Surabaya, MEMANGGIL.CO — Keberhasilan membangun bisnis fesyen berskala internasional tidak selalu bergantung pada besarnya modal awal.
Hal ini dibuktikan oleh Uswatun Hasanah, pemilik (owner) Galeri Batik Jokotole Collection, yang sukses mengembangkan usahanya dari modal nol hingga menembus pasar ekspor di Afrika Utara, Eropa, dan Malaysia.
Mengawali langkahnya pada tahun 2014, Uswatun menjalankan usahanya seorang diri.
Saat itu, ia berperan sebagai perantara yang memasarkan karya-karya pengrajin lokal tanpa mengeluarkan modal finansial pribadi.
Berkat kejelian memanfaatkan media sosial, produk yang diunggahnya mendadak viral dan menarik perhatian media nasional.
Momentum tersebut menjadi titik balik melesatnya permintaan pasar hingga mendorong pembukaan cabang di Jakarta hingga Johor Bahru, Malaysia.
"Awalnya fokus utama kami adalah membuka akses pasar dan membangun konsistensi. Cerita di balik produk (storytelling) menjadi nilai tambah yang sangat menentukan," ungkap Uswatun pada kegiatan Fesyar Jawa 2026, Jumat, 25 September 2026.
Seiring bertambahnya kapasitas produksi dan reputasi merek, Jokotole Collection secara bertahap menggeser strategi bisnisnya.
Dari yang semula mengandalkan harga terjangkau, kini beralih ke strategi diferensiasi produk untuk segmen menengah ke atas.
Penyesuaian ini diimbangi dengan peningkatan kualitas bahan, variasi produk seperti kombinasi kulit sapi dan kanvas untuk pasar ekspor serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) guna membaca tren pasar.
Di balik pertumbuhan pesat tersebut, disiplin manajemen keuangan menjadi fondasi utama ketahanan bisnis Jokotole Collection.
Uswatun menerapkan skema pembagian hasil yang ketat: 40 persen untuk perusahaan, 40 persen untuk pengrajin, dan 20 persen disisihkan sebagai dana cadangan.
Selain itu, ia mengelola empat jenis kas terpisah, yakni kas operasional, cadangan, dana produksi, dan dana nandon atau ditahan pihak mitra.
"Untuk pengelolaan keuntungan pribadi, maksimal hanya 30 persen yang boleh digunakan untuk self-reward. Sisanya, sebesar 70 persen, harus diputar kembali (reinvest) untuk menambah aset dan kapasitas produksi," beber Uswatun.
Kedisiplinan keuangan ini pula yang membawa Jokotole Collection menjadi UMKM binaan Bank Indonesia sejak 2017 dan berhasil meraih kepercayaan pembiayaan perbankan hingga ratusan juta rupiah berkat rekam jejak kredit (SLIK/BI Checking) yang teruji bersih.
Tidak hanya berorientasi pada profit, Jokotole Collection juga mengusung konsep pemberdayaan berbasis komunitas dan prinsip syariah.
"Saat ini, usaha tersebut telah menyerap sekitar 122 tenaga kerja dengan 90 persen di antaranya adalah perempuan serta bermitra dengan 33 UMKM, sektor pariwisata, pemerintah, hingga lembaga pendidikan internasional seperti University College London (UCL)," pungkas Uswatun.
Editor : B. Wibowo