Monika Aveline Jasmine, Siswi SMATAG Surabaya Raih Juara 2 Monolog FLS3N

Reporter : Saputra
Siswi kelas XI-3 SMATAG Surabaya, Monika Aveline Jasmine . (Saputra/Memanggil.co)

Surabaya, MEMANGGIL.CO - Siswi Sekolah Menengah Atas 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya, Monika Aveline Jasmine berhasil meraih Juara 2 pada ajang Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) bidang monolog tingkat Surabaya. 

Melalui penampilannya membawakan monolog berjudul Aliran DOA dan DOSA, Siswi kelas XI-3 ini mengangkat tema ketidakadilan sosial dan kerusakan lingkungan. 

Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional merupakan kompetisi seni tahunan bergengsi yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan untuk menggali bakat dan kreativitas siswa di berbagai bidang seni dan sastra. 

Dalam pelaksanaannya, ajang ini mencakup berbagai cabang lomba, seperti tari, musik, teater, seni rupa, hingga sastra. 

Kompetisi yang berlangsung pada 30 April 2026 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya tersebut menjadi pengalaman baru bagi Aveline, mengingat bidang monolog merupakan kompetisi seni peran pertama yang ia ikuti. 

Dalam penampilannya, Aveline memerankan tokoh Nyai Ronggeng yang menggambarkan penderitaan para kuli pada masa kolonial yang dipaksa bekerja keras demi kemakmuran penjajah. 

Tidak hanya menyoroti penindasan di masa lalu, monolog tersebut juga menyampaikan pesan bahwa ketidakadilan masih terus terjadi hingga saat ini dalam bentuk berbeda, salah satunya melalui perilaku manusia yang merusak lingkungan, khususnya Sungai Kalimas. 

Secara keseluruhan, monolog yang dibawakan Aveline menggambarkan dosa masa lalu berupa penindasan manusia dan dosa masa kini berupa perusakan alam yang terus mengalir layaknya sungai. 

Sebelum tampil di perlombaan, Aveline menjalani latihan intensif selama dua minggu bersama guru pendamping dan pelatih monolog khusus. 

Dalam proses persiapan tersebut, ia dibimbing untuk mendalami karakter, melatih emosi, intonasi suara, teknik pernapasan, hingga olah tubuh yang menjadi elemen penting dalam penampilan monolog. 

Aveline mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan mengikuti lomba monolog karena selama ini lebih fokus pada bidang tari. 

Kesempatan tersebut datang setelah dirinya dipilih oleh guru pendamping untuk mewakili sekolah.

“Lebih ke plot twist sih, awalnya saya sempat ragu karena selama ini hanya menekuni bidang tari. Tapi setelah dipikir-pikir, kapan lagi mencoba hal baru,” kata Aveline, Senin (11/05/2026).

Ia juga mengaku cukup terkejut dengan proses latihan yang jauh lebih berat dari perkiraannya. Menurutnya, monolog bukan sekadar menghafal dialog, tetapi juga membutuhkan penghayatan emosi, pengolahan tubuh, serta pengaturan suara secara maksimal. 

Setelah melalui tahap pengambilan video seleksi, Aveline berhasil masuk 10 besar dan melanjutkan ke tahap berikutnya secara langsung. 

Pada final yang dilaksanakan secara offline di STIESIA, ia kembali tampil maksimal hingga akhirnya berhasil membawa pulang Juara 2. 

Selain bidang monolog, SMATAG Surabaya juga mengirimkan beberapa peserta untuk mengikuti cabang lomba lain dalam FLS3N, seperti vokal solo, band, puisi, dan beberapa kategori lainnya.

Keikutsertaan tersebut menjadi bentuk dukungan sekolah dalam mengembangkan potensi seni dan kreativitas peserta didik di berbagai bidang. 

Meski berhasil meraih prestasi membanggakan, Aveline mengaku awalnya hanya ingin mencari pengalaman baru melalui kompetisi tersebut. 

Ia bahkan sempat berpikir tidak ingin lolos karena harus kembali menjalani latihan yang lebih berat. 

“Harapan saya ke depannya semoga saya bisa lebih percaya diri dengan kemampuan yang saya miliki dan terus mengasah kemampuan tersebut,” jelasnya. 

Sementara itu, Maharani Dhinda Ganes Wahyuningtyas, S.Pd., yang menjadi guru pendamping Aveline mengaku, bahwa perannya lebih sebagai pendamping karena dirinya bukan berasal dari fokus seni monolog. 

“Awalnya memang hanya coba-coba mengikuti lomba ini, tetapi ternyata saya tidak salah memilih siswa. Aveline memiliki pemahaman yang baik sehingga proses latihannya bisa berjalan lebih cepat meskipun persiapannya hanya dua minggu,” ungkapnya. 

Ia berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus mencoba dan mengembangkan potensi yang dimiliki. 

"Saya juga berpesan agar para siswa tidak mudah menyerah ketika belum berhasil meraih juara, karena setiap proses akan memberikan hasil terbaik pada waktunya," pungkas Maharani.

Editor : B. Wibowo

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru