Blora, MEMANGGIL.CO - Setiap tahun, tujuh hari setelah Idulfitri, masyarakat Jawa kembali merayakan tradisi yang tak kalah menarik, yaitu Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat, Kamis (26/3/26).
Kehangatan kampung kembali terasa dengan aroma opor ayam, sayur lodeh dan anyaman janur yang berisikan nasi disetiap rumah-rumah.
Lebaran Ketupat bukan sekadar perayaan biasa, melainkan tradisi turun-temurun yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini tetap bertahan hingga sekarang dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa.
Dalam tradisi Jawa, bulan Syawal memiliki dua momen penting, yaitu Idulfitri pada 1 Syawal dan Lebaran Ketupat pada hari kedelapan Syawal. Perayaan kedua ini biasanya dilakukan setelah menjalankan puasa sunah enam hari.
Tokoh penting di balik tradisi ini adalah Sunan Kalijaga, yang dikenal menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya tepatnya di daerah Tuban, Jawa Timur. Ia memperkenalkan ketupat sebagai media dakwah yang sederhana namun penuh makna.
Ketupat bukan hanya makanan, tetapi juga simbol kehidupan. Dalam bahasa Jawa, ketupat diartikan sebagai “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.
Anyaman janur yang rumit melambangkan kesalahan manusia yang saling berkaitan. Sementara nasi putih di dalamnya menggambarkan hati yang kembali bersih setelah saling memaafkan.
Selain itu, janur juga dimaknai sebagai “jatining nur” atau cahaya sejati. Artinya, manusia yang telah bersih dari kesalahan akan memancarkan kebaikan dalam hidupnya.
Tradisi ini juga berkaitan dengan anjuran puasa enam hari di bulan Syawal, sebagaimana hadis berikut:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ
الدَّهْرِ
"Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti ia berpuasa sepanjang tahun."
(HR. Muslim)
Dalam tradisi ini, masyarakat biasanya membuat ketupat bersama, lalu saling berbagi dengan tetangga dan keluarga. Kebersamaan inilah yang membuat tradisi ini terasa hangat dan penuh makna.
Meski zaman terus berubah, Lebaran Ketupat tetap bertahan dan bahkan semakin dikenal, termasuk di media sosial. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya yang penuh nilai kebaikan akan selalu hidup di tengah masyarakat.
Editor : Redaksi