Mahasiswi ISI Solo Rara Kencana Cari Akar Tradisi Melalui Dinamika Urban


Penampilan seni musik Uneng yang tampil di cafe Surabaya (Adji/Memanggil.co

MEMANGGIL.CO - Mahasiswi asal Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Shafira Onky Parasmita, atau yang akrab disapa Rara, adalah seorang komposer muda yang berani bereksperimen.

Dalam karya-karyanya, ia menggabungkan konsep urban yang dekat dengan generasi milenial, seperti budaya kafe, dengan akar tradisi yang kuat.

Baca juga:

Rara melihat bahwa kafe telah menjadi ruang utama bagi anak muda untuk berinteraksi, berdiskusi, dan berkarya. Fenomena ini menginspirasinya untuk menciptakan karya yang relevan dengan lingkungan tersebut, alih-alih hanya berfokus pada panggung pertunjukan konvensional.

"Pendekatan ini bertujuan agar karyanya lebih mudah diakses dan dinikmati oleh khalayak luas, khususnya generasi muda," kata Rara, Sabtu 31 Agustus 2025.

Salah satu karya Rara yang paling menonjol adalah "Unen," yang diambil dari kata bahasa Inggris "union" yang berarti persatuan atau penyatuan.

""Unen" juga dapat diartikan sebagai "bunyi," dan dalam konteks ini, Rara merujuk pada suara batin manusia,"ujarnya.

Melalui karyanya, Rara ingin menyampaikan pesan penyemangat. Di tengah gempuran dunia yang serba tidak jelas, Perempuan Kelahiran Kediri 1999 menyerukan agar generasi muda tetap berjuang.

"Boleh mengeluh, tapi tidak boleh berhenti," ungkapnya.

Baca juga:

Menurutnya pesan ini bukan sekadar motivasi, melainkan ajakan untuk terus bergerak dan membangun kehidupan, sekeras apa pun tantangannya.

Meskipun lahir di Kediri, Rara jatuh cinta pada kesenian Madura sejak ia kuliah S1 di Sekolah Tinggi Kesenian Surabaya. Dirinya melihat keunikan musikal Madura yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Jawa.

"Studi S2 aku memutuskan untuk mengangkat kesenian Madura sebagai akar karyanya," tandas Rara.

Ia menyadari bahwa kesenian Madura, khususnya yang tradisional, sering kali tidak diketahui oleh generasi muda, terutama mereka yang tinggal di perkotaan. Untuk menjembatani kesenjangan ini, ia menerjemahkan petuah-petuah Madura dan Arab ke dalam bahasa yang lebih universal, yakni bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa.

Baca juga:

"Bagian pertama menyajikan musik orisinal Madura, di mana secara langsung mendatangkan seniman asli dari Madura,"tuturnya.

"Bagian kedua adalah interpretasi dari karya tersebut yang disajikan dalam bahasa Inggris. Selain. Itu juga bahasa jawa, dan Indonesia," imbuh Rara

Melalui pendekatan ini, Rara berharap dapat menunjukkan kepada generasi muda bahwa tradisi lokal sangat istimewa dan relevan.

"Jangan sampai ditinggalkan, tapi dimanfaatkan sebagai pijakan untuk karya yang lebih maju," pungkas Rara

Editor :

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru