Blora, MEMANGGIL.CO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blora sempat menjadi perhatian publik setelah beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan salah satu menu makanan yang diduga tidak layak konsumsi.
Video tersebut menunjukkan kotak makanan dengan lauk ikan bandeng dan tahu yang disebut sebagai bagian dari paket menu yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kamolan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Dalam rekaman itu tampak benda kecil pada salah satu bagian makanan yang oleh sebagian warganet diduga sebagai belatung. Video tersebut kemudian memicu kekhawatiran sejumlah masyarakat terkait kualitas makanan yang disalurkan dalam program MBG.
Menanggapi beredarnya video tersebut, pihak SPPG Kamolan memberikan klarifikasi sekaligus menjelaskan langkah penanganan yang telah dilakukan.
Asisten Lapangan SPPG Kamolan, Deni Eko Triono, menjelaskan bahwa menu yang menjadi sorotan adalah bandeng presto yang didistribusikan pada Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, bahan baku bandeng yang digunakan sebelumnya telah melalui proses pemeriksaan kualitas atau quality control (QC) saat tiba dari pemasok pada dini hari.
“Bandeng presto ini sudah melalui proses quality control saat bahan datang dari pemasok sekitar pukul 00.00 WIB pada tanggal 13 Maret 2026,” ujar Deni, Sabtu (14/3/2026).
Namun setelah proses distribusi dilakukan, pihaknya menerima laporan dari salah satu sekolah terkait adanya satu porsi makanan yang dinilai tidak layak dikonsumsi.
“Kami menerima laporan dari SD Muhammadiyah Blora bahwa ada satu porsi bandeng yang diduga tidak layak konsumsi. Atas laporan tersebut kami langsung melakukan pengecekan,” katanya.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan laporan tersebut berasal dari satu kelas dan hanya terkait satu porsi makanan. Meski demikian, pihak SPPG memutuskan untuk mengganti seluruh menu yang telah dibagikan kepada siswa di sekolah tersebut.
“Iya benar, laporan awal berasal dari satu wali murid. Namun untuk menghindari potensi masalah dan menjaga kenyamanan siswa serta orang tua, kami memutuskan mengganti seluruh menu untuk semua siswa,” tambahnya.
Sebanyak 395 porsi menu MBG kemudian diganti dan didistribusikan kembali kepada seluruh siswa SD Muhammadiyah Blora.
Evaluasi Rantai Pasok
Selain mengganti menu, SPPG juga melakukan evaluasi terhadap proses pengadaan bahan makanan, khususnya dari pihak pemasok.
Deni menegaskan pihaknya tidak akan ragu mengambil langkah tegas apabila ditemukan kelalaian dalam penyediaan bahan baku.
“Ini akan menjadi bahan evaluasi bagi supplier kami. Jika memang ada ketidaksesuaian atau kelalaian dalam menjaga kualitas bahan, tentu kerja sama bisa kami tinjau kembali,” tegasnya.
Ia menambahkan langkah cepat tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab agar program MBG tetap berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Sekolah Apresiasi Respons Cepat
Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah Blora, Puji Lestari, mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan pihak SPPG dalam merespons laporan yang masuk dari sekolah.
Ia menyebutkan penggantian menu dilakukan secara menyeluruh meski laporan awal hanya berkaitan dengan satu porsi makanan.
“Kami dari pihak sekolah menyampaikan terima kasih kepada SPPG atas respons cepat terhadap laporan yang kami sampaikan,” kata Puji.
Menurutnya, setelah menu diganti, para wali murid dapat menerima penanganan tersebut dengan baik. Namun mereka juga berharap kualitas menu dapat terus ditingkatkan.
“Beberapa wali murid juga memberikan masukan agar ke depan seleksi bahan makanan bisa lebih diperketat dan kualitas menu terus ditingkatkan,” ujarnya.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan berlapis dalam proses penyediaan makanan dalam program MBG, mulai dari pengadaan bahan baku hingga distribusi kepada penerima manfaat.
Editor : B. Wibowo