Surabaya, MEMANGGIL.CO - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meresmikan Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berkelanjutan.
Laboratorium satu-satunya di Indonesia ini disiapkan untuk mengoptimalkan potensi aspal buton (asbuton) nasional yang cadangannya diperkirakan cukup untuk 100 tahun.
Peresmian ini menjadi puncak dari riset 20 tahun yang dipimpin dosen Teknik Kimia ITS Dr. Ir. Susianto, DEA, sejak 2006.
Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati menegaskan laboratorium ini menjadi tonggak kemandirian aspal nasional.
"Kepercayaan ini membuktikan bahwa riset hulu hingga hilir yang digagas para peneliti ITS dinilai strategis bagi pembangunan nasional," jelas Bambang, Kamis (01/10/2026).
Riset ini didukung LPDP Kementerian Keuangan melalui skema LPDP Investasi untuk hilirisasi ke skala pilot dan industri.
Ketua peneliti Susianto menjelaskan perjalan riset tidak mudah. Awalnya ia menggunakan ekstraksi konvensional dengan pelarut kerosin dan minyak tanah, namun hasilnya belum optimal.
Pada 2009, ia mengembangkan hot water process dengan waktu digesting 30 menit. Temuan mikroskopis menunjukkan ikatan bitumen dan mineral asbuton sangat kuat karena kandungan kapur yang terlapisi aspal, berbeda dari oil sand.
Temuan itu mendorong pengembangan metode hidrotermal sebagai pretreatment untuk melemahkan ikatan tersebut.
"Dengan itu dapat meningkatkan efisiensi pemisahan bitumen hingga lebih dari 95 persen, yang kemudian menghasilkan aspal dasar dengan kualitas tinggi," terang Susianto.
Teknologi ini menghasilkan tiga produk utama yakni pengganti aspal minyak, aditif peningkat performance grade (PG), dan aspal pracampur yang bisa dimodifikasi menjadi aspal komersial Pen 60-70 hingga PG 70.
Aspek keberlanjutan juga diperhatikan. Sisa padatan berupa kapur diolah agar tidak mencemari lingkungan.
"Jadi kami memastikan bahwa tidak ada sisa bahan baku hasil produksi yang terbuang begitu saja atau bahkan mencemari lingkungan," ujarnya.
ITS menggandeng PT Aspindo Group untuk hilirisasi, termasuk pembangunan lab pengujian terakreditasi dan pabrik modular berkapasitas 10.000-20.000 ton per tahun yang fleksibel dibangun di Pulau Jawa.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany menyebut, lab di bawah DRPM ini diproyeksikan menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) asbuton berkelanjutan dengan sistem mutu ISO 17025 dan IRR mencapai 24 persen.
CEO Aspindo Group Bobby Hartawan Wijaya berharap kolaborasi ini mencetak legasi.
"Tidak hanya inovasi operasional, tapi juga mencetak legasi jangka panjang bagi kemajuan dunia pendidikan dan kemandirian industri infrastruktur Indonesia," ujarnya.
Peresmian turut dihadiri Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non-logam Kemenperin Afrizal Haris. Pengembangan ini sejalan dengan SDGs poin 9, 12, dan 17.