Rembang, MEMANGGIL.CO - Batik Lasem menjadi perhatian publik nasional. Kain tradisional khas pesisir utara Jawa Tengah ini dikenal sebagai salah satu warisan budaya Indonesia hasil akulturasi Jawa dan Tiongkok yang hingga kini masih lestari dan bernilai tinggi, baik secara budaya maupun ekonomi.
Batik Lasem berasal dari wilayah Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Keunikan batik ini terletak pada perpaduan motif, warna, dan filosofi yang merefleksikan pertemuan dua budaya besar yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Berbeda dengan batik pedalaman yang berkembang di lingkungan keraton, Batik Lasem tumbuh di kawasan pesisir yang sejak lama menjadi jalur perdagangan internasional. Kondisi ini menjadikan batik Lasem tampil lebih berani dalam warna dan kaya dalam ornamen.
Sejarah mencatat, Lasem merupakan salah satu pelabuhan tua di pesisir utara Jawa yang ramai sejak abad ke-14. Akulturasi budaya mulai menguat saat kedatangan armada Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok pada awal abad ke-15. Sejumlah awak kapal menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat, membawa pengaruh besar dalam seni dan budaya, termasuk batik.
Dari proses inilah lahir ciri khas Batik Lasem, seperti motif naga (liong), burung hong (phoenix), bunga seruni, hingga ornamen khas Tiongkok yang dipadukan dengan simbol-simbol Jawa klasik.
Salah satu identitas terkuat Batik Lasem adalah warna merah menyala yang dikenal sebagai “merah darah ayam”. Warna ini dihasilkan dari teknik pewarnaan alami yang diwariskan turun-temurun dan sulit ditiru daerah lain.
Selain merah, batik Lasem juga dikenal dengan warna biru indigo, soga cokelat, dan hitam, menciptakan kombinasi kontras yang kuat dan berkarakter.
Tak hanya bernilai budaya, Batik Lasem juga menjadi penopang ekonomi masyarakat lokal. Sejak masa kolonial, batik Lasem telah diperdagangkan ke berbagai daerah di Nusantara hingga mancanegara.
Meski sempat mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi dan gempuran tekstil modern, geliat Batik Lasem kembali bangkit dalam dua dekade terakhir. Dukungan komunitas, pelaku UMKM, hingga promosi budaya menjadikan batik ini kembali diminati pasar nasional dan internasional.
Pengakuan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO semakin memperkuat posisi Batik Lasem sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.
Tantangan Pelestarian di Era Modern
Di tengah meningkatnya minat pasar, tantangan tetap membayangi. Regenerasi perajin, keterbatasan bahan baku alami, hingga persaingan produk tekstil massal menjadi pekerjaan rumah bersama.
Pemerintah daerah, komunitas budaya, dan pelaku industri kreatif didorong untuk terus bersinergi agar Batik Lasem tidak hanya bertahan sebagai simbol sejarah, tetapi juga berkembang sebagai produk budaya unggulan Indonesia.
Editor : Redaksi