Blora, MEMANGGIL.CO - Pemberitaan mengenai Mbah Samijah (71), warga Desa Gagakan, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, yang tinggal di rumah tidak layak huni akhirnya mendapat perhatian luas. Bantuan pun mulai berdatangan untuk meringankan kondisi warga lanjut usia tersebut.
Namun, di balik mengalirnya bantuan dari masyarakat, muncul pertanyaan mengenai mengapa Mbah Samijah selama ini belum tersentuh program bantuan rumah tidak layak huni (RTLH), meski warga setempat mengaku telah berulang kali mengusulkannya.
Desa Gagakan tercatat memperoleh kuota lima unit RTLH melalui Bantuan Provinsi (Banprov) tahun 2025. Selain itu, terdapat 11 unit program bedah rumah yang bersumber dari aspirasi pada tahun ini.
Ironisnya, Mbah Samijah disebut belum mendapatkan bantuan tersebut. Salah satu alasan yang muncul adalah status tanah yang ditempati Mbah Samijah tercatat atas nama anaknya.
Kondisi tersebut kemudian menjadi sorotan setelah sejumlah awak media mencoba meminta penjelasan kepada Pemerintah Desa Gagakan terkait persoalan tersebut.
Kepala Desa Gagakan, Sugiarto, sebelumnya tidak merespons saat dihubungi awak media. Ketika ditemui secara langsung di lokasi dan dimintai tanggapan mengenai kondisi Mbah Samijah, ia terkesan enggan memberikan penjelasan.
“Gak sesok ae sesok ae, wes yo tanggapane apik ngono ae,” ucap Sugiarto sambil berjalan menjauh dari awak media, Sabtu (12/9/2026).
Saat kembali ditanya terkait status tanah yang menghambat bantuan, Sugiarto terlihat bergegas pergi dan menjauh dari awak media.
"Besok besok besok," katanya sambil langsung menaiki sepeda motornya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Blora, Yannanta Laga Kusuma, hadir membawa bingkisan sembako sekaligus meninjau kondisi rumah Mbah Samijah.
Laga yang juga menjabat Kepala Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, menegaskan peran masyarakat dan media sangat krusial dalam mendeteksi kasus sosial.
"Kami berharap teman-teman media ataupun masyarakat bisa bersinergi dengan pemangku wilayah masing-masing. Jika ada kasus sosial di desa, bisa langsung dilaporkan dan dikoordinasikan dengan Pak Kades setempat, lalu disampaikan ke kami untuk segera ditindaklanjuti," ujarnya di lokasi.
Laga menambahkan, IPSM Blora menangani beragam persoalan sosial mulai dari krisis air bersih, pendampingan kesehatan, anak terlantar, putus sekolah, hingga kelompok rentan lainnya dan berkoordinasi lintas sektor dengan pihak Kecamatan, Dinas Kesehatan, maupun Dinas Sosial.
Meski kepengurusan baru, IPSM sudah bergerak cepat. Salah satu aksi nyata adalah penanganan dua anak terlantar di Desa Temurejo yang hidup tanpa listrik dan belajar hanya dengan penerangan senter.
IPSM memberikan sepeda listrik dan sepeda gowes, serta menyiapkan modal usaha agar ibu mereka yang bekerja di luar pulau dapat pulang dan mengasuh anak-anaknya sendiri.
"Yang paling mengesankan belakangan ini adalah penanganan dua anak terlantar yang hidup tanpa listrik di rumah. Untuk belajar saja mereka pakai senter. Selain memberi bantuan sepeda, kami juga membantu memulangkan ibunya dari luar pulau dan menyokong modal usaha agar beliau bisa mengasuh anaknya sendiri di rumah," tambahnya.
Editor : Abdul Rohman