Jakarta, MEMANGGIL.CO - Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama tepat di awal bulan Ramadhan 1447 H. Ketua Umum PP Fatayat NU sekaligus Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah, meninggal dunia pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB setelah beberapa hari menjalani perawatan di RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Kabar kepergian beliau disampaikan langsung oleh sang suami, KH Abdullah Masud.

Perempuan yang akrab disapa Ning Margaret ini bukan nama asing di kalangan organisasi Islam Indonesia. Beliau merupakan salah satu keturunan keluarga pendiri Nahdlatul Ulama dari jalur KH Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang.

Darah perjuangan mengalir kuat dalam dirinya, dan itu tercermin nyata dalam setiap langkah yang beliau tapaki semasa hidup.

Jenazah almarhumah disholatkan terlebih dahulu di PBNU pada pukul 12.00 WIB, sebelum kemudian diberangkatkan menuju pemakaman keluarga di Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Ribuan warga NU dari berbagai penjuru turut mengiringi kepergian beliau dengan doa dan air mata.

Semasa hidupnya, Ning Margaret dikenal sebagai sosok aktivis yang tidak pernah berhenti bersuara, terutama untuk isu-isu yang menyangkut perempuan dan anak. Baginya, diam bukan pilihan.

Dalam pandangannya, perempuan Muslim Indonesia harus mengambil peran sebagai arsitek perubahan di tengah berbagai tantangan zaman yang terus berkembang.

Ning Margaret juga dikenal vokal menyoroti berbagai tantangan global yang dihadapi perempuan, mulai dari ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, hingga kerentanan perempuan terhadap kekerasan berbasis digital. Karena itulah beliau mendorong perempuan Muslim untuk memiliki tiga kekuatan utama yang saling melengkapi.

Sate Pak Rizki

Kekuatan pertama adalah intelektual, agar perempuan mampu membaca zaman dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

Kedua adalah kekuatan spiritual-moral, untuk menjaga nilai dan akhlak di tengah derasnya arus informasi.

Dan ketiga adalah solidaritas serta kepemimpinan sosial. Tiga pilar yang beliau yakini sebagai bekal perempuan Muslim menghadapi dunia yang terus berubah.

Kepergian Ning Margaret di bulan Ramadan menjadi duka yang terasa berat, namun juga menyimpan kemuliaan tersendiri. Berpulang di bulan penuh rahmat, di hari Ahad yang tenang, setelah menorehkan begitu banyak jejak kebaikan adalah cara pergi yang indah bagi seorang pejuang.

Selamat jalan, Ning Margaret. Semoga segala amal dan perjuangan yang telah engkau curahkan diterima di sisi Allah SWT, dan semoga engkau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.