Surabaya, MEMANGGIL.CO — Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah (value added) dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, bukan sekadar mengejar angka partisipasi (headcount).
Hal tersebut disampaikannya saat menutup gelaran Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2026 di Grand City, Convex Surabaya, Minggu, 27 September 2026.
Menurut Emil, potensi pasar halal global yang terus melonjak harus dimanfaatkan secara optimal melalui dorongan ekspor produk halal mulai dari sektor makanan-minuman hingga produk non-makanan seperti kosmetik dan perawatan kulit (skincare).
Namun, Emil mengingatkan agar proses sertifikasi halal tetap memperhatikan realitas industri agar tidak memicu beban biaya tinggi (high cost economy).
"Harus ada keseimbangan antara ketegasan regulasi dan realisme di lapangan. Kebutuhan pendampingan intensif bagi pelaku usaha, khususnya UMKM, menjadi kunci utama percepatan sertifikasi halal ini," ungkap Emil.
Dalam kesempatan tersebut, Emil menyoroti potensi besar sektor pesantren di Jawa Timur.
Dengan keberadaan sekitar 6.000 pesantren dan lebih dari 1 juta santri aktif, Jawa Timur memiliki pasar terikat (captive market) yang sangat prospektif untuk menggerakkan roda ekonomi lokal.
"Harapan kita, produk yang dihasilkan dan dikonsumsi masyarakat tidak hanya berstatus halal, tetapi juga thayyiban berkualitas, sehat, dan higienis," ungkap Emil.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mengawal sejumlah program prioritas, di antaranya peningkatan jumlah pelaku usaha bersertifikat halal, inkubasi bisnis syariah, penguatan keuangan mikro syariah, optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf), hingga penerapan prinsip ekonomi hijau yang berkelanjutan.