Surabaya, MEMANGGIL.CO – Dua tokoh musik nasional, Once Mekel dan Bimbim Slank, memberikan kritik tajam terhadap tata kelola industri kreatif dan kondisi sosial di Indonesia dalam diskusi Dialog Kebangsaan di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu, 9 Mei 2026.
Isu sentral yang diangkat meliputi kerumitan royalti musik, regulasi hak cipta, hingga konsistensi kritik sosial melalui karya seni.
Once Mekel, yang kini menjabat sebagai Anggota Komisi X DPR RI Bidang Kebudayaan dan Kesenian menyampaikan komitmennya untuk memperkuat regulasi hak cipta selama masa jabatannya.
Fokus utama yang sedang digarap adalah pengusulan RUU Hak Cipta untuk mengakhiri konflik antara pencipta lagu dan pengguna karya di ruang publik.
"Fokus utamanya adalah memberikan pengaturan rasio pembayaran royalti di setiap tempat usaha, baik toko maupun kafe. Tujuannya mengakhiri perselisihan melalui aturan yang transparan," kata Once, Sabtu, 9 Mei 2026.
Ia mengungkapkan, posisinya di parlemen merupakan tanggung jawab untuk menjadi jembatan bagi seluruh pelaku seni, mulai dari musisi, pegiat film, hingga sastrawan, guna mendapatkan kepastian hukum atas karya-karya mereka.
Di sisi lain, pendiri band Slank, Bimbim, menyoroti fenomena masuknya arus musik global seperti K-Pop ke pasar domestik.
Menurutnya, dominasi musik luar negeri bukan menjadi ancaman, melainkan pemicu inovasi bagi musisi lokal untuk mengeksplorasi kekayaan budaya Indonesia yang melimpah.
"Budaya kita itu lengkap banget dan banyak yang bisa dieksplorasi. Justru K-Pop atau musik dunia membuat kita lebih berpacu, bersaing, dan terinspirasi," teang Bimbim.
Selain isu industri, Bimbim juga menekankan moralitas dan kepedulian terhadap ketimpangan sosial.
Ia menambahkan, Band Slank akan tetap konsisten membawa pesan-pesan lingkungan hidup, kritik sosial, dan gerakan anak muda dalam karya-karya mereka sebagai respon atas kondisi masyarakat saat ini.
Kedua musisi ini sepakat bahwa merosotnya standar moralitas dan pendidikan menjadi tantangan besar bagi bangsa. Melalui posisi di Komisi X,
Once juga menekankan, penguatan kebudayaan harus berjalan beriringan dengan perbaikan sistem pendidikan untuk menciptakan generasi muda yang memiliki karakter kuat di tengah derasnya arus globalisasi.