Malang, MEMANGGIL.CO – Di tengah derasnya arus modernisasi, sejumlah tradisi lokal di Jawa Timur perlahan mulai tergerus zaman. Namun di beberapa wilayah pedesaan, ritual Tomboan Nawongso masih tetap dijaga sebagai warisan leluhur yang sarat makna spiritual dan sosial.
Tomboan Nawongso dikenal sebagai tradisi pengobatan sekaligus ritual tolak bala yang dilakukan secara turun-temurun. Istilah “tomboan” merujuk pada pengobatan, sementara “nawongso” dipahami sebagai upaya menyembuhkan gangguan yang diyakini bersumber dari unsur non-medis atau spiritual.
Biasanya, ritual ini digelar ketika seseorang mengalami sakit berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh meski telah menjalani pengobatan medis. Selain itu, Tomboan Nawongso juga dilakukan dalam konteks menjaga keselamatan desa dari mara bahaya, wabah, atau musibah yang dianggap sebagai gangguan tak kasatmata.
Prosesi ritual dipimpin oleh tokoh adat atau sesepuh desa yang dipercaya memiliki kemampuan spiritual. Rangkaian acara umumnya diawali dengan doa bersama, pembacaan mantra, hingga penyajian sesaji tertentu seperti bunga, air, dan makanan tradisional. Warga desa turut hadir sebagai bentuk solidaritas dan kebersamaan.
Tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa ritual ini bukan semata-mata praktik mistik, melainkan bagian dari kearifan lokal yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Ini warisan leluhur. Kami tidak menolak pengobatan medis, tetapi tradisi ini bagian dari doa dan ikhtiar batin,” ujar salah satu sesepuh desa.
Di era modern, praktik Tomboan Nawongso memang menghadapi tantangan. Generasi muda dinilai mulai kurang memahami makna filosofis di balik ritual tersebut. Namun demikian, sejumlah komunitas budaya berupaya mendokumentasikan dan mengenalkan kembali tradisi ini agar tidak punah.
Pengamat budaya menilai, pelestarian tradisi seperti Tomboan Nawongso penting sebagai identitas budaya daerah. Selain itu, ritual ini juga memiliki nilai sosial yang memperkuat gotong royong dan solidaritas masyarakat.
Meski tidak semua kalangan sepakat dengan praktik spiritual tersebut, Tomboan Nawongso tetap menjadi bagian dari khazanah budaya yang hidup di tengah masyarakat. Di antara modernitas dan tradisi, ritual ini berdiri sebagai pengingat bahwa akar budaya tidak mudah tercerabut begitu saja.
Editor : B. Wibowo