Jakarta, MEMANGGIL.CO - Idul Fitri bukan hanya tentang hari libur atau berkumpul bersama keluarga. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah momen kembali ke fitrah, kembali menjadi pribadi yang lebih bersih setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan, Jumat (20/3/2026).
Secara makna, Idul Fitri berarti kembali kepada kesucian. Ini menjadi simbol bahwa setiap Muslim diberi kesempatan untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya.
Sejarah Idul Fitri sendiri sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Saat itu, Nabi mengganti tradisi perayaan masyarakat Arab dengan dua hari raya yang lebih bermakna, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan dengan yang lebih baik…” (HR. Abu Dawud)
Di hari yang istimewa ini, umat Muslim dianjurkan memperbanyak takbir, memakai pakaian terbaik, dan saling mengucapkan doa. Salah satu ucapan yang dianjurkan adalah:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Artinya: Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian.
Tradisi saling memaafkan juga menjadi bagian penting dari Idul Fitri, terutama dengan orang terdekat kita. Ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi memiliki makna mendalam untuk memperbaiki hubungan dan mempererat silaturahmi.
Di era sekarang, perayaan Idul Fitri memang semakin beragam, mulai dari kirim pesan hingga unggahan di media sosial. Hal ini tidak salah, selama tidak menghilangkan makna utamanya, yaitu kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur.
Yang tak kalah penting, semangat Ramadan seharusnya tidak berhenti setelah Idul Fitri. Kebiasaan baik seperti sholat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, dan menjaga sikap harus tetap dilanjutkan.
Sebagaimana sabda Nabi:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari)
Idul Fitri bukanlah akhir, melainkan awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.
Editor : Redaksi