Double Track Ponorogo Naik Kelas, Transaksi Siswa Capai Rp161,1 Juta

Reporter : Saputra
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai melihat langsung hasil karya program SMA Double Track di Kabupaten Ponorogo. (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar monitoring dan evaluasi (Monev) program SMA Double Track di Kabupaten Ponorogo. 

Berbeda dari tahun sebelumnya, Monev yang dilaksanakan pada Kamis (03/09/2026) ini lebih implementatif dengan fokus pada Focus Group Discussion (FGD) bersama sekolah, bukan seremonial.

Melalui FGD, 10 SMAN di Ponorogo menyampaikan praktik baik, tantangan, dan perkembangan program. Hadir juga alumni yang sudah sukses berwirausaha untuk berbagi pengalaman dampak keterampilan Double Track.

"Lewat FGD ini, sekolah bisa menyampaikan praktik baik, tantangan dan kendala yang dihadapi. Kita juga menghadirkan alumni untuk melihat sejauh mana Double Track memberikan dampak terhadap usaha yang mereka rintis. Jadi hasilnya lebih implementatif," jelas Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai, Senin (07/09/2026). 

Program di Ponorogo dilaksanakan di 10 SMAN dengan 22 rombel dan melibatkan 631 murid aktif. Ada 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS) serta 4.289 alumni.

Rinciannya adalah 1.824 alumni atau 42,47% sudah bekerja dan 366 alumni berwirausaha. 
Untuk transaksi, Ponorogo mencatat Rp161,1 juta dari target Rp214,7 juta, atau terealisasi 75,79%.

"Target kita bukan sekadar tentang angka transaksi. Melainkan membangun ekosistem usaha siswa yang sehat dan berkelanjutan," ujar Aries.

Untuk 10 SMAN Pelaksana adalah SMAN 1 Sambit, Badegan, Slahung, Jenangan, Kauman, Ngrayun, Jetis, Bungkal, Balong, dan Sampung.

Aries menekankan konsep 5P yakni Pelajari, Produksi, Pasarkan, Pelanggankan, Perbesar. Siswa tidak hanya membuat produk, tapi harus berani memasarkan dan mengembangkannya.

Ia menyebut tantangan utama adalah keterbatasan modal, bahan praktik, dan sarana. Solusinya adalah efisiensi bahan, rotasi praktik, kerja sama dengan DUDI, dan pemetaan kebutuhan sarana berbasis prioritas.

Soal pemasaran, Aries menyoroti branding dan digital yang belum optimal. 

"Masih ada produk bagus tapi kemasan kurang menarik, katalog belum tertata, strategi pemasaran kreatif belum ada," katanya.

Aries juga menerapkan strategi 3 Lapis Pasar untuk memperluas pasar. Yang pertama Pasar Internal Sekolah yakni uji produk dan dapatkan feedback. 

Kemudian Pasar Lokal Ponorogo yakni kerja sama dengan UMKM dan komunitas. Dan yang ketiga Pasar Digital yakni dengan membuat etalase online, konten menarik, dan layanan cepat

"Pasar digital harus membuat semua sekolah memiliki etalase yang sama luasnya," ujarnya.

Aries juga meminta perubahan peran. Kepsek sebagai CEO, guru sebagai mentor dan market connector, dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sebagai mitra aktif.

Untuk mengukur keberhasilan, Dindik Jatim menetapkan 6 KPI yakni. Kompetensi, Unggulan, Pasar, Transaksi, Kemitraan, dan Alumni. 

"Kami berharap setelah monev ini ada perbaikan nyata. Keterampilan yang diperoleh siswa bisa menjadi bekal untuk bekerja maupun menciptakan usaha secara mandiri," harap Aries.

Dalam monev tersebut, SMAN 1 Kauman, Ngrayun, Jetis, Jenangan, Badegan, dan Sampung turut mempresentasikan keberhasilan program siswa.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru