Kiblat Papat Limo Pancer, Filosofi Mendalam di Balik Empat Sudut Ketupat Lebaran

Reporter : Nugraheni Tri Cahyaningtyas
Lebaran Ketupat dan Filosofi Ngaku Lepat (Foto: Pinterest.com)

Blora, MEMANGGIL.CO - Setiap Lebaran, ketupat hampir selalu hadir di meja makan masyarakat Jawa, Kamis (26/3/2026). Namun, tidak banyak yang benar-benar memahami bahwa makanan sederhana ini menyimpan pesan kehidupan yang sangat dalam.

Ketupat bukan sekadar pelengkap opor ayam atau sayur lodeh. Sejak dulu, ia menjadi simbol tradisi yang sarat makna dan bagian dari dakwah budaya dari Sunan Kalijaga yang mudah diterima masyarakat.

Dalam bahasa Jawa, kata “ketupat” berasal dari istilah ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini selaras dengan momen Lebaran sebagai waktu untuk saling memaafkan dan memperbaiki diri. Anyaman janur pada ketupat yang terlihat rumit juga bukan tanpa arti. Anyaman tu melambangkan kesalahan dan dosa manusia yang saling terjalin dalam kehidupan sehari-hari.

Namun ketika ketupat dibelah, di dalamnya terdapat nasi putih yang bersih. Ini menjadi simbol bahwa hati manusia bisa kembali suci jika mau mengakui kesalahan dan saling memaafkan dengan tulus.

Filosofi lain yang tak kalah penting adalah “kiblat papat limo pancer”.

Empat sudut ketupat melambangkan arah mata angin, sementara pusatnya melambangkan Tuhan sebagai pusat kehidupan.

Pesan ini mengingatkan bahwa dalam menjalani hidup, manusia boleh bergerak ke mana saja, tetapi tetap harus menjadikan Tuhan sebagai tujuan utama.

Janur sebagai pembungkus ketupat juga memiliki arti tersendiri. Dalam filosofi Jawa, janur dimaknai sebagai "jatining nur" atau cahaya sejati, yaitu hati yang bersih dan penuh kebaikan.

Selain itu, ada konsep “luberan” yang berarti berbagi. Tradisi saling memberi ketupat kepada tetangga dan keluarga menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan. Ada pula makna “leburan”, yaitu harapan agar segala dosa dan kesalahan dapat dihapus. Ini menjadi inti dari semangat Lebaran yang sesungguhnya.

Dengan berbagai makna tersebut, ketupat sebenarnya bukan hanya makanan, tetapi juga pengingat tentang perjalanan hidup manusia. Dari mengakui kesalahan, kembali kepada Tuhan, hingga berbagi dengan sesama.

Karena itu, Lebaran Ketupat bukan sekadar tradisi makan bersama. Ia adalah ajakan untuk kembali membersihkan hati dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru