Blora, MEMANGGIL.CO - Polemik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) versi Ramadan memicu kritik tajam dari Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Blora, Drs. Subroto. Masalah yang timbul, salah satunya di SPPG Jepon 1 Seso, membuatnya menilai program ini lebih mengutamakan bisnis daripada manfaat masyarakat.

“Satu kata, program MBG murni bisnis, mas. Dan tidak mau terima kritik,” tegas Subroto, Rabu (4/3/2026) melalui WhatsApp.

Politisi PDIP yang akrab disapa Mbah Broto ini menekankan bahwa MBG merupakan program Presiden, sehingga tidak seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis atau mencari keuntungan semata.

Menurutnya, program publik seperti ini seharusnya terbuka terhadap kritik dan masukan dari penerima manfaat.

“Sampai hari ini, masukan yang kami terima, pihak SPPG/MBG belum bisa menerima saran dari masyarakat, cenderung diabaikan,” ujarnya.

Mbah Broto juga mengungkapkan bahwa meskipun sebagian masyarakat menerima program ini, penerimaan itu biasanya terjadi karena terpaksa.

Ia bahkan menyarankan bahwa program MBG lebih baik digantikan dengan program pendidikan gratis, yang dampaknya lebih langsung dirasakan.

Selain itu, ia mengkritik kualitas barang yang disuplai.

“Supplier karena kontrak, akibatnya hanya sekadar memenuhi kontrak, tidak memperhatikan kualitas barang. Pihak SPPG pun tidak berani atau bisa menolak barang tersebut,” lanjutnya.

Sate Pak Rizki

Kritikan lain datang terkait pelaksanaan MBG di bulan Ramadan. Menurut Mbah Broto, menu yang diberikan saat puasa terkesan dipaksakan dan tidak sesuai kebutuhan masyarakat.

“Menu bulan puasa juga sangat luar biasa menunya. Menu yang dipaksakan,” ujarnya.

Penjelasan Kepala SPPG Jepon 1 Seso

Menanggapi kritik, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jepon 1 Seso, Sutarno, menyampaikan adanya miskomunikasi antara pihak SPPG dan supplier.

“Itu kesalahan lebih ke pemesanan dan supplier, miskomunikasi terkait pemesanannya. Sebelumnya itu paha, tapi yang datang ayam utuh-an dan tidak sesuai pesanan,” jelas Sutarno, Selasa (3/3/2026).

Lebih lanjut, persoalan ini bukan hanya terjadi pada potongan ayam, tetapi sebelumnya juga sempat terjadi pada beberapa hari lain, termasuk ditemukannya buah yang tidak layak konsumsi saat proses pemorsian.