisi Telusuri Sumber Keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh Jombang

Petugas keamanan berusaha mempertahankan akses menuju ruang pleno. Barisan pengamanan diperkuat untuk mencegah massa menerobos masuk ke arena persidangan.

Kericuhan membuat suasana di sekitar gedung semakin tidak kondusif. Persidangan pun menjadi perhatian karena berlangsung di tengah tekanan massa dari luar ruang pleno.

Di tengah situasi yang memanas, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya turun menemui massa.

Gus Yahya meminta massa, khususnya mereka yang mendukung Gus Yusuf, untuk menahan diri dan tidak memperkeruh keadaan.

“Saya mohon agar lebih tenang,” ujar Gus Yahya.

Ia juga menyatakan akan berupaya mencari jalan keluar atas persoalan yang terjadi. Menurutnya, perbedaan pandangan dalam muktamar seharusnya tetap diselesaikan melalui mekanisme organisasi.

Gus Yahya juga mengakui bahwa Gus Yusuf merupakan kader yang memiliki kapasitas.

Baca juga: 256 Siswa dan Guru SMPN 1 Kabuh Mengeluh Usai Santap MBG, SPPG Soroti Menu Udang

“Beliau adalah kader yang unggul,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah situasi yang masih menjadi perhatian massa. Upaya menenangkan massa dilakukan agar ketegangan tidak berkembang menjadi kericuhan yang lebih luas.

Sementara itu, proses Muktamar ke-35 NU tetap memasuki tahapan penting. Sebelumnya, forum telah membahas mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA).

Sembilan nama kiai dengan suara tertinggi dalam tabulasi nasional AHWA telah tercatat sebagai AHWA terpilih. Hasil tersebut menjadi salah satu tahapan menuju proses penentuan kepemimpinan PBNU periode mendatang.

Kericuhan di arena pleno kemudian menjadi salah satu dinamika paling menegangkan sepanjang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas.

Di tengah perbedaan pandangan mengenai aturan pencalonan, seluruh pihak kini dituntut menjaga suasana muktamar agar tetap kondusif. Persidangan dan mekanisme organisasi menjadi jalur yang diharapkan dapat menyelesaikan perbedaan tanpa kembali memicu ketegangan di arena muktamar.

 

Editor : Ahmad Adirin

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru