Geger MBG di Gembong Pati, Ratusan Siswa dan Guru Dilarikan ke Fasilitas Kesehatan

Reporter : Redaksi
Ratusan siswa dan guru di Pati dilaporkan mengalami mual hingga diare usai menyantap menu MBG. (Istimewa)

Pati, MEMANGGIL.CO - Gangguan kesehatan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan ratusan siswa dan guru dilaporkan mengalami mual hingga diare.

Data sementara mencatat sedikitnya 230 siswa dan 43 guru dari dua sekolah mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa (8/9/2026).

Rinciannya, MTs Negeri 3 Pati melaporkan 127 siswa dan 30 guru mengalami keluhan, sedangkan SMP Negeri 1 Gembong mencatat 103 siswa dan 13 guru.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara karena pendataan pasien dari sejumlah fasilitas kesehatan masih berlangsung.

“Data masih dinamis,” ujar Luky, Rabu (9/9/2026).

Dinkes Pati belum menyatakan bahwa kejadian tersebut merupakan keracunan makanan akibat MBG.

Luky menegaskan masih diperlukan penyelidikan untuk mengetahui hubungan antara makanan yang dikonsumsi dengan keluhan kesehatan yang muncul.

“Belum bisa memastikan,” katanya.

Penanganan terhadap para siswa dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan. Tingginya jumlah pasien bahkan membuat kapasitas Puskesmas Gembong mengalami kelebihan beban.

“Puskesmas overload,” kata Kepala SMP Negeri 1 Gembong Istiana.

Karena keterbatasan kapasitas, sebagian siswa kemudian dibawa ke rumah sakit, di antaranya RS KSH dan Mitra Bangsa.

Sementara itu, pihak sekolah turut melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG.

Kepala MTs Negeri 3 Pati Zaenal Arifin menyebut jumlah siswa terdampak di sekolahnya mencapai 127 orang.

“Yang terdampak 127 anak,” ujarnya.

Menu yang dikonsumsi para siswa diketahui antara lain nasi bakar, ayam suwir dan tempe.

Meski demikian, Dinkes Pati tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan waktu munculnya gejala setelah makanan dikonsumsi.

Penyelidikan epidemiologis dilakukan untuk mencari kemungkinan sumber gangguan kesehatan, termasuk menelusuri makanan yang dikonsumsi serta kondisi pasien.

Data dari sejumlah rumah sakit juga masih dikumpulkan dan disinkronkan untuk mengetahui jumlah pasien secara lebih akurat.

“Kita tunggu hasil uji lab,” kata Luky.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab keluhan yang dialami siswa dan guru.

Kasus tersebut menjadi perhatian karena melibatkan peserta didik dalam jumlah besar dan berkaitan dengan program MBG yang diberikan kepada para siswa.

Sampai hasil pemeriksaan keluar, pemerintah masih menempatkan kejadian tersebut sebagai dugaan gangguan kesehatan dan belum menyimpulkan adanya keracunan akibat makanan MBG.

Penanganan medis terhadap siswa dan guru yang mengalami keluhan tetap menjadi prioritas sembari proses penyelidikan berlangsung.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru