Blora, MEMANGGIL.CO - Luka yang dialami Asyik Nurdiansyah bukan sekadar rasa sakit sesaat. Pemain keyboard asal Dukuh Karanglegi, Desa Patalan, Kecamatan Blora itu harus menjalani visum setelah menjadi korban pengeroyokan di sebuah hajatan di Dukuh Sukorame, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan.
Sehari setelah peristiwa yang videonya viral di media sosial itu, Asyik akhirnya mengungkap kondisi yang dialaminya usai menjadi sasaran amukan massa di atas panggung.
Baca juga: Polres Blora Gelar Turnamen Mobile Legends Antar Pelajar, Pendaftaran Gratis dengan Hadiah Rp4 Juta
Dengan nada suara yang masih terdengar lemah, korban menceritakan bagian tubuh mana saja yang mengalami luka akibat pengeroyokan tersebut.
"Saya luka memar-memar di atas alis mata sama hidung. Tadi malam keluar darah. Terus luka di kepala atas ada sekitar tiga titik," ungkap Asyik kepada Memanggil.co, Sabtu (13/6/2026).
Pengakuan itu menambah daftar fakta baru dalam kasus yang menyita perhatian publik Blora tersebut. Sebelumnya, Asyik mengaku insiden bermula ketika keyboard yang sedang dimainkannya tersenggol seorang penonton yang diduga dalam kondisi mabuk hingga nyaris terjatuh.
Saat itu, ia mengaku hanya bermaksud mengecek kondisi alat musiknya agar tetap bisa digunakan untuk melanjutkan pekerjaan. Namun, situasi justru berubah ricuh hingga berujung pengeroyokan.
Tak ingin persoalan tersebut berhenti sebagai video viral semata, korban mengaku langsung menempuh jalur hukum.
"Tadi malam sudah langsung laporan dan melakukan visum," katanya.
Baca juga: Pengedar Obat Keras Dibekuk Polisi di Tengah Kota Blora, Ribuan Pil Disita dari Balik Jok Motor
Asyik juga menyebut bahwa hajatan tempat dirinya manggung diketahui atas nama seseorang bernama Joni.
Laporannya tersebut telah disampaikan ke Polsek Tunjungan untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Sebagai korban, Asyik berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas kasus yang menimpanya dan memberikan tindakan tegas kepada para pelaku.
"Harapannya saya sebagai korban, pelaku diberikan efek jera," tegasnya.
Baca juga: Pemkab Blora Hibahkan 8,7 Hektare Lahan untuk Kampus UNY
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa korban tidak hanya mencari keadilan bagi dirinya sendiri, tetapi juga berharap kejadian serupa tidak kembali dialami pekerja seni lainnya.
Publik menanti langkah konkret aparat penegak hukum. Sebab, bagi Asyik, luka memar mungkin akan sembuh seiring waktu. Namun, rasa takut dan trauma karena dihajar beramai-ramai saat sedang mencari nafkah, bisa jadi membekas lebih lama.
Editor : Redaksi