Jakarta, MEMANGGIL.CO - Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) berkumpul di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang menyampaikan pesan moral menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Forum silaturahim itu digelar di tengah semakin dekatnya pelaksanaan Muktamar. Para kiai menyoroti sejumlah dinamika yang berkembang dan mengingatkan agar forum tertinggi NU tersebut tetap berjalan dengan menjunjung akhlak, tradisi keulamaan, serta persaudaraan.
Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan pertemuan tersebut muncul karena adanya sejumlah isu yang dinilai mengkhawatirkan menjelang Muktamar.
Menurutnya, proses menuju Muktamar harus dijaga agar tidak diwarnai cara-cara yang dapat mencederai marwah organisasi.
“Muktamar harus dijaga marwahnya,” kata KH Ma’ruf Amin dalam keterangan yang diterima MUI Digital, Kamis (20/8/2026).
Salah satu perhatian utama para kiai adalah mekanisme pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yang memiliki peran dalam proses pemilihan Rais Aam PBNU.
KH Ma’ruf Amin menegaskan AHWA harus benar-benar mencerminkan representasi para ulama.
“Ahwa itu adalah representasi para ulama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, AHWA memiliki posisi penting dalam proses pemilihan Rais Aam. Karena itu, prosesnya harus lahir dari pertimbangan dan hati nurani para ulama.
“Untuk memilih Rais Aam,” katanya.
KH Ma’ruf kemudian mengingatkan agar proses tersebut tidak diarahkan melalui paket atau kepentingan tertentu.
“Lahir dari hati nurani,” tegasnya.
Ia juga memberikan penekanan mengenai praktik transaksi dalam proses pemilihan.
“Benar-benar tidak merupakan paket pesanan,” ujar KH Ma’ruf.
“Apalagi transaksi,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam pertemuan para kiai sepuh. Mereka berharap proses Muktamar tetap berjalan sesuai nilai dan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari karakter NU.
Selain persoalan AHWA, para kiai juga meminta seluruh tahapan Muktamar terbebas dari intervensi pihak luar.
KH Ma’ruf Amin menegaskan pentingnya menjaga proses tersebut agar tetap berada dalam koridor akhlak NU.
“Seluruh tahapan Muktamar harus berjalan sesuai akhlak NU,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar proses tersebut tidak dipengaruhi kepentingan dari luar organisasi.
“Terbebas dari intervensi pihak luar,” katanya.
Pertemuan para kiai sepuh tersebut kemudian melahirkan tujuh seruan yang ditujukan kepada seluruh pihak menjelang Muktamar ke-35 NU.
Seruan tersebut pada intinya mengajak warga NU menjaga Muktamar agar berlangsung bermartabat, sejuk, serta tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis.
Muktamar diharapkan tetap menjadi forum permusyawaratan yang mengedepankan kepentingan organisasi.
Dalam konteks pemilihan AHWA, para kiai menilai proses tersebut harus dijaga agar tetap menjadi ruang keulamaan.
AHWA tidak semestinya berubah menjadi instrumen untuk mengamankan kepentingan tertentu.
Para kiai juga menyoroti pentingnya menjaga kedaulatan peserta Muktamar dalam menentukan pilihan.
Mereka berharap para muktamirin dapat menjalankan amanah tanpa tekanan maupun pengondisian yang dapat memengaruhi kebebasan dalam mengambil keputusan.
Selain itu, mekanisme pengusulan calon AHWA juga menjadi perhatian.
Para kiai mengusulkan agar proses pengusulan nama dilakukan lebih dekat dengan pelaksanaan penghitungan. Tujuannya untuk mempersempit ruang pengondisian terhadap para calon.
Seruan lainnya meminta seluruh pihak menahan diri selama proses menuju Muktamar.
Perbedaan pandangan dinilai sebagai sesuatu yang wajar dalam dinamika organisasi. Namun perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi konflik yang merusak persaudaraan.
Para kiai sepuh mendorong seluruh pihak mengutamakan kepentingan NU secara keseluruhan.
Forum Muktamar nantinya diharapkan dapat menjadi momentum memperkuat persatuan, bukan memperlebar perbedaan.
Pertemuan di Gedung PBNU tersebut dihadiri sejumlah ulama, antara lain KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Ali Akbar Marbun, KH Muadz Thohir, KH Ahmad Haris Shodaqoh, KH Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Muhyiddin Ishaq, dan KH Muhibbul Aman Aly.
Sejumlah kiai lainnya mengikuti pertemuan secara daring, seperti KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, KH Said Aqil Siroj, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Zuhri Zaini, KH Idris Hamid, dan KH Nuruzzahri.
Pertemuan tersebut berlangsung hanya beberapa hari sebelum Muktamar ke-35 NU digelar di Jombang.
Dengan semakin dekatnya agenda tersebut, pesan para kiai sepuh menjadi pengingat bagi seluruh pihak yang terlibat agar menjaga proses Muktamar tetap berada dalam koridor musyawarah dan tradisi keulamaan.
Bagi para kiai, kepemimpinan NU harus lahir dari proses yang bermartabat dan bukan melalui transaksi kepentingan.
Karena itu, seluruh pihak diminta menjaga suasana menjelang Muktamar agar tetap kondusif.
Harapannya, forum di Jombang nanti tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga mampu memperkuat persatuan dan menjaga marwah Nahdlatul Ulama.