Rembang, MEMANGGIL.CO - Ancaman kecelakaan laut menjadi salah satu risiko yang harus diantisipasi Kabupaten Rembang. Membentang sekitar 65 kilometer, wilayah pesisir Rembang memiliki aktivitas perairan yang cukup tinggi sehingga kemampuan evakuasi dan penyelamatan korban di laut menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan bencana.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang bersama Basarnas menggelar simulasi Search and Rescue (SAR) Laut di perairan Pantai Desa Tasikagung, Senin (28/9/2026). Kegiatan dipusatkan di kawasan Dermaga Pelabuhan Tasikagung dengan melibatkan puluhan relawan dari berbagai komunitas.

Bukan sekadar latihan di atas kertas, para relawan langsung dihadapkan pada skenario keadaan darurat yang dapat terjadi sewaktu-waktu di tengah laut. Mereka mendapatkan pembekalan sekaligus praktik teknik water rescue, mulai dari proses pencarian korban hingga evakuasi dalam kondisi perairan yang membutuhkan respons cepat.

Dalam simulasi itu, tim SAR gabungan menghadapi skenario kecelakaan kapal nelayan. Kapal diceritakan mengalami kebocoran setelah diterjang kondisi cuaca buruk hingga akhirnya tenggelam di perairan.

Situasi dibuat semakin kompleks dengan adanya skenario tumpahan minyak di laut. Kondisi tersebut menguji kemampuan personel dalam menentukan langkah penyelamatan sekaligus menjaga keselamatan tim yang melakukan operasi pencarian.

Begitu informasi kecelakaan diterima, tim SAR gabungan langsung bergerak menuju titik kejadian menggunakan perahu karet. Petugas menyisir kawasan perairan untuk mencari korban yang dilaporkan berada di tengah laut.

Dalam simulasi tersebut, dua korban akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi terapung. Keduanya segera dievakuasi menuju lokasi aman untuk mendapatkan pertolongan pertama sebelum selanjutnya diarahkan ke posko kesehatan terdekat.

Latihan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menguji koordinasi antara petugas dan relawan ketika menghadapi kondisi darurat di perairan. Kecepatan menerima informasi, mobilisasi personel, pencarian korban hingga proses evakuasi menjadi bagian yang diperhatikan dalam simulasi.

Salah satu petugas menegaskan, pembekalan water rescue penting dilakukan mengingat karakteristik wilayah Rembang yang memiliki garis pantai cukup panjang. Relawan dinilai perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar agar tidak hanya mampu membantu ketika terjadi bencana di daratan, tetapi juga ketika kecelakaan terjadi di wilayah perairan.

“Karena kita di Rembang ini punya garis pantai yang panjang, potensi laka laut juga tinggi. Makanya kami memberikan pembekalan sekaligus pengetahuan dan skill dalam rangka water rescue, terutama untuk laka laut,” ujarnya.

Bagi para relawan, latihan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman menghadapi situasi darurat di laut. Salah satunya Mulyadi, relawan yang untuk pertama kalinya mengikuti pelatihan water rescue.

Mulyadi mengikuti kegiatan tersebut bersama dua rekannya dari Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Selama ini, aktivitas kerelawanan yang dilakukannya bersama komunitas lebih banyak berkaitan dengan penanganan maupun penyampaian informasi berbagai kejadian bencana di wilayah daratan.

“Ikut pelatihan water rescue ini pertama kali, bertiga sama teman RAPI. Pengalaman baru. RAPI sering mengikuti penanganan dan melaporkan setiap ada bencana, seperti tanah longsor, banjir dan laka laut,” ungkap Mulyadi.

Menurut Mulyadi, keterlibatan dalam latihan tersebut memberikan tambahan pengetahuan bagi relawan. Pengalaman itu diharapkan dapat menjadi bekal ketika suatu saat relawan harus terlibat dalam penanganan kondisi darurat yang terjadi di wilayah perairan.

Simulasi tidak berhenti setelah korban berhasil dievakuasi. Seluruh rangkaian latihan kemudian dievaluasi bersama untuk melihat berbagai kekurangan yang muncul selama proses pencarian dan penyelamatan.

Evaluasi tersebut menjadi bagian penting dari latihan karena setiap tahapan penanganan kecelakaan laut membutuhkan koordinasi yang tepat. Kesalahan komunikasi maupun keterlambatan dalam mengambil tindakan dapat memengaruhi proses pencarian dan evakuasi korban.

Melalui pelatihan secara berkala, BPBD, Basarnas dan para relawan diharapkan semakin siap menghadapi potensi kecelakaan laut di wilayah Rembang. Kesiapsiagaan tidak hanya dibutuhkan ketika bencana terjadi, tetapi harus dibangun sejak sebelum keadaan darurat benar-benar datang.

Dengan kemampuan water rescue yang terus diasah, keberadaan relawan diharapkan dapat memperkuat jejaring penanganan bencana di wilayah pesisir. Terlebih, aktivitas masyarakat dan nelayan di kawasan perairan membuat kemampuan respons cepat menjadi bagian penting dalam upaya meminimalkan risiko ketika kecelakaan laut terjadi.