Surabaya, MEMANGGIL.CO - Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur mematangkan persiapan 22 perwakilan yang akan berlaga pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional 2026.
Pemantapan dilakukan melalui Training Camp (TC) atau final camp pada 18-19 September 2026 di UPT PTKK Dindik Jatim, sebagai bekal menghadapi babak final yang digelar 24-30 September 2026 di Jakarta.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, pematangan penting dilakukan karena terdapat perubahan mekanisme penilaian OPSI tahun ini hingga 50 persen.
Siswa tidak cukup hanya menguasai materi penelitian, tetapi juga harus menyusun strategi presentasi.
"Makanya kenapa kita kumpulkan mereka final camp ini, supaya mereka paham strategi dalam penilaian oleh tim juri. Hampir 50 persen ada perubahan di dalam penjurian," jelas Aries di Surabaya, Selasa (22/09/2026).
Aspek yang menjadi perhatian antara lain kemampuan menyampaikan penelitian, intonasi saat presentasi, penyajian data, hingga kesiapan stand pameran yang mendukung presentasi.
Selain itu, siswa juga diarahkan memperkuat hasil penelitian melalui validasi di perguruan tinggi, terutama bagi peserta yang belum memiliki hasil laboratorium atau kajian akademis.
"Kita berharap anak-anak memahami strategi-strategi yang harus mereka lakukan pada saat masuk final. Terutama bagaimana intonasi cara berbicaranya, bagaimana penyajian data, termasuk menyiapkan pameran stand untuk mendukung proses presentasi," ujarnya.
Jatim mengirimkan 22 perwakilan, terdiri dari sembilan tim jenjang SMA sederajat dan 13 tim jenjang SMP sederajat. Pada tahapan sebelumnya, posisi Jatim masih unggul satu poin dari DKI Jakarta.
Meski demikian, Aries meminta peserta tidak terlena. Persaingan final masih terbuka dengan kompetitor kuat seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
"Bukan membanggakan diri, tapi kita harus menguatkan karena ini masih ada tahap final. Tahap seleksi final tentu harus lebih kuat lagi posisinya," terangnya.
Sementara itu, praktisi PT Research Juara Slamet Budi Cahyono yang turut mendampingi peserta menyebut, salah satu kelemahan peserta Jatim adalah kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dalam menyampaikan hasil penelitian.
Menurutnya, peserta harus mampu menampilkan pokok penelitian sejak awal, termasuk membandingkan hasil dengan penelitian sebelumnya untuk menunjukkan manfaat dan kebaruan.
"Yang pertama adalah mereka yakin dulu terhadap penelitiannya, memang satu manfaat, kemudian kedua punya nilai kebaruan. Ketika punya rasa percaya diri, dia bisa meresonansi ke juri maupun audiens," ungkapnya.
Slamet menjelaskan, OPSI 2026 memiliki sejumlah perbedaan. Salah satunya penerapan RAIC (Research AD Challenge) untuk jenjang SMA. RAIC mendorong siswa membangun alur berpikir mulai dari pre-research, research, hingga post-research.
"RAIC menantang siswa untuk bisa memetakan. Ada pre-research, ada research, ada post-research. Yang paling utama dia bisa menghubungkan, sehingga punya konstruksi logika berpikir," jelasnya lagi.
Perubahan lain yakni peserta wajib berlomba dalam tim beranggotakan dua orang untuk melatih kolaborasi, serta batas anggaran penelitian maksimal Rp15 juta.
"Biaya maksimal Rp15 juta. Tergantung dari penelitiannya. Sumbernya tidak hanya swadaya, tapi juga bisa dari yang lain," katanya.
Terkait penggunaan kecerdasan artifisial (AI), Slamet menegaskan tidak dilarang, namun harus bijak dan sebatas membantu brainstorming.
"Bukan kita anti terhadap AI, tapi selayaknya dan sebijaknya. Kalau untuk brainstorming tidak apa-apa. Tapi kalau semua laporan dikerjakan AI, maka akan tumpul," pungkasnya.
Editor : Abdul Rohman