Dosen Geologi ITS Sebut 4 Status Gunung Api Jadi Kunci Mitigasi, Bukan Prediksi Pasti Erupsi

Reporter : Saputra
Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng. (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Aktivitas vulkanik Indonesia yang tengah meningkat membuat mitigasi bencana dan edukasi publik jadi perhatian. 

Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr M Haris Miftakhul Fajar MEng menekankan, mitigasi harus berbasis data pemantauan resmi.

"Status gunung api normal, waspada, siaga, hingga awas menjadi acuan mitigasi, bukan sekadar penanda akan terjadi letusan," terang Haris, Senin (07/09/2026). 

Keempat status itu, menurutnya, bisa jadi panduan masyarakat hingga pemerintah dalam menentukan langkah pengamanan di lapangan.

Pemerintah melalui PVMBG - Badan Geologi Kementerian ESDM telah menyediakan platform MAGMA Indonesia. 

Platform ini menyajikan laporan aktivitas seluruh gunung api di Indonesia yang diperbarui berkala.

Haris mengimbau masyarakat tidak mudah percaya ramalan di media sosial. 

"Saat ini sering beredar ramalan tidak berdasar di media sosial, padahal secara ilmiah tidak ada teknologi yang mampu memprediksi hari dan jam pasti terjadinya erupsi," jelas Kepala Departemen Teknik Geofisika ITS tersebut.

Saat status Waspada dan Siaga, warga diminta mematuhi pembatasan aktivitas di zona rawan bencana untuk mengurangi risiko lontaran material vulkanik.

Haris menyoroti bahaya abu vulkanik. Material mikro tajamnya berbahaya bagi saluran pernapasan dan bisa menggores kaca. 

Sebaran abu juga menurunkan jarak pandang dan berpotensi mengganggu mesin pesawat.

Ia mencontohkan insiden British Airways Penerbangan 9 pada 24 Juni 1982. Pesawat itu menembus awan abu Gunung Galunggung di ketinggian 37.000 kaki. 

Abu yang masuk meleleh dan menyumbat turbin, membuat keempat mesin mati total. Pesawat akhirnya mendarat darurat di Halim Perdanakusuma. 

"Insiden inilah yang mendorong dibentuknya Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC)," ujarnya.

Haris mendorong kolaborasi PVMBG untuk pemantauan, BMKG untuk analisis arah angin dan cuaca, serta Kementerian Perhubungan untuk pengaturan jalur penerbangan.

Untuk jangka panjang, ia menganjurkan penguatan edukasi kebencanaan, pemetaan risiko, penyiapan jalur evakuasi, dan penguatan komunikasi kebencanaan.

"Budaya mitigasi harus dibangun melalui pemahaman terhadap proses alam dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan," kata Haris.

Dengan kewaspadaan, kepatuhan pada rekomendasi, dan pemanfaatan informasi ilmiah, dampak erupsi diharapkan bisa diminimalkan.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru