Jombang, MEMANGGIL.CO – Nama Wonosalam selama ini lebih dikenal sebagai kawasan wisata alam dan sentra durian di Kabupaten Jombang. Namun di balik udara sejuk dan hamparan perbukitan yang memeluk lereng Anjasmoro, tersimpan jejak sejarah panjang yang jarang terungkap ke publik.

Wonosalam bukan sekadar destinasi wisata. Kawasan ini menyimpan kisah lama tentang pertapaan, jalur pelarian pejuang, hingga titik-titik sakral yang membentuk identitas sosial masyarakatnya hingga kini.

Jejak Pertapaan dan Tradisi Spiritual di Lereng Anjasmoro

Secara geografis, Wonosalam berada di lereng Pegunungan Anjasmoro, kawasan yang sejak masa lampau dikenal sebagai wilayah pertapaan. Beberapa sumber lisan masyarakat menyebut adanya petilasan dan gua pertapaan yang diyakini sudah ada sejak era kerajaan-kerajaan Jawa Timur.

Cerita turun-temurun menyebut kawasan hutan Wonosalam pernah menjadi tempat menyepi para tokoh spiritual dan bangsawan yang menghindari konflik politik pada masa kerajaan. Meski minim catatan tertulis, keberadaan sejumlah situs petilasan dan tradisi selametan desa menjadi penanda kuat bahwa kawasan ini pernah memiliki peran spiritual penting.

Tradisi itu masih terasa hingga kini. Beberapa desa di Wonosalam masih menjaga ritual bersih desa dan sedekah bumi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan penjaga alam.

Jalur Sunyi Perjuangan Kemerdekaan

Di masa revolusi fisik 1945–1949, kawasan perbukitan Wonosalam disebut-sebut menjadi jalur strategis pergerakan pejuang. Medan yang sulit dijangkau kendaraan kolonial menjadikan wilayah ini relatif aman untuk konsolidasi.

Cerita para sesepuh desa menyebut, sejumlah laskar rakyat dan pejuang dari wilayah Jombang hingga Mojokerto kerap memanfaatkan hutan Wonosalam sebagai tempat persembunyian dan jalur penghubung antarkecamatan. Namun kisah ini jarang masuk dalam buku sejarah resmi.

Letaknya yang berbatasan dengan wilayah pegunungan membuat Wonosalam menjadi “jalur sunyi” dalam peta gerilya Jawa Timur. Tidak banyak monumen atau penanda sejarah yang menjelaskan peran tersebut, sehingga generasi muda nyaris tak mengenalnya.

Dari Hutan Produksi ke Sentra Durian

Sate Pak Rizki

Transformasi Wonosalam terjadi signifikan pada era 1970–1980-an ketika kawasan hutan produksi mulai dikelola masyarakat menjadi lahan perkebunan. Durian menjadi komoditas utama yang mengangkat nama Wonosalam hingga dikenal luas di Jawa Timur.

Menariknya, pengembangan durian ini bukan sekadar soal ekonomi. Banyak petani meyakini tanaman durian sudah lama tumbuh alami di kawasan tersebut sejak generasi terdahulu. Artinya, identitas Wonosalam sebagai kampung durian memiliki akar panjang yang jarang dikaji secara historis.

Festival durian yang kini rutin digelar sebenarnya menjadi simbol modernisasi dari warisan agraris lama yang telah hidup puluhan bahkan ratusan tahun.

Minim Dokumentasi, Kaya Ingatan Kolektif

Salah satu alasan sejarah Wonosalam jarang diketahui adalah minimnya dokumentasi tertulis. Sebagian besar cerita bertahan melalui ingatan kolektif masyarakat. Tanpa pencatatan serius, banyak jejak masa lalu berisiko hilang seiring waktu.

Padahal, dari sisi geografis dan kultural, Wonosalam memiliki posisi penting dalam peta sejarah Jombang. Kawasan ini menjadi penghubung antara dataran rendah dan wilayah pegunungan, sekaligus ruang aman di masa konflik.

Kini, ketika Wonosalam berkembang sebagai destinasi wisata alam dan agro, penggalian sejarah lokal menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Bukan hanya untuk romantisme masa lalu, tetapi sebagai fondasi identitas daerah.

Sejarah yang tidak dicatat akan perlahan memudar. Dan Wonosalam, dengan segala sunyi dan kabut paginya, menyimpan lebih banyak cerita daripada yang selama ini kita tahu.