Program Makan Bergizi Gratis

Fakta-Fakta Siswa dan Guru di Blora, Rembang dan Pati Tumbang Usai Santap MBG

Reporter : Redaksi
Ambulance ketika memasuki SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. (Istimewa)

Blora, MEMANGGIL.CO - Rangkaian gangguan kesehatan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di sejumlah sekolah di Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati dalam sepekan terakhir.

Ratusan siswa dan guru dilaporkan mengalami berbagai keluhan, mulai dari mual, diare, muntah, pusing hingga sakit perut setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program MBG.

Kasus tersebut muncul di sejumlah sekolah dengan jumlah korban yang berbeda-beda, sementara pemerintah dan petugas kesehatan masih melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.

Berikut rangkaian fakta kasus MBG yang terjadi di tiga kabupaten tersebut. 

1. Rembang Menjadi Salah Satu Daerah dengan Kasus Terbesar

Para siswa di Rembang tumbang usai menyantap MBG. (Istimewa)

Di SMAN 1 Lasem, ratusan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG.

Berdasarkan data yang dihimpun dari pemberitaan sebelumnya, disebutkan sebanyak 725 siswa dan 25 guru mengalami keluhan diare dan gangguan pencernaan.

Sejumlah siswa kemudian mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan, sementara kegiatan pembelajaran sempat terdampak akibat banyaknya siswa yang mengalami keluhan.

2. Kasus Kembali Muncul di Kabupaten Rembang

Kali ini, puluhan siswa MAN 2 Rembang dilaporkan mengalami diare, mual, muntah dan mulas setelah menyantap menu MBG.

Jumlah siswa yang mendapatkan penanganan kemudian dilaporkan mencapai 88 orang.

Sebagian siswa menjalani rawat inap, sedangkan lainnya mendapatkan perawatan jalan.

3. Kasus Serupa Kemudian Muncul di Kabupaten Blora

Mobil ambulance masuk SMAN 1 Tunjungan. (Istimewa)

SMAN 1 Tunjungan menjadi salah satu sekolah yang melaporkan adanya siswa dan guru mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi MBG.

Data sementara mencatat 133 siswa dan satu guru mengalami gejala, ditambah tiga siswa yang tidak masuk sekolah karena diare dan diduga mengalami kondisi serupa.

Total sementara mencapai 137 siswa dan guru. Gejala yang dilaporkan antara lain lemas, diare, muntah, mual dan pusing.

Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora.

Wakil Bupati Blora sekaligus Ketua Satgas MBG Blora Sri Setyorini meminta agar SPPG Blora Tunjungan Sukorejo 2 ditutup menyusul kejadian tersebut.

Evaluasi terhadap penyedia makanan MBG juga dilakukan untuk mengetahui kemungkinan persoalan dalam proses penyediaan makanan.

4. Dari Blora, Kasus Kemudian Muncul di Kabupaten Pati

Para siswa di Pati tumbang usai menyantap MBG. (Istimewa)

Ratusan siswa dan guru di Kecamatan Gembong dilaporkan mengalami mual dan diare setelah mengonsumsi menu MBG.

Dua sekolah yang terdampak yakni MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong.

Di MTs Negeri 3 Pati, sebanyak 127 siswa dan 30 guru dilaporkan mengalami keluhan kesehatan. Sedangkan di SMP Negeri 1 Gembong terdapat 103 siswa dan 13 guru yang mengalami keluhan serupa.

Data sementara dari dua sekolah tersebut mencapai 230 siswa dan 43 guru. Banyaknya pasien membuat fasilitas kesehatan di wilayah Gembong mengalami lonjakan pasien.

Sebagian siswa kemudian mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit, di antaranya RS KSH dan Mitra Bangsa.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan data korban masih terus bergerak.

“Data masih dinamis,” kata Luky.

Dinkes Pati juga belum memastikan bahwa makanan MBG merupakan penyebab gangguan kesehatan tersebut.

“Belum bisa memastikan,” ujarnya.

Petugas masih melakukan penyelidikan epidemiologis dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

“Kita tunggu hasil uji lab,” kata Luky.

Rangkaian kejadian di tiga kabupaten tersebut menjadi perhatian karena berlangsung dalam rentang waktu berdekatan dan melibatkan siswa serta guru dalam jumlah cukup besar.

Kasus di Blora, Rembang dan Pati sekaligus menjadi perhatian terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

Pemerintah daerah bersama petugas kesehatan diharapkan memastikan seluruh proses penyediaan makanan memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru