Surabaya,MEMANGGIL CO  –Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap stabil meski pasar global kembali diguncang oleh eskalasi konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS).

Fondasi domestik dinilai cukup kuat untuk meredam dampak risiko eksternal pada awal 2026.

Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) pada 25 Februari 2026, OJK mencatat perlambatan ekonomi AS menjadi salah satu pemicu gejolak global.

Ekonomi Negeri Paman Sam hanya tumbuh 1,4 persen (qtq) pada kuartal IV-2025, memperkuat tren suku bunga tinggi dalam jangka lebih lama (higher for longer).

Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi Indonesia justru menunjukkan performa solid. Pertumbuhan nasional sepanjang 2025 tercatat 5,11 persen, sementara aktivitas manufaktur tetap ekspansif hingga awal 2026.

“Fondasi domestik kita masih cukup kuat untuk meredam risiko global, meski tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda,” tulis OJK dalam laporannya di kutip, Kamis (5/3/2026).

Pasar Modal Domestik Stabil

Pasar saham domestik mulai menunjukkan stabilisasi pada Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 8.235,49 per 27 Februari.

Rerata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp25,62 triliun, konsisten di atas Rp20 triliun. Tekanan jual asing juga melandai signifikan dengan net sell hanya Rp0,36 triliun di bulan Februari, jauh menurun dibanding Januari yang mencapai Rp9,88 triliun.

Sate Pak Rizki

Jumlah investor pasar modal terus meningkat, naik 12,34 persen (ytd) menjadi 22,88 juta orang. Volatilitas pasar tidak menyurutkan minat investasi domestik. Industri pengelolaan investasi mencatat pertumbuhan positif dengan Asset Under Management (AUM) Rp1.115,71 triliun, naik 7 persen year-to-date. Sektor reksa dana bahkan mencatat net subscription Rp43,12 triliun sepanjang awal tahun ini.

Hingga akhir Februari 2026, korporasi masih aktif menghimpun dana melalui pasar modal dengan total Rp39,09 triliun dari 32 penawaran umum.

OJK juga mencatat adanya pipeline sebanyak 25 rencana penawaran umum baru dengan nilai indikatif Rp16,83 triliun.

Waspada Gejolak Global

Memasuki Maret 2026, OJK mewaspadai potensi peningkatan volatilitas akibat memanasnya geopolitik Timur Tengah. OJK menegaskan akan terus memantau pergerakan pasar secara real-time dan berkoordinasi dengan Self-Regulatory Organization (SRO) untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan jika tekanan meningkat.

Meskipun Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap gejolak global, kombinasi fundamental ekonomi yang kuat dan respons kebijakan yang cepat diharapkan mampu menjaga stabilitas keuangan nasional sepanjang tahun berjalan.